Jakarta Balik Ke PPKM Level 2 Anies Masih Bisa Makan Di Warteg

Pemerintah memutuskan menaikkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di DKI Jakarta dari Level 1 ke Level 2. Kondisi ini tidak membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan panik. Anies masih bisa makan di warteg dengan santai.

Pemerintah memutuskan memperpanjang kebijakan PPKM selama dua pekan, terhitung 4-17 Januari 2022. Perpanjangan PPKM itu tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 1 Tahun 2022 tentang PPKM Level 3, 2 dan 1 di wilayah Jawa dan Bali. Dalam beleid yang diteken Mendagri Tito Karnavian itu, ada empat provinsi yang mengalami kenaikan status dari level 1 ke level 2, yaitu DKI Jakarta, Banten, DI Yogyakarta, dan Bali. Selain itu, kenaikan status ke level 2 terjadi di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Dengan kenaikan level itu, kebijakan pembatasan sosial kembali diberlakukan. Aturan pembatasan sosial agak lebih ketat sedikit dibanding level 1. Supermarket dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari masih bisa buka. Hanya saja dibatasi jam operasional sampai dengan pukul 9 malam dengan kapasitas pengunjung maksimal 75 persen. Rumah makan juga masih diizinkan buka dan menyajikan makan di tempat dengan protokol kesehatan sampai pukul 21.00, kapasitas maksimal 50 persen, dan waktu makan 60 menit.

Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyebut, kenaikan status PPKM untuk DKI itu tak berkaitan dengan penambahan kasus Covid di ibu kota. Menurut dia, kenaikan level itu karena penanganan Covid di daerah penyangga Jakarta masih buruk. Daerah penyangga yang dimaksud adalah Bogor, Depok, Tangerang Raya, dan Bekasi (Bodetabek).

Riza mengklaim, penanganan Corona di Jakarta sudah baik. Vaksinasi misalnya, sudah melebihi target. Begitu juga dengan penyebaran Corona, angka kematian, dan keterisian rumah sakit, semua rendah.

Riza juga menegaskan, peningkatan status PPKM Level 2 di Jakarta tidak ada kaitannya dengan penambahan kasus Covid-19 varian Omicron yang kini berjumlah 252 kasus. “Soalnya, kasus tersebut kebanyakan adalah pelaku perjalanan luar negeri. Bukan kasus lokal,” kata politisi Partai Gerindra itu, di Balaikota, Jakarta, kemarin.

Menurut catatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, per kemarin, ada penambahan kasus Omicron sebanyak 90. Dengan tambahan tersebut, total kasus Omicron di ibu kota ada 252. Dari jumlah tersebut, 239 merupakan kasus yang berasal dari luar negeri (imported case). Sedangkan 13 lainnya merupakan transmisi lokal. Seluruh pasien kini menjalani perawatan di Wisma Atlet dan di RSPI Sulianti Saroso.

Sementara, total kasus aktif di Jakarta kini berjumlah 768 orang. Kasus aktif ialah jumlah orang yang sedang menjalani perawatan baik di rumah sakit atau isolasi secara mandiri dan terpusat.

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan, meski ada penambahan kasus, persentase kasus positif di Jakarta sepekan terakhir masih rendah, yaitu sebesar 0,8 persen. Angka ini masih jauh dari batas yang ditentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu tidak lebih dari 5 persen.

Sementara itu, Anies sepertinya santai saja menanggapi kenaikan status PPKM di DKI. Eks Rektor Universitas Paramadina itu justru mengunggah foto saat makan di Warteg Peong, di akun Instagram miliknya, @aniesbaswedan, kemarin.

Warteg yang disambangi Anies berada di Kawasan Ancol, Jakarta Utara. Anies bukan pertama kali makan siang di warteg ini. Saat kampanye Pilgub 2017, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini juga makan di warteg ini. Saat itu, foto Anies makan di warteg tersebut menjadi viral setelah warganet mengunggah momen saat Anies yang tiba-tiba berhenti mengunyah ketika makan. Ekspresi Anies yang berhenti mengunyah ini disebutnya karena “menggigit lengkuas”.

“Kemarin makan siang lagi di sini, memesan telur balado yang dicampur dengan siraman orek tempe basah, TANPA LENGKUAS,” tulis Anies.

Dia lalu menceritakan bagaimana warteg ini mempertahankan cita rasa dengan cara selalu memperhatikan pemilihan bahan masakan yang berkualitas. Bahkan, sejak dibuka pada 2009 hingga saat ini, tidak ada yang berubah.

“Tak heran dalam sehari Pak Rohaedy (pemilik warteg) bisa melayani hingga ratusan pelanggan di warungnya. Ini mungkin merupakan kunjungan kedua saya di Warteg Peong tetapi citarasa dari masakannya akan selalu dirindukan,” tutup Anies.

Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono menilai, kenaikan status PPKM di DKI Jakarta berlebihan. Soalnya, penanganan Corona di Jakarta masih baik. Memang ada kasus Omicron, namun itu ditemukan di Wisma Atlet, sehingga tak bisa dikategorikan sebagai transmisi komunitas.

Menurut dia, angka pasien Corona di rumah sakit juga tak menunjukkan peningkatan di tengah laporan catatan kasus Omicron. “Kecemasan yang berlebihan dorong PPKM di Jakarta dinaikkan ke Level 2. Statistik kasus di Jakarta meningkat disebabkan sumbangan temuan PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri) yang dikarantina di Wisma Atlet,” cuit Pandu, di akun Twitter miliknya, @drpriono1.

“Kenaikan kasus hanya tambahan kasus dari PPLN, bukan refleksi kenaikan penularan di komunitas dan alasan lain yang non epidemiologi,” tambahnya. [BCG]

]]> Pemerintah memutuskan menaikkan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di DKI Jakarta dari Level 1 ke Level 2. Kondisi ini tidak membuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan panik. Anies masih bisa makan di warteg dengan santai.

Pemerintah memutuskan memperpanjang kebijakan PPKM selama dua pekan, terhitung 4-17 Januari 2022. Perpanjangan PPKM itu tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 1 Tahun 2022 tentang PPKM Level 3, 2 dan 1 di wilayah Jawa dan Bali. Dalam beleid yang diteken Mendagri Tito Karnavian itu, ada empat provinsi yang mengalami kenaikan status dari level 1 ke level 2, yaitu DKI Jakarta, Banten, DI Yogyakarta, dan Bali. Selain itu, kenaikan status ke level 2 terjadi di beberapa kabupaten dan kota di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. 

Dengan kenaikan level itu, kebijakan pembatasan sosial kembali diberlakukan. Aturan pembatasan sosial agak lebih ketat sedikit dibanding level 1. Supermarket dan pasar swalayan yang menjual kebutuhan sehari-hari masih bisa buka. Hanya saja dibatasi jam operasional sampai dengan pukul 9 malam dengan kapasitas pengunjung maksimal 75 persen. Rumah makan juga masih diizinkan buka dan menyajikan makan di tempat dengan protokol kesehatan sampai pukul 21.00, kapasitas maksimal 50 persen, dan waktu makan 60 menit.

Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menyebut, kenaikan status PPKM untuk DKI itu tak berkaitan dengan penambahan kasus Covid di ibu kota. Menurut dia, kenaikan level itu karena penanganan Covid di daerah penyangga Jakarta masih buruk. Daerah penyangga yang dimaksud adalah Bogor, Depok, Tangerang Raya, dan Bekasi (Bodetabek).

Riza mengklaim, penanganan Corona di Jakarta sudah baik. Vaksinasi misalnya, sudah melebihi target. Begitu juga dengan penyebaran Corona, angka kematian, dan keterisian rumah sakit, semua rendah.

Riza juga menegaskan, peningkatan status PPKM Level 2 di Jakarta tidak ada kaitannya dengan penambahan kasus Covid-19 varian Omicron yang kini berjumlah 252 kasus. “Soalnya, kasus tersebut kebanyakan adalah pelaku perjalanan luar negeri. Bukan kasus lokal,” kata politisi Partai Gerindra itu, di Balaikota, Jakarta, kemarin.

Menurut catatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, per kemarin, ada penambahan kasus Omicron sebanyak 90. Dengan tambahan tersebut, total kasus Omicron di ibu kota ada 252. Dari jumlah tersebut, 239 merupakan kasus yang berasal dari luar negeri (imported case). Sedangkan 13 lainnya merupakan transmisi lokal. Seluruh pasien kini menjalani perawatan di Wisma Atlet dan di RSPI Sulianti Saroso.

Sementara, total kasus aktif di Jakarta kini berjumlah 768 orang. Kasus aktif ialah jumlah orang yang sedang menjalani perawatan baik di rumah sakit atau isolasi secara mandiri dan terpusat.

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia mengatakan, meski ada penambahan kasus, persentase kasus positif di Jakarta sepekan terakhir masih rendah, yaitu sebesar 0,8 persen. Angka ini masih jauh dari batas yang ditentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu tidak lebih dari 5 persen.

Sementara itu, Anies sepertinya santai saja menanggapi kenaikan status PPKM di DKI. Eks Rektor Universitas Paramadina itu justru mengunggah foto saat makan di Warteg Peong, di akun Instagram miliknya, @aniesbaswedan, kemarin.

Warteg yang disambangi Anies berada di Kawasan Ancol, Jakarta Utara. Anies bukan pertama kali makan siang di warteg ini. Saat kampanye Pilgub 2017, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini juga makan di warteg ini. Saat itu, foto Anies makan di warteg tersebut menjadi viral setelah warganet mengunggah momen saat Anies yang tiba-tiba berhenti mengunyah ketika makan. Ekspresi Anies yang berhenti mengunyah ini disebutnya karena “menggigit lengkuas”.

“Kemarin makan siang lagi di sini, memesan telur balado yang dicampur dengan siraman orek tempe basah, TANPA LENGKUAS,” tulis Anies.

Dia lalu menceritakan bagaimana warteg ini mempertahankan cita rasa dengan cara selalu memperhatikan pemilihan bahan masakan yang berkualitas. Bahkan, sejak dibuka pada 2009 hingga saat ini, tidak ada yang berubah.

“Tak heran dalam sehari Pak Rohaedy (pemilik warteg) bisa melayani hingga ratusan pelanggan di warungnya. Ini mungkin merupakan kunjungan kedua saya di Warteg Peong tetapi citarasa dari masakannya akan selalu dirindukan,” tutup Anies.

Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono menilai, kenaikan status PPKM di DKI Jakarta berlebihan. Soalnya, penanganan Corona di Jakarta masih baik. Memang ada kasus Omicron, namun itu ditemukan di Wisma Atlet, sehingga tak bisa dikategorikan sebagai transmisi komunitas.

Menurut dia, angka pasien Corona di rumah sakit juga tak menunjukkan peningkatan di tengah laporan catatan kasus Omicron. “Kecemasan yang berlebihan dorong PPKM di Jakarta dinaikkan ke Level 2. Statistik kasus di Jakarta meningkat disebabkan sumbangan temuan PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri) yang dikarantina di Wisma Atlet,” cuit Pandu, di akun Twitter miliknya, @drpriono1.

“Kenaikan kasus hanya tambahan kasus dari PPLN, bukan refleksi kenaikan penularan di komunitas dan alasan lain yang non epidemiologi,” tambahnya. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories