Jelang Sekolah Tatap Muka Anak-anak Harus Terus Diajarkan Disiplin Prokes .

Jelang diberlakukannya pembelajaran tatap muka pada Juli mendatang, Menteri Sosial Tri Rismaharini mewanti-wanti peran orangtua untuk mengajarkan anak menerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes).

Menurut Risma, hal ini sangat penting dilakukan untuk menjamin anak-anak tidak terpapar virus Corona saat kembali bersekolah nanti. “Kita harus mempersiapkan,” tegas Risma, saat webinar bertajuk Melindungi Orang dalam Menanggapi Covid-19: Perlindungan dan Layanan Sosial Inklusif bersama UNICEF, kemarin.

Beberapa hal yang harus diajarkan pada anak adalah soal penggunaan masker. Nah, di sekolah bisa saja anak-anak saling bertukar masker karena melihat masker milik teman­nya dianggap lebih bagus dan menarik.

“Nah ini harus diantisipasi. Lalu bagaimana protokolnya, kondisi di sekolah, setelah pulang, itu harus ada protokol­nya,” wanti-wantinya.

Selain itu, kualitas gizi dan kesehatan anak, disebut Risma, harus jadi prioritas. Sebab, anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Asupan maka­nan yang bergizi ini menjadi hal yang juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh anak-anak.

Hal lain yang mesti diper­hatikan, tenaga pengajar atau guru dan orang-orang di ling­kungan sekolah juga harus dipastikan tidak terpapar virus Corona.

Risma menuturkan, saat dirinya masih menjadi Wali Kota Surabaya, dia sempat melakukan tes Covid-19 ke­pada para guru.

Tes dilakukan sebagai per­siapan pembukaan sekolah yang diwacanakan Risma. Tapi hasil tes menunjukkan, tidak sedikit guru yang ternyata positif terpapar virus Corona.

“Nah ternyata guru masih banyak yang berbagi makan bersama,” beber politisi PDIP ini.

 

Dalam kesempatan tersebut, Risma juga menyampaikan rencana Kementerian Sosial (Kemensos) membantu anak-anak penyandang disabilitas sensorik netra, penyandang disabilitas intelektual, dan anak-anak penyandang cele­bral palsy, untuk mendapatkan bantuan peralatan. “Ini sedang saya siapkan,” bebernya.

Bagi anak tuna netra, Kemensos akan menyediakan audio khusus. Misalnya, mengenai cara memelihara ikan koi maupun cara membuat kue untuk menarik perhatian anak-anak tersebut.

Pada anak disabilitas men­tal, Kemensos juga menjamin perlindungan terhadap mereka dengan mengembangkan terapi kesenian seperti melukis.

Sementara, bagi penyandang cerebral palsy atau lumpuh otak, serta hidrosefalus, Risma menyiapkan kursi roda elektrik bagi anak-anak agar dapat bergerak sendiri sesuai keingi­nan mereka.

“Mereka tidak hanya berbaring, tapi bisa duduk dan berdiri supaya bisa merasa seperti yang lain,” tandasnya.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah tak men­jadikan vaksinasi Covid-19 terhadap guru sebagai landasan kembali dibukanya sekolah tatap muka.

KPAImeminta agar pemerintah lebih memperhatikan persia­pan penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengingatkan, apa­bila infrastruktur dan prokes tak disiapkan dengan baik, maka sekolah berpotensi besar menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Selain itu, pemerintah harus memastikan, seluruh prokes sudah disosialisasikan ke warga sekolah, termasuk para orangtua siswa. [DIR]

]]> .
Jelang diberlakukannya pembelajaran tatap muka pada Juli mendatang, Menteri Sosial Tri Rismaharini mewanti-wanti peran orangtua untuk mengajarkan anak menerapkan disiplin protokol kesehatan (prokes).

Menurut Risma, hal ini sangat penting dilakukan untuk menjamin anak-anak tidak terpapar virus Corona saat kembali bersekolah nanti. “Kita harus mempersiapkan,” tegas Risma, saat webinar bertajuk Melindungi Orang dalam Menanggapi Covid-19: Perlindungan dan Layanan Sosial Inklusif bersama UNICEF, kemarin.

Beberapa hal yang harus diajarkan pada anak adalah soal penggunaan masker. Nah, di sekolah bisa saja anak-anak saling bertukar masker karena melihat masker milik teman­nya dianggap lebih bagus dan menarik.

“Nah ini harus diantisipasi. Lalu bagaimana protokolnya, kondisi di sekolah, setelah pulang, itu harus ada protokol­nya,” wanti-wantinya.

Selain itu, kualitas gizi dan kesehatan anak, disebut Risma, harus jadi prioritas. Sebab, anak-anak masih dalam masa pertumbuhan. Asupan maka­nan yang bergizi ini menjadi hal yang juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh anak-anak.

Hal lain yang mesti diper­hatikan, tenaga pengajar atau guru dan orang-orang di ling­kungan sekolah juga harus dipastikan tidak terpapar virus Corona.

Risma menuturkan, saat dirinya masih menjadi Wali Kota Surabaya, dia sempat melakukan tes Covid-19 ke­pada para guru.

Tes dilakukan sebagai per­siapan pembukaan sekolah yang diwacanakan Risma. Tapi hasil tes menunjukkan, tidak sedikit guru yang ternyata positif terpapar virus Corona.

“Nah ternyata guru masih banyak yang berbagi makan bersama,” beber politisi PDIP ini.

 

Dalam kesempatan tersebut, Risma juga menyampaikan rencana Kementerian Sosial (Kemensos) membantu anak-anak penyandang disabilitas sensorik netra, penyandang disabilitas intelektual, dan anak-anak penyandang cele­bral palsy, untuk mendapatkan bantuan peralatan. “Ini sedang saya siapkan,” bebernya.

Bagi anak tuna netra, Kemensos akan menyediakan audio khusus. Misalnya, mengenai cara memelihara ikan koi maupun cara membuat kue untuk menarik perhatian anak-anak tersebut.

Pada anak disabilitas men­tal, Kemensos juga menjamin perlindungan terhadap mereka dengan mengembangkan terapi kesenian seperti melukis.

Sementara, bagi penyandang cerebral palsy atau lumpuh otak, serta hidrosefalus, Risma menyiapkan kursi roda elektrik bagi anak-anak agar dapat bergerak sendiri sesuai keingi­nan mereka.

“Mereka tidak hanya berbaring, tapi bisa duduk dan berdiri supaya bisa merasa seperti yang lain,” tandasnya.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pemerintah tak men­jadikan vaksinasi Covid-19 terhadap guru sebagai landasan kembali dibukanya sekolah tatap muka.

KPAImeminta agar pemerintah lebih memperhatikan persia­pan penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengingatkan, apa­bila infrastruktur dan prokes tak disiapkan dengan baik, maka sekolah berpotensi besar menjadi klaster penyebaran Covid-19.

Selain itu, pemerintah harus memastikan, seluruh prokes sudah disosialisasikan ke warga sekolah, termasuk para orangtua siswa. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories