Jenderal Kudeta Myanmar Dijinakkan Di Jakarta Jokowi Dapat Wanginya

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN membahas kekerasan yang terjadi di Myanmar, yang digelar di Jakarta, telah berakhir. Panglima Junta Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing yang dikenal keras dan galak itu akhirnya berhasil dijinakkan. Presiden Jokowi sebagai tumah (tuan rumah) dan menginisiasi pertemuan itu pun, kecipratan wanginya.

Sejak konflik berdarah terjadi di Myanmar, Jokowi menjadi salah satu kepala negara yang paling keras bersuara. Pertengahan Maret lalu, Jokowi meminta negara-negara anggota ASEAN untuk menggelar konferensi guna membahas masalah kudeta militer Myanmar yang dipimpin langsung Jendral Ming Aun.

Bak gayung bersambut, permintaan Jokowi itu dikabulkan. KTT ASEAN digelar Sabtu (24/5) di Jakarta. Selain Jokowi selaku tuan rumah dan Sultan Brunei Bolkiah selaku Ketua ASEAN, empat pimpinan negara lain datang langsung ke Jakarta untuk menghadiri konferensi. Mereka adalah Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinch, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Bahkan, sosok yang dipersoalkan yakni Jenderal Min Aung, juga datang. Hanya Thailand, Filipina dan Laos, yang mengutus menteri luar negeri.

Dalam pertemuan bertajuk ASEAN Leaders’ Meeting (ALM) ini, Jokowi meminta Jenderal Min Aung melaksanakan tiga komitmen. Pertama, menghentikan kekerasan. Kedua, dialog yang inklusif harus dimulai. Tahanan politik harus segera dilepaskan. Terakhir, membuka akses bantuan kemanusiaan dari ASEAN.

Setelah bersidang selama beberapa jam, Ketua ASEAN, Sultan Hassanal Bolkiah menyampaikan 5 kesepakatan. Isinya hampir sama dengan pernyataan Jokowi. Yaitu, pertama, menghentikan kekerasan di Myanmar. Kedua, menggelar dialog konstruktif antara semua pihak. Ketiga, utusan khusus Ketua ASEAN akan memfasilitasi dialog tersebut. Empat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui AHA Centre. Terakhir, utusan khusus dan delegasi akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak terkait.

Di luar dugaan, Jenderal Min Aung yang terkenal galak itu setuju atas lima konsensus yang diputuskan. Dia juga komitmen untuk menahan pasukannnya melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Hasil yang dicapai dalam KTT ASEAN itu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Baik dalam negeri maupun luar negeri, memuji Jokowi yang dianggap punya peran penting mendorong dan menghasilkan 5 konsesus di KTT ASEAN.

Profesor dari Universitas Nasional (ANU) Australia, John Blaxland langsung berkomentar. Lewat akun Twitter miliknya, pakar keamanan internasional, kajian intelijen dan pertahanan yang juga dikenal cukup concern mengikuti perkembangan keamanan di Myanmar ini, mengunggah tangkapan layar pidato Jokowi usai mengikuti pertemuan bertajuk Leaders Meeting, Sabtu (24/4) itu.

Menurutnya, lewat KTT ASEAN, Jokowi berhasil membuat deklarasi spektakuler bersama negara-negara ASEAN untuk menyelamatkan Myanmar. “Thank you/Terima Kasih, Pak Jokowi!” tulisnya di akun @JohnBlaxland1.

Dari dalam negeri, Guru Besar Hukum Internasional, Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana juga mengapresiasi capaian KTT ini. “Secara prinsipiil, ini sudah bagus dan patut diapresiasi,” kata Hikmahanto dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Namun, ia juga menyelipkan pertanyaan: bagaimana jika korban masih berjatuhan setelah konsensus disetujui pemimpin junta militer Myanmar itu?

“Bagaimana upaya penghentiannya oleh ASEAN? Apakah rakyat akan terus menyerang militer dengan peralatan seadanya tanpa merasa perlu mengindahkan konsensus ini? Apakah militer tidak boleh melakukan pembalasan?” tanya dia. Apalagi, jika rakyat Myanmar merasa tidak diikutkan dalam pembuatan Five Consensus KTT ASEAN ini.

Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani ini juga menyoal poin kedua konsensus, siapa yang akan memulai dialog konstruktif dimaksud. Karena kedua belah pihak yang bertikai masih saling menutup diri untuk dialog.

Sementara untuk poin 3 konsensus, ia menilai Ketua ASEAN harus segera menunjuk Special Envoy untuk menjadi mediator antar dua pihak yang bertikai. Lalu, di poin keempat, ia menyarankan agar mekanisme AHA Center dari pihak ASEAN bisa masuk ke Myanmar dan terjaga keselamatannya.

“Untuk poin 5 sudah bagus karena Special Envoy sebagai mediator harus hadir ke Myanmar dan bertemu dengan pihak-pihak yang bertikai,” tutupnya.

Selain dari pakar, apresiasi juga datang dari warga Myanmar. Tak hanya Jokowi kebagian wanginya, tapi juga kepada seluruh rakyat Indonesia.

Aktivis Myanmar Ei Thinzar Maung contohnya. Sosok yang sebelumnya pedas mengkritik ASEAN karena dinilai diam melihat tindakan kekerasan di negaranya, kini balik memuji dan senang atas perhatian yang diberikan oleh para negara tetangganya.

Ia juga terharu, melihat para aktivis Indonesia yang lagi puasa Ramadhan rela panas-panas menggelar unjuk rasa memprotes tindakan kekerasan oleh junta militer di negaranya.

“Terima kasih khusus kepada rakyat Indonesia yang telah berdiri bersama kami, rakyat Burma,” cuit aktivis, sekaligus Deputi Menteri Wanita, Pemuda dan Anak National Unity Government of Myanmar (NUG) dari pemerintahan tandingan junta militer yang dibentuk 1 Februari 2021 lalu.

“Terima kasih rakyat Indonesia dan Pak Presiden @jokowi yang sudah sepenuh hati mendukung rakyat Myanmar,” timpal akun @estrella_linn. “Pokoknya terima kasih banyak untuk Presiden Indonesia Jokowi,” kicau warga Myanmar lain, @ThihaAu69908571. [SAR]

]]> Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN membahas kekerasan yang terjadi di Myanmar, yang digelar di Jakarta, telah berakhir. Panglima Junta Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing yang dikenal keras dan galak itu akhirnya berhasil dijinakkan. Presiden Jokowi sebagai tumah (tuan rumah) dan menginisiasi pertemuan itu pun, kecipratan wanginya.

Sejak konflik berdarah terjadi di Myanmar, Jokowi menjadi salah satu kepala negara yang paling keras bersuara. Pertengahan Maret lalu, Jokowi meminta negara-negara anggota ASEAN untuk menggelar konferensi guna membahas masalah kudeta militer Myanmar yang dipimpin langsung Jendral Ming Aun.

Bak gayung bersambut, permintaan Jokowi itu dikabulkan. KTT ASEAN digelar Sabtu (24/5) di Jakarta. Selain Jokowi selaku tuan rumah dan Sultan Brunei Bolkiah selaku Ketua ASEAN, empat pimpinan negara lain datang langsung ke Jakarta untuk menghadiri konferensi. Mereka adalah Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinch, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Bahkan, sosok yang dipersoalkan yakni Jenderal Min Aung, juga datang. Hanya Thailand, Filipina dan Laos, yang mengutus menteri luar negeri.

Dalam pertemuan bertajuk ASEAN Leaders’ Meeting (ALM) ini, Jokowi meminta Jenderal Min Aung melaksanakan tiga komitmen. Pertama, menghentikan kekerasan. Kedua, dialog yang inklusif harus dimulai. Tahanan politik harus segera dilepaskan. Terakhir, membuka akses bantuan kemanusiaan dari ASEAN.

Setelah bersidang selama beberapa jam, Ketua ASEAN, Sultan Hassanal Bolkiah menyampaikan 5 kesepakatan. Isinya hampir sama dengan pernyataan Jokowi. Yaitu, pertama, menghentikan kekerasan di Myanmar. Kedua, menggelar dialog konstruktif antara semua pihak. Ketiga, utusan khusus Ketua ASEAN akan memfasilitasi dialog tersebut. Empat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui AHA Centre. Terakhir, utusan khusus dan delegasi akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak terkait.

Di luar dugaan, Jenderal Min Aung yang terkenal galak itu setuju atas lima konsensus yang diputuskan. Dia juga komitmen untuk menahan pasukannnya melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Hasil yang dicapai dalam KTT ASEAN itu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Baik dalam negeri maupun luar negeri, memuji Jokowi yang dianggap punya peran penting mendorong dan menghasilkan 5 konsesus di KTT ASEAN.

Profesor dari Universitas Nasional (ANU) Australia, John Blaxland langsung berkomentar. Lewat akun Twitter miliknya, pakar keamanan internasional, kajian intelijen dan pertahanan yang juga dikenal cukup concern mengikuti perkembangan keamanan di Myanmar ini, mengunggah tangkapan layar pidato Jokowi usai mengikuti pertemuan bertajuk Leaders Meeting, Sabtu (24/4) itu.

Menurutnya, lewat KTT ASEAN, Jokowi berhasil membuat deklarasi spektakuler bersama negara-negara ASEAN untuk menyelamatkan Myanmar. “Thank you/Terima Kasih, Pak Jokowi!” tulisnya di akun @JohnBlaxland1.

Dari dalam negeri, Guru Besar Hukum Internasional, Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana juga mengapresiasi capaian KTT ini. “Secara prinsipiil, ini sudah bagus dan patut diapresiasi,” kata Hikmahanto dalam keterangannya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 

Namun, ia juga menyelipkan pertanyaan: bagaimana jika korban masih berjatuhan setelah konsensus disetujui pemimpin junta militer Myanmar itu?

“Bagaimana upaya penghentiannya oleh ASEAN? Apakah rakyat akan terus menyerang militer dengan peralatan seadanya tanpa merasa perlu mengindahkan konsensus ini? Apakah militer tidak boleh melakukan pembalasan?” tanya dia. Apalagi, jika rakyat Myanmar merasa tidak diikutkan dalam pembuatan Five Consensus KTT ASEAN ini.

Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani ini juga menyoal poin kedua konsensus, siapa yang akan memulai dialog konstruktif dimaksud. Karena kedua belah pihak yang bertikai masih saling menutup diri untuk dialog.

Sementara untuk poin 3 konsensus, ia menilai Ketua ASEAN harus segera menunjuk Special Envoy untuk menjadi mediator antar dua pihak yang bertikai. Lalu, di poin keempat, ia menyarankan agar mekanisme AHA Center dari pihak ASEAN bisa masuk ke Myanmar dan terjaga keselamatannya.

“Untuk poin 5 sudah bagus karena Special Envoy sebagai mediator harus hadir ke Myanmar dan bertemu dengan pihak-pihak yang bertikai,” tutupnya.

Selain dari pakar, apresiasi juga datang dari warga Myanmar. Tak hanya Jokowi kebagian wanginya, tapi juga kepada seluruh rakyat Indonesia.

Aktivis Myanmar Ei Thinzar Maung contohnya. Sosok yang sebelumnya pedas mengkritik ASEAN karena dinilai diam melihat tindakan kekerasan di negaranya, kini balik memuji dan senang atas perhatian yang diberikan oleh para negara tetangganya.

Ia juga terharu, melihat para aktivis Indonesia yang lagi puasa Ramadhan rela panas-panas menggelar unjuk rasa memprotes tindakan kekerasan oleh junta militer di negaranya.

“Terima kasih khusus kepada rakyat Indonesia yang telah berdiri bersama kami, rakyat Burma,” cuit aktivis, sekaligus Deputi Menteri Wanita, Pemuda dan Anak National Unity Government of Myanmar (NUG) dari pemerintahan tandingan junta militer yang dibentuk 1 Februari 2021 lalu.

“Terima kasih rakyat Indonesia dan Pak Presiden @jokowi yang sudah sepenuh hati mendukung rakyat Myanmar,” timpal akun @estrella_linn. “Pokoknya terima kasih banyak untuk Presiden Indonesia Jokowi,” kicau warga Myanmar lain, @ThihaAu69908571. [SAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories