Jawab Kritik Oposisi Fadjroel Baca Teks Pembukaan UUD ’45 .

Di tengah melonjaknya kasus Corona saat ini, ada banyak suara kritis yang dilancarkan kubu oposisi ke pemerintah. Menanggapi berbagai serangan itu, Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, punya jurus khusus. Fadjroel menjawabnya dengan membacakan amat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945.

Menurut Fadjroel, pemerintah sudah melakukan tindakan nyata dalam melindungi masyarakat dari Corona. Salah satunya, dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, yang sedang dilaksanakan.

“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kewajiban konstitusional tersebut salah satu wujudnya adalah penerapan PPKM Darurat,” ujarnya, di Jakarta, kemarin.

Mantan aktivis 98 ini kemudian merincikan cara jitu mencegah penyebaran virus asal China tersebut. Yaitu, disiplin menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Ini, substansi dari PPKM.

Fadjroel ogah terjebak debat kusir dengan oposisi. Pria berusia 57 tahun ini memilih menceritakan langkah pemerintah melawan pandemi. Kali ini, tentang program vaksinasi. Dia menerangkan, Presiden Jokowi berhasil melakukan diplomasi dalam pengadaan vaksin.

Catatannya, per Juni 2021, Indonesia telah memiliki 93.728.400 dosis vaksin dan 45 juta orang telah divaksin. Pemerintah juga fokus di multi sektor terdampak pandemi, seperti kesehatan, perlindungan sosial, dan ekonomi rakyat.

 

Pemerintah juga jor-joran mengeluarkan duit untuk melawan pandemi ini. Tahun 2020, sebesar Rp 695,2 triliun. Tahun ini, dana lebih besar lagi, Rp 699,43 triliun.

Fadjroel pun merasa bangga dengan rakyat Indonesia yang menunjukkan rasa saling peduli di tengah pandemi. Dengan peran serta masyarakat, dia pede PPKM Darurat bakal sukses. “Presiden berterima kasih atas gotong royong semua pihak, khususnya tenaga kesehatan, sukarelawan, TNI/Polri, pemerintah daerah, dan lainnya,” tutupnya.

Sebelumnya, barisan oposisi getol mengkritik cara pemerintah melawan pandemi. Paling menusuk datang dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

AHY mempertanyakan kemampuan negara menyelamatkan rakyat dari Covid-19. Dia mengkritik dengan menggunakan data Bank Dunia ihwal Pendapatan Nasional Bruto (GNI) Indonesia yang turun dari 4.050 dolar AS (Rp 59.015.992) menjadi 3.870 dolar AS (Rp 56.393.059).

“Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas. Masalah gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari Covid?” ujar putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.

Ibas tidak kalah pedas. Adik kandung AHY ini mengingatkan, jangan sampai negara ini disebut sebagai failed nation alias bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya.

 

“Covid-19 makin mengganas. Keluarga kita, sahabat kita dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar, bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini?” ujar Ibas.

Waketum Demokrat ini juga mengkritik berbasis data, yaitu tingginya angka kematian dan jumlah yang terpapar belakangan ini. Ibas juga merangkum keluhan masyarakat yang berjuang saat pandemi. Salah satunya soal kelangkaan oksigen yang bikin geram rakyat. “Bagaimana mungkin tabung oksigen disumbangkan ke negara lain, tapi saat rakyat sendiri membutuhkan, barangnya susah didapat,” ucap anggota Komisi VI DPR ini.

Setelah mengkritik, Ibas balik di kuliti. Koleganya di Komisi VI DPR. “Saya mengajak Mas Ibas untuk hadir dalam rapat-rapat di Komisi VI dengan mitra-mitra kita. Hadir ini bisa hadir secara fisik maupun secara virtual,” ucap Anggota Komisi VI DPR dari Partai Gerindra, Andre Rosiade, kemarin.

Logikanya, kata dia, melalui rapat ini, Ibas bisa menyalurkan kritik terhadap pemerintah. Misalnya, bagaimana BUMN menghadapi pandemi.

Mendengar bosnya diserang balik, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Putu Supadma Rudana berusaha menangkis. Putu memastikan, Ibas sangat aktif bertugas di DPR. Namun, untuk saat ini, rapat fisik dibatasi karena virus Delta.

“Setiap fraksi punya mekanisme, penugasan dan pengaturannya juru bicara sendiri. Mas Ibas sendiri juga aktif bertugas di DPR dan ikut mengawal setiap proses pengambil keputusan di DPR. Beliau berperan penting tidak hanya di Komisi VI, tapi juga di Badan Anggaran sebagai pimpinan,” bela Putu. [BSH]

]]> .
Di tengah melonjaknya kasus Corona saat ini, ada banyak suara kritis yang dilancarkan kubu oposisi ke pemerintah. Menanggapi berbagai serangan itu, Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, punya jurus khusus. Fadjroel menjawabnya dengan membacakan amat konstitusi dalam Pembukaan UUD 1945.
Menurut Fadjroel, pemerintah sudah melakukan tindakan nyata dalam melindungi masyarakat dari Corona. Salah satunya, dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, yang sedang dilaksanakan.
“Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kewajiban konstitusional tersebut salah satu wujudnya adalah penerapan PPKM Darurat,” ujarnya, di Jakarta, kemarin.
Mantan aktivis 98 ini kemudian merincikan cara jitu mencegah penyebaran virus asal China tersebut. Yaitu, disiplin menerapkan 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas). Ini, substansi dari PPKM.
Fadjroel ogah terjebak debat kusir dengan oposisi. Pria berusia 57 tahun ini memilih menceritakan langkah pemerintah melawan pandemi. Kali ini, tentang program vaksinasi. Dia menerangkan, Presiden Jokowi berhasil melakukan diplomasi dalam pengadaan vaksin.
Catatannya, per Juni 2021, Indonesia telah memiliki 93.728.400 dosis vaksin dan 45 juta orang telah divaksin. Pemerintah juga fokus di multi sektor terdampak pandemi, seperti kesehatan, perlindungan sosial, dan ekonomi rakyat.

 

Pemerintah juga jor-joran mengeluarkan duit untuk melawan pandemi ini. Tahun 2020, sebesar Rp 695,2 triliun. Tahun ini, dana lebih besar lagi, Rp 699,43 triliun.
Fadjroel pun merasa bangga dengan rakyat Indonesia yang menunjukkan rasa saling peduli di tengah pandemi. Dengan peran serta masyarakat, dia pede PPKM Darurat bakal sukses. “Presiden berterima kasih atas gotong royong semua pihak, khususnya tenaga kesehatan, sukarelawan, TNI/Polri, pemerintah daerah, dan lainnya,” tutupnya.
Sebelumnya, barisan oposisi getol mengkritik cara pemerintah melawan pandemi. Paling menusuk datang dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).
AHY mempertanyakan kemampuan negara menyelamatkan rakyat dari Covid-19. Dia mengkritik dengan menggunakan data Bank Dunia ihwal Pendapatan Nasional Bruto (GNI) Indonesia yang turun dari 4.050 dolar AS (Rp 59.015.992) menjadi 3.870 dolar AS (Rp 56.393.059).
“Idealnya, kita selalu naik kelas. Jangan tinggal kelas, apalagi turun kelas. Masalah gentingnya, bukan di mana status kelas kita saat ini, tapi mampukah negara ini menyelamatkan rakyatnya dari Covid?” ujar putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini.
Ibas tidak kalah pedas. Adik kandung AHY ini mengingatkan, jangan sampai negara ini disebut sebagai failed nation alias bangsa gagal akibat tidak mampu menyelamatkan rakyatnya.

 

“Covid-19 makin mengganas. Keluarga kita, sahabat kita dan orang-orang di lingkungan kita banyak yang terpapar, bahkan meninggal dunia. Sampai kapan bangsa kita akan terus begini?” ujar Ibas.
Waketum Demokrat ini juga mengkritik berbasis data, yaitu tingginya angka kematian dan jumlah yang terpapar belakangan ini. Ibas juga merangkum keluhan masyarakat yang berjuang saat pandemi. Salah satunya soal kelangkaan oksigen yang bikin geram rakyat. “Bagaimana mungkin tabung oksigen disumbangkan ke negara lain, tapi saat rakyat sendiri membutuhkan, barangnya susah didapat,” ucap anggota Komisi VI DPR ini.
Setelah mengkritik, Ibas balik di kuliti. Koleganya di Komisi VI DPR. “Saya mengajak Mas Ibas untuk hadir dalam rapat-rapat di Komisi VI dengan mitra-mitra kita. Hadir ini bisa hadir secara fisik maupun secara virtual,” ucap Anggota Komisi VI DPR dari Partai Gerindra, Andre Rosiade, kemarin.
Logikanya, kata dia, melalui rapat ini, Ibas bisa menyalurkan kritik terhadap pemerintah. Misalnya, bagaimana BUMN menghadapi pandemi.
Mendengar bosnya diserang balik, Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR Putu Supadma Rudana berusaha menangkis. Putu memastikan, Ibas sangat aktif bertugas di DPR. Namun, untuk saat ini, rapat fisik dibatasi karena virus Delta.
“Setiap fraksi punya mekanisme, penugasan dan pengaturannya juru bicara sendiri. Mas Ibas sendiri juga aktif bertugas di DPR dan ikut mengawal setiap proses pengambil keputusan di DPR. Beliau berperan penting tidak hanya di Komisi VI, tapi juga di Badan Anggaran sebagai pimpinan,” bela Putu. [BSH]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories