Jelang Puasa Ramadan Kendalikan Harga Pangan!

Bulan suci Ramadan kerap menjadi momen kenaikan harga pangan. Politisi Senayan mendorong pemerintah mengantisipasi kenaikan ini, meski inflasi Ramadan tahun lalu rendah

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin berharap, pasokan bahan pokok terjaga menjelang bulan suci Ramadhan. Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pertanian (Kementan), dan Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta kompak mengatasi persoalan.

“Saya berharap, pihak-pihak terkait melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga jelang bulan Ramadan. Terlebih, sudah banyak harga kebutuhan pangan yang mulai beranjak naik di berbagai wilayah,” ujar Azis melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

Dia mengakui, tingginya permintaan masyarakat terhadap bahan pokok jelang Ramadan hingga Idul Fitri menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan harga. Namun, hal itu tidak noleh menjadi alasan tidak terkendalinya pasokan dan harga kebutuhan pokok.

“Kemendag harus menjaga stabilitas, khususnya harga pangan. Persoalan ini harus diantisipasi, dicari solusinya, agar tidak menjadi fenomena tahunan,” tegas politisi Partai Golkar ini.

Azis meminta pemerintah sigap melakukan intervensi pasar, jika harga bahan pokok melambung tinggi. Sebab, persoalan tersebut akan semakin menyulitkan masyarakat di tengah kondisi perekonomian yang tidak pasti akibat pandemi Covid-19.

“Kemendag, Perum Bulog, dan Pemerintah Daerah (Pemda) harus memastikan keamanan stok bahan pangan, serta kemampuan daya beli masyarakat. Tidak boleh ada distribusi pangan yang tersendat, hingga menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga bahan pangan di suatu daerah,” pinta mantan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR ini.

Azis juga mendorong Kemendag, Kementan, dan sejumlah institusi terkait lainnya untuk duduk bersama, serta bersinergi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. “Tutup ruang bermain para spekulan. Jangan sampai masyarakat panik, karena kebutuhan pokok langka dan mahal,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Terlebih, di akhir April tahun ini beberapa provinsi mengalami defisit sejumlah komoditas pangan, seperti beras, jagung, gula, cabe, bawang putih, bawah merah, dan telur.

“Penyebab defisit ini karenakan provinsi-provinsi tersebut bukan merupakan provinsi penghasil utama komoditas-komoditas tersebut. Ditambah pula dengan proses distribusi yang sempat terhalang, akibat implementasi kebijakan pembatasan sosial,” kata Felippa.

Berdasarkan pantauan CIPS melalui Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks BU RT), sambung dia, terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan di Indonesia pada November 2020. Komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan antara lain cabe merah, bawang putih, dan daging ayam.

“Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga konsumen mengalami inflasi sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dari inflasi Oktober yaitu 0,07 persen. Daging ayam menjadi sumber terbesar inflasi, yaitu sebesar 0,10 persen dan diikuti cabe merah sebesar 0,02 persen,” urai dia.  [ONI]

]]> Bulan suci Ramadan kerap menjadi momen kenaikan harga pangan. Politisi Senayan mendorong pemerintah mengantisipasi kenaikan ini, meski inflasi Ramadan tahun lalu rendah

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin berharap, pasokan bahan pokok terjaga menjelang bulan suci Ramadhan. Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian Pertanian (Kementan), dan Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta kompak mengatasi persoalan.

“Saya berharap, pihak-pihak terkait melakukan operasi pasar untuk menjaga stabilitas harga jelang bulan Ramadan. Terlebih, sudah banyak harga kebutuhan pangan yang mulai beranjak naik di berbagai wilayah,” ujar Azis melalui keterangan tertulisnya, kemarin.

Dia mengakui, tingginya permintaan masyarakat terhadap bahan pokok jelang Ramadan hingga Idul Fitri menjadi salah satu faktor penyebab kenaikan harga. Namun, hal itu tidak noleh menjadi alasan tidak terkendalinya pasokan dan harga kebutuhan pokok.

“Kemendag harus menjaga stabilitas, khususnya harga pangan. Persoalan ini harus diantisipasi, dicari solusinya, agar tidak menjadi fenomena tahunan,” tegas politisi Partai Golkar ini.

Azis meminta pemerintah sigap melakukan intervensi pasar, jika harga bahan pokok melambung tinggi. Sebab, persoalan tersebut akan semakin menyulitkan masyarakat di tengah kondisi perekonomian yang tidak pasti akibat pandemi Covid-19.

“Kemendag, Perum Bulog, dan Pemerintah Daerah (Pemda) harus memastikan keamanan stok bahan pangan, serta kemampuan daya beli masyarakat. Tidak boleh ada distribusi pangan yang tersendat, hingga menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga bahan pangan di suatu daerah,” pinta mantan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR ini.

Azis juga mendorong Kemendag, Kementan, dan sejumlah institusi terkait lainnya untuk duduk bersama, serta bersinergi untuk menyelesaikan persoalan tersebut. “Tutup ruang bermain para spekulan. Jangan sampai masyarakat panik, karena kebutuhan pokok langka dan mahal,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta mengatakan, pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Terlebih, di akhir April tahun ini beberapa provinsi mengalami defisit sejumlah komoditas pangan, seperti beras, jagung, gula, cabe, bawang putih, bawah merah, dan telur.

“Penyebab defisit ini karenakan provinsi-provinsi tersebut bukan merupakan provinsi penghasil utama komoditas-komoditas tersebut. Ditambah pula dengan proses distribusi yang sempat terhalang, akibat implementasi kebijakan pembatasan sosial,” kata Felippa.

Berdasarkan pantauan CIPS melalui Indeks Bulanan Rumah Tangga (Indeks BU RT), sambung dia, terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan di Indonesia pada November 2020. Komoditas pangan yang mengalami kenaikan signifikan antara lain cabe merah, bawang putih, dan daging ayam.

“Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks harga konsumen mengalami inflasi sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dari inflasi Oktober yaitu 0,07 persen. Daging ayam menjadi sumber terbesar inflasi, yaitu sebesar 0,10 persen dan diikuti cabe merah sebesar 0,02 persen,” urai dia.  [ONI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories