Jokowi Minta Proyek Hilirisasi Batubara Jadi DME Kelar 30 Bulan

Presiden Jokowi melakukan pelatakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan proyek hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Pembangunan ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah produk pertambangan batubara di dalam negeri.

Jokowi pun memerintahkan ke seluruh jajaran terkait agar memastikan proyek hilirasi DME ini bisa selesai dalam jangka waktu 30 bulan dan menjadi proyek percontohan untuk diaplikasikan di lokasi lain yang memiliki kelebihan deposit batubara. 

“Jangan ada mundur-mundur lagi, dan kita harapkan nanti setelah di sini selesai, dimulai lagi di tempat lain. Karena ini hanya bisa menyuplai Sumsel dan sekitarnya, kurang lebih 6 jutaan kepala keluarga. Karena kita memiliki deposit batu bara yang jauh dari cukup kalau hanya untuk urusan DME ini, sangat kecil,” ujar Jokowi dalam sambutannya peresmian pada proyek yang dikembangkan oleh PT Bukit Batubara, PT Pertamina, dan investor asal Amerika Serikat, Air Product, Senin (24/1).

Besarnya angka impor Liquified Natural Gas (LPG), ungkap Jokowi, menjadi perhatian khusus bagi pemerintah serta menjadi bahan pertimbangan lahirnya proyek DME. “Impor kita elpiji itu gede banget, mungkin Rp 80-an triliun dari kebutuhan Rp 100-an triliun. Impornya Rp 80-an triliun. Itu pun juga harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya juga sudah sangat tinggi sekali. Subsidinya antara Rp 60 sampai Rp 70 triliun,” beber Jokowi.

Jokowi menyoroti ketersediaan bahan baku yang minim pemanfaatan sebelum adanya proyek DME. “Kita ini yang punya row material batubara, tapi yang buka lapangan kerja malah negara lain. Bila proyek ini berproduksi mampu menekan subsidi dari APBN sekitar Rp 7 triliun. Apalagi kalau semua LPG sudah distop dan pindah ke DME, ini bisa memperbaiki necara dagang, neraca transaksi berjalan kita,” tambahnya.

Secara rinci, keberadaan proyek DME Tanjum Enim mampu menekan impor LPG hingga 1 juta ton/tahun dengan produksi DME 1,4 juta ton/tahun sehingga meningkatkan ketahanan energi nasional. Di samping itu, proyek DME mampu menyerap tenaga kerja sebesar 10.600 orang pada tahap konstruksi dan 8.000 orang pada tahap operasi.

Proyek ini juga menambah investasi asing hingga sekitar 2,1 miliar dolar AS untuk investasi awal yang dilakukan 100 persen oleh Air Product, serta menghemat cadangan devisa hingga Rp 9,14 triliun/tahun pada harga rata-rata LPG 637,3 dolar AS/MT.

“Kalau ada lima investasi seperti yang ada di hadapan kita ini 70 ribu lapangan pekerjaan akan tercipta, itu yang langsung. Yang tidak langsung biasanya dua sampai tiga kali lipat,” tegas Jokowi.

Pada acara peresmian tersebut, Jokowi didampingi Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. [DIT]

]]> Presiden Jokowi melakukan pelatakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan proyek hilirisasi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Pembangunan ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah produk pertambangan batubara di dalam negeri.

Jokowi pun memerintahkan ke seluruh jajaran terkait agar memastikan proyek hilirasi DME ini bisa selesai dalam jangka waktu 30 bulan dan menjadi proyek percontohan untuk diaplikasikan di lokasi lain yang memiliki kelebihan deposit batubara. 

“Jangan ada mundur-mundur lagi, dan kita harapkan nanti setelah di sini selesai, dimulai lagi di tempat lain. Karena ini hanya bisa menyuplai Sumsel dan sekitarnya, kurang lebih 6 jutaan kepala keluarga. Karena kita memiliki deposit batu bara yang jauh dari cukup kalau hanya untuk urusan DME ini, sangat kecil,” ujar Jokowi dalam sambutannya peresmian pada proyek yang dikembangkan oleh PT Bukit Batubara, PT Pertamina, dan investor asal Amerika Serikat, Air Product, Senin (24/1).

Besarnya angka impor Liquified Natural Gas (LPG), ungkap Jokowi, menjadi perhatian khusus bagi pemerintah serta menjadi bahan pertimbangan lahirnya proyek DME. “Impor kita elpiji itu gede banget, mungkin Rp 80-an triliun dari kebutuhan Rp 100-an triliun. Impornya Rp 80-an triliun. Itu pun juga harus disubsidi untuk sampai ke masyarakat karena harganya juga sudah sangat tinggi sekali. Subsidinya antara Rp 60 sampai Rp 70 triliun,” beber Jokowi.

Jokowi menyoroti ketersediaan bahan baku yang minim pemanfaatan sebelum adanya proyek DME. “Kita ini yang punya row material batubara, tapi yang buka lapangan kerja malah negara lain. Bila proyek ini berproduksi mampu menekan subsidi dari APBN sekitar Rp 7 triliun. Apalagi kalau semua LPG sudah distop dan pindah ke DME, ini bisa memperbaiki necara dagang, neraca transaksi berjalan kita,” tambahnya.

Secara rinci, keberadaan proyek DME Tanjum Enim mampu menekan impor LPG hingga 1 juta ton/tahun dengan produksi DME 1,4 juta ton/tahun sehingga meningkatkan ketahanan energi nasional. Di samping itu, proyek DME mampu menyerap tenaga kerja sebesar 10.600 orang pada tahap konstruksi dan 8.000 orang pada tahap operasi.

Proyek ini juga menambah investasi asing hingga sekitar 2,1 miliar dolar AS untuk investasi awal yang dilakukan 100 persen oleh Air Product, serta menghemat cadangan devisa hingga Rp 9,14 triliun/tahun pada harga rata-rata LPG 637,3 dolar AS/MT.

“Kalau ada lima investasi seperti yang ada di hadapan kita ini 70 ribu lapangan pekerjaan akan tercipta, itu yang langsung. Yang tidak langsung biasanya dua sampai tiga kali lipat,” tegas Jokowi.

Pada acara peresmian tersebut, Jokowi didampingi Menteri ESDM Arifin Tasrif, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung. [DIT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories