Jelang 1 Abad, Pontren Kauman Sumbar Bedah Naskah Buku

Komplek Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Sumatra Barat, hampir mencapai usia satu abad. Sejak berdirinya Hollandsch Inlandsche School (HIS) Med Quran pada Juli 1927, menandai awal kiprah amal usaha Muhammadiyah Cabang Padang Panjang.

Sejak di rintisan awal amal usaha itu, perlahan amal usaha yang lain didirikan di bawah kepemimpinan Saalah Jusuf Sutan Mangkuto. Keberadaan dari Kulliyatul Muballighien –sebagai pencetak calon pimpinan dan penggerak tabligh Muhammmadiyah di seluruh Indonesia telah dimulai sejak dirintisnya Tabligh School pada awal 1929.

Masa itu, utusan dari penjuru Sumatra Westkust (kini: Sumatra Barat), mendatangi AR Sutan Mansur, untuk segera mendirikan sekolah lanjutan dari Muallimin Muhammadiyah.

Sekolah itu resmi berdiri pada 1929, dan dipimpin langsung oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang akrab disapa Buya HAMKA. Tujuh tahun kemudian (1936), berdasar Conferentie Muhammmadiyah Konsul Minangkabau 1935, Tabligh School “berganti baju” menjadi Kulliyatul Muballighien. Kurikulum yang disusun lebih kompleks, dan sudah menerapkan sistem klasikal.

Untuk memperingati usianya tersebut, pimpinan Pondok Pesantren Modern (Pontren) Kauman Padang Panjang, menggelar bedah naskah buku terbatas yang ditulis oleh pemerhati sejarah dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, Fikrul Hanif Sufyan.

Naskah berjudul “Kulliyatul Muballighien, dari Kauman Padang Panjang untuk Indonesia” itu dibedah pada Jumat (11/02/2022), di ruang Mudir Pontren Kauman Dr Derliana, MA.

 

Dalam pemaparannya Fikrul menjelaskan, hadirnya Kulliyatul Muballighien bukan sekadar sekolah lanjutan untuk murid-murid Muhammadiyah, namun berdampak krusial terhadap sebaran Islam Berkemajuan di penjuru Indonesia. “Sebagai catatan awal, Kulliyatul Muballighien berdampak besar terhadap tumbuh kembangnya persyarikatan Muhammadiyah di seluruh daerah, bahkan Indonesia,” tegasnya.

Mantan jurnalis Rakyat Merdeka Jakarta tersebut juga menekankan, pada akhir pendudukan Jepang hingga revolusi kemerdekaan, sebagian besar pimpinan dan guru di Kulliyatul Muballighien terpilih menduduki pos-pos jabatan pemerintahan di Sumatra Barat.

Bahkan, sebelum proklamasi kemerdekaan diumumkan secara luas di Sumatra Barat, lanjut Fikrul, guru Kulliyatul Muballighien –Buya Sutan Mansur sudah meneriakkan Resolusi Jihad di hadapan para peserta Algemene Kennis Muhammadiyah, agar mereka segera pulang ke daerah masing untuk bersiap-siap menghadapi kedatangan Belanda, yang kembali ingin menjajah Tanah Air.

Bedah naskah digelar dua sesi dan dimoderatori Surya Bunawan dan Yuhaldi, serta diikuti secara terbatas oleh pimpinan dan guru senior Pontren Kauman Padang Panjang. Bedah naskah yang berlangsung apik tersebut banyak memberikan sumbang-saran untuk kesempurnaan naskah buku yang nantinya segera diterbitkan.

“Kita berharap naskah buku yang akan diterbitkan ini, nantinya menjadi acuan penetapan HARLAH Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah. Sekaligus, menjadi penguat hadir dan membuminya Buya HAMKA di Padang Panjang,” papar Mudir Pontren Kauman, Derliana.

Naskah buku setebal lebih dari 220 halaman dan dibedah lebih dari tiga jam itu, tidak hanya menarasikan lahir dan berkembangnya lembaga pendidikan tersebut, namun juga pengaruh terhadap sebaran Islam Berkemajuan dan penguatan keindonesiaan. [RSM]

]]> Komplek Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Sumatra Barat, hampir mencapai usia satu abad. Sejak berdirinya Hollandsch Inlandsche School (HIS) Med Quran pada Juli 1927, menandai awal kiprah amal usaha Muhammadiyah Cabang Padang Panjang.

Sejak di rintisan awal amal usaha itu, perlahan amal usaha yang lain didirikan di bawah kepemimpinan Saalah Jusuf Sutan Mangkuto. Keberadaan dari Kulliyatul Muballighien –sebagai pencetak calon pimpinan dan penggerak tabligh Muhammmadiyah di seluruh Indonesia telah dimulai sejak dirintisnya Tabligh School pada awal 1929.

Masa itu, utusan dari penjuru Sumatra Westkust (kini: Sumatra Barat), mendatangi AR Sutan Mansur, untuk segera mendirikan sekolah lanjutan dari Muallimin Muhammadiyah.

Sekolah itu resmi berdiri pada 1929, dan dipimpin langsung oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang akrab disapa Buya HAMKA. Tujuh tahun kemudian (1936), berdasar Conferentie Muhammmadiyah Konsul Minangkabau 1935, Tabligh School “berganti baju” menjadi Kulliyatul Muballighien. Kurikulum yang disusun lebih kompleks, dan sudah menerapkan sistem klasikal.

Untuk memperingati usianya tersebut, pimpinan Pondok Pesantren Modern (Pontren) Kauman Padang Panjang, menggelar bedah naskah buku terbatas yang ditulis oleh pemerhati sejarah dari Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, Fikrul Hanif Sufyan.

Naskah berjudul “Kulliyatul Muballighien, dari Kauman Padang Panjang untuk Indonesia” itu dibedah pada Jumat (11/02/2022), di ruang Mudir Pontren Kauman Dr Derliana, MA.

 

Dalam pemaparannya Fikrul menjelaskan, hadirnya Kulliyatul Muballighien bukan sekadar sekolah lanjutan untuk murid-murid Muhammadiyah, namun berdampak krusial terhadap sebaran Islam Berkemajuan di penjuru Indonesia. “Sebagai catatan awal, Kulliyatul Muballighien berdampak besar terhadap tumbuh kembangnya persyarikatan Muhammadiyah di seluruh daerah, bahkan Indonesia,” tegasnya.

Mantan jurnalis Rakyat Merdeka Jakarta tersebut juga menekankan, pada akhir pendudukan Jepang hingga revolusi kemerdekaan, sebagian besar pimpinan dan guru di Kulliyatul Muballighien terpilih menduduki pos-pos jabatan pemerintahan di Sumatra Barat.

Bahkan, sebelum proklamasi kemerdekaan diumumkan secara luas di Sumatra Barat, lanjut Fikrul, guru Kulliyatul Muballighien –Buya Sutan Mansur sudah meneriakkan Resolusi Jihad di hadapan para peserta Algemene Kennis Muhammadiyah, agar mereka segera pulang ke daerah masing untuk bersiap-siap menghadapi kedatangan Belanda, yang kembali ingin menjajah Tanah Air.

Bedah naskah digelar dua sesi dan dimoderatori Surya Bunawan dan Yuhaldi, serta diikuti secara terbatas oleh pimpinan dan guru senior Pontren Kauman Padang Panjang. Bedah naskah yang berlangsung apik tersebut banyak memberikan sumbang-saran untuk kesempurnaan naskah buku yang nantinya segera diterbitkan.

“Kita berharap naskah buku yang akan diterbitkan ini, nantinya menjadi acuan penetapan HARLAH Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah. Sekaligus, menjadi penguat hadir dan membuminya Buya HAMKA di Padang Panjang,” papar Mudir Pontren Kauman, Derliana.

Naskah buku setebal lebih dari 220 halaman dan dibedah lebih dari tiga jam itu, tidak hanya menarasikan lahir dan berkembangnya lembaga pendidikan tersebut, namun juga pengaruh terhadap sebaran Islam Berkemajuan dan penguatan keindonesiaan. [RSM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories