Jakarta Keluar Dari 10 Kota Termacet Dunia Kondisi Jakarta Abnormal Anies Tak Pantas Bangga

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebaiknya tidak perlu gembira berlebihan dengan penilaian TomTom Traffic Index, yang mengeluarkan Ibu Kota dari 10 besar kota termacet di dunia. Sebab, saat ini kondisi jalanan sedang dalam kondisi tidak normal akibat pandemi Corona.

Penurunan kemacetan di Ibu Kota dampak dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan DKI Jakarta sejak Maret 2020. PSBB membuat aktivitas masyarakat mengalami penurunan. Sebab, Pemprov DKI membatasi operasional mall, restoran, dan hotel. Selain itu, membatasi kapasitas perkantoran, fasilitas umum, dan layanan transportasi.

Penurunan drastis kemacetan di Jakarta diakui warga Ibu Kota. “Saya sering lewat Jalan Daan Mogot, tapi sepi. Biasanya di jalan ini, pagi arah Jakarta Macet, sore arah Tangerang lebih macet. Sekarang kadang sering sepinya,” kata Trisna, warga Pedongkelan, Cengkareng, kemarin.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno heran dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang bangga dengan penghargaan penurunan kemacetan. Sebab, kondisi Ibu Kota sedang abnormal.

“Yang kasih penghargaan dan yang menerima penghargaan lebay,” sentil Djoko, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini menyebut, selama pandemi kegiatan perkantoran, dibatasi. Pergerakan warga commuter dari daerah penyangga berkurang drastis.

Dia yakin, jika kondisi normal, DKI Jakarta tetap macet. Apalagi, sistem transportasi massal belum maksimal. Terutama, integrasi transportasi dengan wilayah tetangga.

“Ada kemajuan bidang transportasi, tapi belum signifikan. Jangan hanya Jakarta saja yang dibenahi. Transportasi Bodetabek juga harus dibenahi,” saran Djoko.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak juga menyindir Anies yang pamer Jakarta tidak lagi menempati jajaran 10 besar kota termacet dunia. Ditegaskannya, kondisi kemacetan Jakarta berkurang pada tahun 2020 bukan hasil dari kebijakan Anies. “Pandemi yang bikin DKI tidak macet,” kata Gilbert.

Dikatakannya, sebagai pusat perekonomian, DKI Jakarta sangat terpukul selama pandemi. Angka penularan Covid-19 di DKI sangat tinggi, sehingga masyarakat enggan keluar rumah.

 

Mobilitas Menurun

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo memaparkan, volume lalu lintas di Jakarta mengalami peningkatan selama pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap awal.

Syafrin menerangkan, rentang 11 Januari hingga 2 Februari 2021, volume lalu lintas meningkat 11,44 persen jika dibandingkan selama PSBB Transisi periode 12 hingga 23 Oktober 2020.

Sementara, untuk mobilitas masyarakat selama rentang waktu tersebut mengalami penurunan. Untuk pergerakan masyarakat ke retail dan rekreasi menurun 2,3 persen. Kemudian pergerakan masyarakat ke toko bahan makanan dan apotek menurun 7,26 persen, pergerakan ke pusat transportasi umum menurun 4,5 persen, serta pergerakan ke tempat kerja menurun 2,58 persen. Aktivitas bersepeda juga turun 38,7 persen karena musim hujan.

Untuk jumlah penumpang angkutan perkotaan, lanjutnya, mengalami peningkatan sebesar 8,71 persen. Dan, untuk jumlah penumpang antar kota antar provinsi (AKAP) turun sebesar 19,98 persen.

Sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan menyebut, DKI Jakarta berhasil keluar dari 10 besar kota termacet di dunia tahun 2020. Dipaparkan Anies, pada 2017 DKI berada di urutan keempat kota termacet di dunia, berangsur membaik di urutan ketujuh pada 2018 dan di urutan ke-10 pada 2019.

Pencapaian DKI keluar dari urutan 10 besar kota termacet di dunia berdasarkan penilaian lembaga TomTom Traffic Index. TomTom menempatkan DKI Jakarta di urutan ke-31 dari 216 kota besar di dunia.

Peringkat tersebut merupakan hasil penilaian tingkat kemacetan tahun 2020 yang kini berada di angka rata-rata 36 persen. Angka rata-rata kemacetan tersebut jauh berkurang dibandingkan tahun 2019 yang dicatat TomTom mencapai 53 persen.

Adapun catatan penilaian TomTom, tingkat kemacetan Jakarta di tahun 2020 berada di titik terendah saat penerapan PSBB April 2020, yakni hanya 11 persen saja.

Sedangkan tingkat kemacetan tertinggi tahun 2020, yakni Februari 2020, sebelum kasus Covid-19 ditemukan di Indonesia. Angka kemacetan mencapai 61 persen. [FAQ]

]]> Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sebaiknya tidak perlu gembira berlebihan dengan penilaian TomTom Traffic Index, yang mengeluarkan Ibu Kota dari 10 besar kota termacet di dunia. Sebab, saat ini kondisi jalanan sedang dalam kondisi tidak normal akibat pandemi Corona.

Penurunan kemacetan di Ibu Kota dampak dari penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan DKI Jakarta sejak Maret 2020. PSBB membuat aktivitas masyarakat mengalami penurunan. Sebab, Pemprov DKI membatasi operasional mall, restoran, dan hotel. Selain itu, membatasi kapasitas perkantoran, fasilitas umum, dan layanan transportasi.

Penurunan drastis kemacetan di Jakarta diakui warga Ibu Kota. “Saya sering lewat Jalan Daan Mogot, tapi sepi. Biasanya di jalan ini, pagi arah Jakarta Macet, sore arah Tangerang lebih macet. Sekarang kadang sering sepinya,” kata Trisna, warga Pedongkelan, Cengkareng, kemarin.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno heran dengan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang bangga dengan penghargaan penurunan kemacetan. Sebab, kondisi Ibu Kota sedang abnormal.

“Yang kasih penghargaan dan yang menerima penghargaan lebay,” sentil Djoko, kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata ini menyebut, selama pandemi kegiatan perkantoran, dibatasi. Pergerakan warga commuter dari daerah penyangga berkurang drastis.

Dia yakin, jika kondisi normal, DKI Jakarta tetap macet. Apalagi, sistem transportasi massal belum maksimal. Terutama, integrasi transportasi dengan wilayah tetangga.

“Ada kemajuan bidang transportasi, tapi belum signifikan. Jangan hanya Jakarta saja yang dibenahi. Transportasi Bodetabek juga harus dibenahi,” saran Djoko.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak juga menyindir Anies yang pamer Jakarta tidak lagi menempati jajaran 10 besar kota termacet dunia. Ditegaskannya, kondisi kemacetan Jakarta berkurang pada tahun 2020 bukan hasil dari kebijakan Anies. “Pandemi yang bikin DKI tidak macet,” kata Gilbert.

Dikatakannya, sebagai pusat perekonomian, DKI Jakarta sangat terpukul selama pandemi. Angka penularan Covid-19 di DKI sangat tinggi, sehingga masyarakat enggan keluar rumah.

 

Mobilitas Menurun

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta, Syafrin Liputo memaparkan, volume lalu lintas di Jakarta mengalami peningkatan selama pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tahap awal.

Syafrin menerangkan, rentang 11 Januari hingga 2 Februari 2021, volume lalu lintas meningkat 11,44 persen jika dibandingkan selama PSBB Transisi periode 12 hingga 23 Oktober 2020.

Sementara, untuk mobilitas masyarakat selama rentang waktu tersebut mengalami penurunan. Untuk pergerakan masyarakat ke retail dan rekreasi menurun 2,3 persen. Kemudian pergerakan masyarakat ke toko bahan makanan dan apotek menurun 7,26 persen, pergerakan ke pusat transportasi umum menurun 4,5 persen, serta pergerakan ke tempat kerja menurun 2,58 persen. Aktivitas bersepeda juga turun 38,7 persen karena musim hujan.

Untuk jumlah penumpang angkutan perkotaan, lanjutnya, mengalami peningkatan sebesar 8,71 persen. Dan, untuk jumlah penumpang antar kota antar provinsi (AKAP) turun sebesar 19,98 persen.

Sebelumnya, Gubernur Anies Baswedan menyebut, DKI Jakarta berhasil keluar dari 10 besar kota termacet di dunia tahun 2020. Dipaparkan Anies, pada 2017 DKI berada di urutan keempat kota termacet di dunia, berangsur membaik di urutan ketujuh pada 2018 dan di urutan ke-10 pada 2019.

Pencapaian DKI keluar dari urutan 10 besar kota termacet di dunia berdasarkan penilaian lembaga TomTom Traffic Index. TomTom menempatkan DKI Jakarta di urutan ke-31 dari 216 kota besar di dunia.

Peringkat tersebut merupakan hasil penilaian tingkat kemacetan tahun 2020 yang kini berada di angka rata-rata 36 persen. Angka rata-rata kemacetan tersebut jauh berkurang dibandingkan tahun 2019 yang dicatat TomTom mencapai 53 persen.

Adapun catatan penilaian TomTom, tingkat kemacetan Jakarta di tahun 2020 berada di titik terendah saat penerapan PSBB April 2020, yakni hanya 11 persen saja.

Sedangkan tingkat kemacetan tertinggi tahun 2020, yakni Februari 2020, sebelum kasus Covid-19 ditemukan di Indonesia. Angka kemacetan mencapai 61 persen. [FAQ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories