Jangan Suuzon! Utang PLN Dipakai Bangun Infrastruktur Kelistrikan Buat Rakyat .

Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai, utang PLN yang tembus di atas Rp 500 triliun sebagai hal yang wajar. Soalnya, berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan, kenaikan ini berbanding lurus dengan jumlah aset yang dimiliki oleh PLN.

“Hal ini membuktikan bahwa dana pinjaman tersebut digunakan untuk kegiatan produktif. Periode 2015-2020, aset PLN mengalami peningkatan menjadi Rp 1.589 triliun, naik sebesar Rp 275 triliun,” ujar Mamit dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/6).

Menurut dia, sesuai dengan Perpres No 4/2016, PLN mendapatkan penugasan untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan seperti FTP-1 dan 35 ribu MW membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena itu, PLN harus memutar otak agar penugasan tersebut bisa berjalan.

“Kebutuhan untuk program 35 ribu MW adalah sebesar Rp 1.200 triliun, di mana PLN harus mengeluarkan dana kurang lebih Rp 600 triliun, selebihnya menggunakan dana swasta. Untuk kebutuhan tersebut, PLN harus menggunakan dana internal, PMN dan juga pinjaman dari luar untuk menjalankan program tersebut,” paparnya.

Dana pinjaman tersebut, saat ini sudah terkonversi menjadi aset yang dimiliki PLN berupa infrastruktur yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

“Sampai Maret 2021, progress pembangunan 35 GW yang sudah beroperasi adalah 10 GW, jumlah transmisi 23.445 kms serta Gardu Induk dengan kapasitas 83.947 MVA,” beber Mamit.

Selain itu, rasio elektrifikasi juga sudah meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 88,3 persen pada 2015 menjadi 99,2 persen pada 2020. Melalui infrastruktur tersebut, saat ini daerah yang dahulu kekurangan pasokan listrik di daerah, kini sudah terpenuhi.

“Kehandalan pasokan listrik PLN saat ini sudah sangat bagus, karena PLN menyadari bahwa saat ini listrik merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Di tengah gencarnya pembangunan yang dilakukan, PLN juga masih memberikan kontribusi kepada negara sejak tahun 2015 melalui dalam bentuk pajak dan deviden yang jumlahnya mencapai Rp 199,5 triliun.

“Patut kita apresiasi apa yang sudah dilakukan oleh PLN saat ini. Mereka pada tahun ini berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 5,9 triliun dengan berbagai macam inovasi dan efisiensi yang dilakukan,” puji Mamit.

Dia juga menyampaikan, efisiensi yang dilakukan saat ini tidak mengurangi keandalan pasokan listrik kepada masyarakat.

“Jangan sampai nanti terjadi black out kembali, karena listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bisa terganggu nanti roda perekonomian,” pintanya.

Sementara terkait dengan tarif adjustment, Mamit meminta pemerintah dan DPR mengkaji kembali tarif saat ini. Menurut dia, saat ini tarif listrik PLN sudah sangat murah jika dibandingkan biaya pokok produksinya.

“Beban keuangan PLN sudah semakin berat, sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi tarif listrik PLN. Sejak tahun 2017 tarif listrik tidak pernah mengalami kenaikan untuk semua golongan,” tandas Mamit. [NOV]

]]> .
Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan menilai, utang PLN yang tembus di atas Rp 500 triliun sebagai hal yang wajar. Soalnya, berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan, kenaikan ini berbanding lurus dengan jumlah aset yang dimiliki oleh PLN.

“Hal ini membuktikan bahwa dana pinjaman tersebut digunakan untuk kegiatan produktif. Periode 2015-2020, aset PLN mengalami peningkatan menjadi Rp 1.589 triliun, naik sebesar Rp 275 triliun,” ujar Mamit dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/6).

Menurut dia, sesuai dengan Perpres No 4/2016, PLN mendapatkan penugasan untuk Percepatan Pembangunan Infrastruktur Kelistrikan seperti FTP-1 dan 35 ribu MW membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena itu, PLN harus memutar otak agar penugasan tersebut bisa berjalan.

“Kebutuhan untuk program 35 ribu MW adalah sebesar Rp 1.200 triliun, di mana PLN harus mengeluarkan dana kurang lebih Rp 600 triliun, selebihnya menggunakan dana swasta. Untuk kebutuhan tersebut, PLN harus menggunakan dana internal, PMN dan juga pinjaman dari luar untuk menjalankan program tersebut,” paparnya.

Dana pinjaman tersebut, saat ini sudah terkonversi menjadi aset yang dimiliki PLN berupa infrastruktur yang bisa dinikmati oleh masyarakat.

“Sampai Maret 2021, progress pembangunan 35 GW yang sudah beroperasi adalah 10 GW, jumlah transmisi 23.445 kms serta Gardu Induk dengan kapasitas 83.947 MVA,” beber Mamit.

Selain itu, rasio elektrifikasi juga sudah meningkat dalam 5 tahun terakhir dari 88,3 persen pada 2015 menjadi 99,2 persen pada 2020. Melalui infrastruktur tersebut, saat ini daerah yang dahulu kekurangan pasokan listrik di daerah, kini sudah terpenuhi.

“Kehandalan pasokan listrik PLN saat ini sudah sangat bagus, karena PLN menyadari bahwa saat ini listrik merupakan kebutuhan utama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat,” imbuhnya.

Di tengah gencarnya pembangunan yang dilakukan, PLN juga masih memberikan kontribusi kepada negara sejak tahun 2015 melalui dalam bentuk pajak dan deviden yang jumlahnya mencapai Rp 199,5 triliun.

“Patut kita apresiasi apa yang sudah dilakukan oleh PLN saat ini. Mereka pada tahun ini berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp 5,9 triliun dengan berbagai macam inovasi dan efisiensi yang dilakukan,” puji Mamit.

Dia juga menyampaikan, efisiensi yang dilakukan saat ini tidak mengurangi keandalan pasokan listrik kepada masyarakat.

“Jangan sampai nanti terjadi black out kembali, karena listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Bisa terganggu nanti roda perekonomian,” pintanya.

Sementara terkait dengan tarif adjustment, Mamit meminta pemerintah dan DPR mengkaji kembali tarif saat ini. Menurut dia, saat ini tarif listrik PLN sudah sangat murah jika dibandingkan biaya pokok produksinya.

“Beban keuangan PLN sudah semakin berat, sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi tarif listrik PLN. Sejak tahun 2017 tarif listrik tidak pernah mengalami kenaikan untuk semua golongan,” tandas Mamit. [NOV]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories