Kado HUT RI Ke-77 Telkom Siap Luncurkan Second Gateway Internasional Kedua di Manado

PT Telkom Indonesia melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) akan meluncurkan second gateway internasional kedua di Indonesia setelah Batam, pada Rabu (20/7).  

Second gateway Manado akan menjadikan Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lokomotif IT untuk kawasan Indonesia Timur sekaligus menjadi kado Hut Kemerdekaan RI Ke-77 sebagai wujud kemerdekaan digital di Indonesia.

Hal itu disampaikan Komisaris Utama Telin, Bogi Witjaksono di acara Coffee Morning dengan tajuk “Lebih Dekat Bersama PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin)” di Daun Muda Soulfood by Peresthu, Jakarta Senin (18/7).

“Bisnis Telkom tidak hanya menangani domestik, tapi kita memperluas bisnis ke internasional. Karena secara demografi penduduk Indonesia cukup padat dan itu menjadi incaran para pelaku bisnis digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi digital. Dengan launching Second Gateway Manado, bisa memacu percepatan ekonomi digital di Indonesia Timur,” kata Bogi kepada awak media.

Dalam paparannya, Bogi menjelaskan, traffic telekomunikasi di Indonesia saat ini mencapai 90% mengarah ke wilayah barat, yakni Batam dan Singapura. Setelah itu, baru dari Batam dan Singapura dilanjutkan ke internasional. 

“Pusat konektivitas saat ini hanya terjadi di wilayah barat. Sedangkan, di wilayah timur masih belum seaktif di wilayah timur Indonesia. Sehingga untuk membawa lalu lintas traffic digital dari timur menuju barat ini masih terkendala,” terangnya. 

Selain itu, lanjut Bogi, biaya yang dibutuhkan untuk membangun traffic dari timur ke barat juga ada tambahan. Kenapa, karena menambah kapasitas traffic ini dari timur ke barat. Oleh karena itu, kata Bogi, Indonesia membutuhkan pintu keluar dan masuk informasi yang sifatnya mendorong ekonomi digital. 

“Makanya kita membangun satu pintu lagi, yakni Gateway di wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki purpose menaikkan ekonomi digital,” tuturnya.

Ia menyebutkan, saat ini Telin sudah memiliki konektivitas dari Manado kabel laut sampai dengan Amerika, bahkan sampai Hong Kong, Timor Leste, Australia, Malaysia, dan Myanmar.

“Dengan konektivitas tersebut, artinya pintu timur sudah ada. Tidak perlu lagi ke Eropa dan Singapura. Kalau di situ ada gateway, pelaku industri pasti menuju ke sana dan mendorong ekonomi digital di wilayah Indonesia timur. Termasuk mendukung ibu kota baru di Kalimantan Timur,” katanya.

Chief Executive Officer Telin, Budi Satria Dharma Purba menambahkan, Gateway Manado dibangun oleh konsorsium yang melibatkan anak usaha Telkom, yakni Telin dengan sejumlah perusahaan telekomunikasi global.

Selain Telin, anggota konsorsium adalah Globe Telecom, RAM Telecom International (RTI), Hawaiian Telcom, Teleguam Holdings (GTA), GTI Corporation, dan Telekomunikasi Indonesia International (Telkom USA). 

“Kementerian BUMN sangat mendukung pembangunan Gateway Manado dan juga didukung oleh sejumlah perusahaan telekomunikasi global,” pungkasnya.■ 

]]> PT Telkom Indonesia melalui anak usahanya, PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) akan meluncurkan second gateway internasional kedua di Indonesia setelah Batam, pada Rabu (20/7).  

Second gateway Manado akan menjadikan Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lokomotif IT untuk kawasan Indonesia Timur sekaligus menjadi kado Hut Kemerdekaan RI Ke-77 sebagai wujud kemerdekaan digital di Indonesia.

Hal itu disampaikan Komisaris Utama Telin, Bogi Witjaksono di acara Coffee Morning dengan tajuk “Lebih Dekat Bersama PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin)” di Daun Muda Soulfood by Peresthu, Jakarta Senin (18/7).

“Bisnis Telkom tidak hanya menangani domestik, tapi kita memperluas bisnis ke internasional. Karena secara demografi penduduk Indonesia cukup padat dan itu menjadi incaran para pelaku bisnis digital sebagai sumber pertumbuhan ekonomi digital. Dengan launching Second Gateway Manado, bisa memacu percepatan ekonomi digital di Indonesia Timur,” kata Bogi kepada awak media.

Dalam paparannya, Bogi menjelaskan, traffic telekomunikasi di Indonesia saat ini mencapai 90% mengarah ke wilayah barat, yakni Batam dan Singapura. Setelah itu, baru dari Batam dan Singapura dilanjutkan ke internasional. 

“Pusat konektivitas saat ini hanya terjadi di wilayah barat. Sedangkan, di wilayah timur masih belum seaktif di wilayah timur Indonesia. Sehingga untuk membawa lalu lintas traffic digital dari timur menuju barat ini masih terkendala,” terangnya. 

Selain itu, lanjut Bogi, biaya yang dibutuhkan untuk membangun traffic dari timur ke barat juga ada tambahan. Kenapa, karena menambah kapasitas traffic ini dari timur ke barat. Oleh karena itu, kata Bogi, Indonesia membutuhkan pintu keluar dan masuk informasi yang sifatnya mendorong ekonomi digital. 

“Makanya kita membangun satu pintu lagi, yakni Gateway di wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki purpose menaikkan ekonomi digital,” tuturnya.

Ia menyebutkan, saat ini Telin sudah memiliki konektivitas dari Manado kabel laut sampai dengan Amerika, bahkan sampai Hong Kong, Timor Leste, Australia, Malaysia, dan Myanmar.

“Dengan konektivitas tersebut, artinya pintu timur sudah ada. Tidak perlu lagi ke Eropa dan Singapura. Kalau di situ ada gateway, pelaku industri pasti menuju ke sana dan mendorong ekonomi digital di wilayah Indonesia timur. Termasuk mendukung ibu kota baru di Kalimantan Timur,” katanya.

Chief Executive Officer Telin, Budi Satria Dharma Purba menambahkan, Gateway Manado dibangun oleh konsorsium yang melibatkan anak usaha Telkom, yakni Telin dengan sejumlah perusahaan telekomunikasi global.

Selain Telin, anggota konsorsium adalah Globe Telecom, RAM Telecom International (RTI), Hawaiian Telcom, Teleguam Holdings (GTA), GTI Corporation, dan Telekomunikasi Indonesia International (Telkom USA). 

“Kementerian BUMN sangat mendukung pembangunan Gateway Manado dan juga didukung oleh sejumlah perusahaan telekomunikasi global,” pungkasnya.■ 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories