Junta Perintahkan Dokter Internasional Stop Beroperasi, Myanmar Terancam Penularan TBC Dan HIV

Junta militer memerintahkan relawan dokter internasional dari Dokter Lintas Batas atau Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières/MSF) untuk menghentikan aktivitas mereka di selatan Myanmar. 

Berdasarkan keterangan MSF, pihaknya menjalankan program penanganan HIV di Dawei selama lebih dari dua dekade terakhir. Mereka menyayangkan keputusan junta ini. Perintah itu dikeluarkan via surat Rabu (9/6/2021).

“Menangguhkan kegiatan MSF dapat mengancam jiwa banyak pasien kami pada saat layanan publik sangat terganggu,” bunyi pernyataan MSF dikutip AFP, Rabu (9/6).

Hampir semua rumah sakit umum masih ditutup pasca kudeta Februari lalu. Kebanyakan dokter dan petugas medis Myanmar memilih ikut demo anti kudeta. Alhasil, layanan kesehatan di seluruh negeri lumpuh. 

MSFmenambahkan, mereka telah menghubungi pihak berwenang karena keputusan tersebut akan berdampak pada 2.162 orang yang hidup dengan HIV dan menerima pengobatan antiretroviral di kota tersebut. MSF juga memperingatkan bahaya penularan TBC. Mereka mengambil alih tugas dokter Myanmar dalam program TBC nasional setelah kudeta lalu.

Para dokter yang tergabung dalam misi MSF di Myanmar pun mendesak junta militer untuk mencabut keputusan tersebut. Palang Merah Internasional mengatakan pihaknya segera meningkatkan tenaga medis untuk untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan 236.000 orang di Myanmar, yang sudah terhuyung-huyung dari pandemi COVID-19 di tengah pengaruh kudeta. [DAY]

]]> Junta militer memerintahkan relawan dokter internasional dari Dokter Lintas Batas atau Doctors Without Borders (Médecins Sans Frontières/MSF) untuk menghentikan aktivitas mereka di selatan Myanmar. 

Berdasarkan keterangan MSF, pihaknya menjalankan program penanganan HIV di Dawei selama lebih dari dua dekade terakhir. Mereka menyayangkan keputusan junta ini. Perintah itu dikeluarkan via surat Rabu (9/6/2021).

“Menangguhkan kegiatan MSF dapat mengancam jiwa banyak pasien kami pada saat layanan publik sangat terganggu,” bunyi pernyataan MSF dikutip AFP, Rabu (9/6).

Hampir semua rumah sakit umum masih ditutup pasca kudeta Februari lalu. Kebanyakan dokter dan petugas medis Myanmar memilih ikut demo anti kudeta. Alhasil, layanan kesehatan di seluruh negeri lumpuh. 

MSFmenambahkan, mereka telah menghubungi pihak berwenang karena keputusan tersebut akan berdampak pada 2.162 orang yang hidup dengan HIV dan menerima pengobatan antiretroviral di kota tersebut. MSF juga memperingatkan bahaya penularan TBC. Mereka mengambil alih tugas dokter Myanmar dalam program TBC nasional setelah kudeta lalu.

Para dokter yang tergabung dalam misi MSF di Myanmar pun mendesak junta militer untuk mencabut keputusan tersebut. Palang Merah Internasional mengatakan pihaknya segera meningkatkan tenaga medis untuk untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan 236.000 orang di Myanmar, yang sudah terhuyung-huyung dari pandemi COVID-19 di tengah pengaruh kudeta. [DAY]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories