Jengkel Ke Moeldoko Kubu AHY : Seperti Kisah Wayang `Petruk Dadi Ratu`

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat kubu AHY, Willem Wandik menumpahkan kekesalannya dengan pernyataan Moeldoko soal adanya tarikan ideologis di internal Partai Demokrat.

“Bagaimana mungkin Partai Demokrat bisa disebut mengalami tarikan ideologis, padahal partai ini pernah dipimpin oleh 3 sekjen yang beragama Nasrani?,” tanya Willem.

Fakta lain tegas dia, adalah Gubernur Aceh maupun Gubernur Papua yang dipilih langsung oleh rakyat masing-masing, adalah kader Partai Demokrat.

“Pasti bukan tanpa alasan jika rakyat kedua provinsi yang latar belakangnya berbeda ini, sama-sama merasa nyaman dipimpin oleh kader Demokrat,” imbuhnya.

Willem mengaku sejak dulu ia merasa nyaman dalam rumah besar Partai Demokrat. Asasnya nasionalis-religius, mewadahi semua kepentingan yang ada di Indonesia.

“Saya ini asli Papua, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Sejak dulu, saya nyaman di Partai Demokrat,” tegasnya.

Sebelumnya, nama GMKI sempat dicatut oleh penyelenggara KLB ilegal untuk pemesanan tempat disebuah hotel di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Untuk itu, tegas Willem, tudingan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko tentang tarikan ideologis sungguh mengada-ada. Willem kemudian menyentil manuver Moeldoko.

Ia teringat dengan kisah pewayangan Jawa tentang “Petruk Dadi Ratu”. Kisah ini kata dia, sesungguhnya bercerita tentang orang yang tidak punya kapasitas dan integritas tapi kebelet menjadi raja.

Bagi Petruk, menjadi raja atau pemimpin itu adalah semata-mata tahta dan harta, bukannya amanah dan tanggung jawab.

“Siapa sangka pada abad 21 ini, kita melihat drama Petruk atau abdi dalem yang kebelet jadi pemimpin. Ia menggunakan segala cara untuk mencapai hasratnya, tidak peduli apakah dia harus terus berdusta, melanggar etika maupun hukum yang berlaku,” kata Willem.

Sebelumnya, Moeldoko mengatakan adanya kekisruhan di internal Partai Demokrat. Sehingga akhirnya menerima menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Mantan Panglima TNI ini menyebut adanya pertarungan ideologis di dalam partai berlogo bintang mercy menjelang Pemilu 2024. Sehingga ini adalah ancaman bagi Indonesia.

“Terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali, ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Moeldoko berujar adanya Kongres Luar Biasa (KLB) ini semata-mata bukan hanya menyelamatkan Partai Demokrat. Namun ada kepentingan yang lebih besar yakni menyelamatkan Indonesia.

“Ada kecenderungan tarikan ideologis itu terlihat di tubuh Demokrat, jadi ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat, tapi juga menyelamatkan bangsa,” ungkapnya. [FAZ]

]]> Wakil Ketua Umum Partai Demokrat kubu AHY, Willem Wandik menumpahkan kekesalannya dengan pernyataan Moeldoko soal adanya tarikan ideologis di internal Partai Demokrat.

“Bagaimana mungkin Partai Demokrat bisa disebut mengalami tarikan ideologis, padahal partai ini pernah dipimpin oleh 3 sekjen yang beragama Nasrani?,” tanya Willem.

Fakta lain tegas dia, adalah Gubernur Aceh maupun Gubernur Papua yang dipilih langsung oleh rakyat masing-masing, adalah kader Partai Demokrat.

“Pasti bukan tanpa alasan jika rakyat kedua provinsi yang latar belakangnya berbeda ini, sama-sama merasa nyaman dipimpin oleh kader Demokrat,” imbuhnya.

Willem mengaku sejak dulu ia merasa nyaman dalam rumah besar Partai Demokrat. Asasnya nasionalis-religius, mewadahi semua kepentingan yang ada di Indonesia.

“Saya ini asli Papua, Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Sejak dulu, saya nyaman di Partai Demokrat,” tegasnya.

Sebelumnya, nama GMKI sempat dicatut oleh penyelenggara KLB ilegal untuk pemesanan tempat disebuah hotel di Deli Serdang, Sumatera Utara.

Untuk itu, tegas Willem, tudingan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko tentang tarikan ideologis sungguh mengada-ada. Willem kemudian menyentil manuver Moeldoko.

Ia teringat dengan kisah pewayangan Jawa tentang “Petruk Dadi Ratu”. Kisah ini kata dia, sesungguhnya bercerita tentang orang yang tidak punya kapasitas dan integritas tapi kebelet menjadi raja.

Bagi Petruk, menjadi raja atau pemimpin itu adalah semata-mata tahta dan harta, bukannya amanah dan tanggung jawab.

“Siapa sangka pada abad 21 ini, kita melihat drama Petruk atau abdi dalem yang kebelet jadi pemimpin. Ia menggunakan segala cara untuk mencapai hasratnya, tidak peduli apakah dia harus terus berdusta, melanggar etika maupun hukum yang berlaku,” kata Willem.

Sebelumnya, Moeldoko mengatakan adanya kekisruhan di internal Partai Demokrat. Sehingga akhirnya menerima menjadi Ketua Umum Partai Demokrat.

Mantan Panglima TNI ini menyebut adanya pertarungan ideologis di dalam partai berlogo bintang mercy menjelang Pemilu 2024. Sehingga ini adalah ancaman bagi Indonesia.

“Terjadi pertarungan ideologis yang kuat menjelang 2024. Pertarungan ini terstruktur dan gampang dikenali, ini menjadi ancaman bagi cita-cita menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Moeldoko berujar adanya Kongres Luar Biasa (KLB) ini semata-mata bukan hanya menyelamatkan Partai Demokrat. Namun ada kepentingan yang lebih besar yakni menyelamatkan Indonesia.

“Ada kecenderungan tarikan ideologis itu terlihat di tubuh Demokrat, jadi ini bukan sekedar menyelamatkan Demokrat, tapi juga menyelamatkan bangsa,” ungkapnya. [FAZ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories