Jelang Ramadan, Harga Pangan Tak Terkontrol Omzet Turun, Pedagang Pasar Cuma Bisa Pasrah

Harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan signifikan, antara lain cabe rawit merah dan hijau hingga daging sapi. Kenaikan harga terjadi dan selalu berulang setiap tahun menjelang Ramadan.

Ketua Umum Ikatan Peda­gang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengaku, pedagang pasar sudah menyerah alias pasrah, terkait tidak terkon­trolnya harga bahan pangan jelang Ramadan.

“Kami sudah nyerah. Pola ini (kenaikan harga pangan) terjadi berulang-ulang tanpa ada perbaikan berarti. Pemerintah seperti tidak punya kemampuan mengatasi masalah ini meski su­dah tahu penyebab masalahnya,” kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Mansuri, akibat ke­naikan harga, jumlah pelanggan yang berbelanja di pasar menu­run drastis. Situasi ini membuat omzet pedagang ikut menurun.

Dia mencontohkan, harga cabe rawit merah yang dalam se­pekan ini tembus Rp 150 ribu per kilogram. Menurutnya, kenaikan itu sudah bisa diprediksi sekitar empat bulan lalu, saat itu sedang terjadi panen raya cabe.

Cabe membanjiri pasar yang menyebabkan jatuhnya harga di tingkat petani. Akibat harga anjlok, petani tidak mau lagi menanam cabe.

Sekarang, saat petani tidak menanam cabe, ditambah cuaca ekstrim yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, menyebab­kan komoditas ini langka sehingga harganya meroket.

“Seharusnya, saat dulu harga anjlok pemerintah melakukan pendampingan ke petani agar mereka tetap produksi cabe. Tapi itu tidak dilakukan dan dampak­nya dirasakan kini saat mendekati Ramadan,” jelas Mansuri.

Dia juga mengeluh, meski ke­naikan harga sejumlah komodi­tas pangan sudah terjadi dalam satu bulan terakhir, pemerintah belum melakukan upaya maksi­mal untuk mengatasinya.

Pemerintah seolah tidak mengerti desain pangan dan tidak punya roadmap pangan yang baik untuk mengatasi situasi seperti ini, meski sudah terjadi berulang kali.

 

“Seharusnya ada pemetaan wilayah produksi pangan, lalu didampingi, diberikan subsidi, sehingga tidak terjadi lagi panen raya yang tidak terserap,” saran Mansuri.

Mansuri khawatir, jika per­masalahan kenaikan harga cabe dan bahan pangan lain tidak segera diatasi, harganya kemung­kinan akan terus melambung.

“Kalau bulan ini panen raya, kenaikan harga bisa dicegah, karena pada Ramadan dan Lebaran itu beberapa komoditas biasanya akan naik. Jadi produk­sinya harus aman. Kalau tidak aman, akan ada kenaikan harga yang gila-gilaan,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Ba­dan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendardi memastikan, bahan pangan saat memasuki bulan Ramadan dan Lebaran 2021 tercukupi.

“Ketersediaan pangan sampai dengan Mei, khususnya untuk 11 bahan pokok, kondisinya aman. Lebaran kan Mei, setelah Lebaran masih aman,” ujar Agung.

11 bahan pokok yang surplus hingga Mei 2021, yaitu beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabe besar, cabe rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula, pasir dan minyak goreng.

Sebelumnya, Menteri Perda­gangan (Mendag) Muhammad Lutfi menjamin pasokan bahan pokok tersedia dengan baik saat Ramadan dan Lebaran 2021. Sehingga harga komoditas pan­gan stabil.

“Kami pastikan barang pokok dan bahan penting terutama menghadapi hari raya puasa H-100 sekarang dan hari raya Idul Fitri H-130 kami pastikan ada,” ujar Lutfi.

Dia juga juga memastikan, bahan pokok dan barang penting lainnya seperti gula, daging, beras akan dipersiapkan untuk menghadapi Ramadan Lebaran tahun ini.

“Kami sudah mengeluarkan dan memastikan bahwa gula akan cukup menghadapi Ramadan dan juga menghadapi Lebaran. Kita juga mempersiapkan ketersediaan bahan-bahan penting lainnya,” tegas Lutfi. [NOV]

]]> Harga sejumlah bahan pangan mengalami kenaikan signifikan, antara lain cabe rawit merah dan hijau hingga daging sapi. Kenaikan harga terjadi dan selalu berulang setiap tahun menjelang Ramadan.

Ketua Umum Ikatan Peda­gang Pasar Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri mengaku, pedagang pasar sudah menyerah alias pasrah, terkait tidak terkon­trolnya harga bahan pangan jelang Ramadan.

“Kami sudah nyerah. Pola ini (kenaikan harga pangan) terjadi berulang-ulang tanpa ada perbaikan berarti. Pemerintah seperti tidak punya kemampuan mengatasi masalah ini meski su­dah tahu penyebab masalahnya,” kata Mansuri kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Mansuri, akibat ke­naikan harga, jumlah pelanggan yang berbelanja di pasar menu­run drastis. Situasi ini membuat omzet pedagang ikut menurun.

Dia mencontohkan, harga cabe rawit merah yang dalam se­pekan ini tembus Rp 150 ribu per kilogram. Menurutnya, kenaikan itu sudah bisa diprediksi sekitar empat bulan lalu, saat itu sedang terjadi panen raya cabe.

Cabe membanjiri pasar yang menyebabkan jatuhnya harga di tingkat petani. Akibat harga anjlok, petani tidak mau lagi menanam cabe.

Sekarang, saat petani tidak menanam cabe, ditambah cuaca ekstrim yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia, menyebab­kan komoditas ini langka sehingga harganya meroket.

“Seharusnya, saat dulu harga anjlok pemerintah melakukan pendampingan ke petani agar mereka tetap produksi cabe. Tapi itu tidak dilakukan dan dampak­nya dirasakan kini saat mendekati Ramadan,” jelas Mansuri.

Dia juga mengeluh, meski ke­naikan harga sejumlah komodi­tas pangan sudah terjadi dalam satu bulan terakhir, pemerintah belum melakukan upaya maksi­mal untuk mengatasinya.

Pemerintah seolah tidak mengerti desain pangan dan tidak punya roadmap pangan yang baik untuk mengatasi situasi seperti ini, meski sudah terjadi berulang kali.

 

“Seharusnya ada pemetaan wilayah produksi pangan, lalu didampingi, diberikan subsidi, sehingga tidak terjadi lagi panen raya yang tidak terserap,” saran Mansuri.

Mansuri khawatir, jika per­masalahan kenaikan harga cabe dan bahan pangan lain tidak segera diatasi, harganya kemung­kinan akan terus melambung.

“Kalau bulan ini panen raya, kenaikan harga bisa dicegah, karena pada Ramadan dan Lebaran itu beberapa komoditas biasanya akan naik. Jadi produk­sinya harus aman. Kalau tidak aman, akan ada kenaikan harga yang gila-gilaan,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Ba­dan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendardi memastikan, bahan pangan saat memasuki bulan Ramadan dan Lebaran 2021 tercukupi.

“Ketersediaan pangan sampai dengan Mei, khususnya untuk 11 bahan pokok, kondisinya aman. Lebaran kan Mei, setelah Lebaran masih aman,” ujar Agung.

11 bahan pokok yang surplus hingga Mei 2021, yaitu beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabe besar, cabe rawit, daging sapi/kerbau, daging ayam ras, telur ayam ras, gula, pasir dan minyak goreng.

Sebelumnya, Menteri Perda­gangan (Mendag) Muhammad Lutfi menjamin pasokan bahan pokok tersedia dengan baik saat Ramadan dan Lebaran 2021. Sehingga harga komoditas pan­gan stabil.

“Kami pastikan barang pokok dan bahan penting terutama menghadapi hari raya puasa H-100 sekarang dan hari raya Idul Fitri H-130 kami pastikan ada,” ujar Lutfi.

Dia juga juga memastikan, bahan pokok dan barang penting lainnya seperti gula, daging, beras akan dipersiapkan untuk menghadapi Ramadan Lebaran tahun ini.

“Kami sudah mengeluarkan dan memastikan bahwa gula akan cukup menghadapi Ramadan dan juga menghadapi Lebaran. Kita juga mempersiapkan ketersediaan bahan-bahan penting lainnya,” tegas Lutfi. [NOV]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories