Jaga Marwah NU, Gus Jazil Alihkan Dukungan ke Samsul Maarif .

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid memutuskan untuk mundur dari pencalonan ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Dia mengalihkan dukungannya kepada petahana KH Samsul Ma’arif dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU DKI Jakarta yang dibuka hari ini.

Gus Jazil, sapaan Jazilul Fawaiz, mengaku memilih mundur dari Konferwil agar pemilihan ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta bisa dilakukan dengan cara musyawarah mufakat.

Dia berharap pelaksanaan Konferwil yang berlangsung hingga Minggu mendatang bisa berlangsung secara tertib dan lancar, serta mengedepankan visi keulamaan.

“Kalau bisa Konferwil ini tidak melakukan voting, tapi musyawarah mufakat. Ini yang dari awal saya harapkan,” ujar Gus Jazil di sela Pembukaan Konferwil XX PWNU DKI di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (2/4).

Dikatakan Gus Jazil, karena sebelumnya pihaknya sudah melakukan deklarasi dukungan dari PC Jakarta Timur, maka dirinya mengalihkan dukungan tersebut kepada calon petahana KH Samsul Ma’arif.

“Saya bersama Pak Samsul ini sahabat sejak di Pengurus Cabang PMII Jakarta Selatan, dan beliau dari sisi waktu lebih longgar. Beliau juga doktor, sama-sama kader NU maka saya menyerahkan dukungan ke Bapak Samsul Ma’arif,” tuturnya.

Dirinya berharap, beberapa calon lain juga mengedepankan musyawarah ketimbang voting. “DKI Jakarta di Konferwil ke XX harus memiliki contoh yang baik, membuat tradisi baru, memilih ketua Tanfidziyah dengan cara musyawarah mufakat,” harap Gus Jazil.

Meski mundur dari Konferwil, dia memastikan akan tetap mengabdi kepada NU, khususnya di DKI Jakarta.

“Karena para pendukung saya terus mendorong saya maju dan bisa berkiprah di DKI maka saya menyerahkan nanti kepada siapapun yang terpilih, khususnya Pak Samsul jika terpilih untuk menyerap, mendengarkan aspirasi dari relawan pendukung saya, utamanya PC Jaktim dan MWC Jakpus,” ucapnya.

Ditanya soal kemungkinan dirinya dipilih menjadi Rais Syuriyah, Gus Jazil menjawab diplomatis. Menurutnya, dalam hidup, semua kemungkinan ada. Namun menurutnya, masih banyak kiai yang lebih pantas untuk menduduki posisi Rais Syuriyah.

“Saya kalau duduk disitu nggak mau, su’ul adab namanya. Masih banyak kiai yang lebih sepuh,” beber Gus Jazil.

Menanggapi dukungan dari Gus Jazil, Kiai Samsul sependapat, sebaiknya NU DKI menjadi pioner untuk memilih ketua Tanfidziyah dengan cara musyawarah mufakat.

“Cara musyawarah mufakat itu saya kita yang terbaik, dan ini bisa menjadi contoh konferwil-konferwil di wliayah lain,” katanya.

Samsul juga meminta agar ke depan Gus Jazil tetap mau berkiprah dan mengabdi untuk NU DKI. “Saya kira ini kombinasi yang bagus. Muda, visioner, sama-sama berlatar pesantren dan akademisi. Tinggal nanti mengajak tokoh-tokoh lain untuk bersama,” bebernya.

Dia berharap, calon-calon lain untuk berkumpul, dan menyelesaikan pemilihan tanpa adu apa-apa. “Saya kita itu jauh lebih baik. Tinggal nanti 13 orang itu kelihatan siapa yang paling pantas. Saya kira kalau mau duduk bareng Insyaallah sudah bisa jalan, dan itu harus dijadikan tradisi membangun NU ke depan,” tutur Samsul.

Sementara itu, Ketua PCNU Jakarta Timur Gus Azaz Rulyaqien setuju untuk mengalihkan dukungan yang semula diberikan kepada Gus Jazil, ke Kiai Samsul.

“Kiai (Jazil) mengambil langkah bijak tidak memaksakan diri. Kami dari PCNU Jaktim akan memberikan hak suara dukungan dari Kiai Jazil ke Kiai Samsul Ma’arif. Semoga pemilihan ketua Tanfidziyah PWNU DKI bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat sehingga menjadi teladan karena NU adalah ormas sosial keagamaan,” ujarnya.

Konferwil XX PWNU DKI dibuka oleh ketua PBNU KH Marsyudi Syuhud. Selain nama KH Samsul Ma’arif, ada sejumlah nama lain yang menjadi calon. Di antaranya Sekda DKI Marullah Matali, KH Zainal Arifin Naim, Habib Salim Jindan, KH Achmad Fauzan Harun, H Tatang Hidayat, dan KH Syarif. [TIF]

]]> .
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid memutuskan untuk mundur dari pencalonan ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta. Dia mengalihkan dukungannya kepada petahana KH Samsul Ma’arif dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) PWNU DKI Jakarta yang dibuka hari ini.

Gus Jazil, sapaan Jazilul Fawaiz, mengaku memilih mundur dari Konferwil agar pemilihan ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta bisa dilakukan dengan cara musyawarah mufakat.

Dia berharap pelaksanaan Konferwil yang berlangsung hingga Minggu mendatang bisa berlangsung secara tertib dan lancar, serta mengedepankan visi keulamaan.

“Kalau bisa Konferwil ini tidak melakukan voting, tapi musyawarah mufakat. Ini yang dari awal saya harapkan,” ujar Gus Jazil di sela Pembukaan Konferwil XX PWNU DKI di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (2/4).

Dikatakan Gus Jazil, karena sebelumnya pihaknya sudah melakukan deklarasi dukungan dari PC Jakarta Timur, maka dirinya mengalihkan dukungan tersebut kepada calon petahana KH Samsul Ma’arif.

“Saya bersama Pak Samsul ini sahabat sejak di Pengurus Cabang PMII Jakarta Selatan, dan beliau dari sisi waktu lebih longgar. Beliau juga doktor, sama-sama kader NU maka saya menyerahkan dukungan ke Bapak Samsul Ma’arif,” tuturnya.

Dirinya berharap, beberapa calon lain juga mengedepankan musyawarah ketimbang voting. “DKI Jakarta di Konferwil ke XX harus memiliki contoh yang baik, membuat tradisi baru, memilih ketua Tanfidziyah dengan cara musyawarah mufakat,” harap Gus Jazil.

Meski mundur dari Konferwil, dia memastikan akan tetap mengabdi kepada NU, khususnya di DKI Jakarta.

“Karena para pendukung saya terus mendorong saya maju dan bisa berkiprah di DKI maka saya menyerahkan nanti kepada siapapun yang terpilih, khususnya Pak Samsul jika terpilih untuk menyerap, mendengarkan aspirasi dari relawan pendukung saya, utamanya PC Jaktim dan MWC Jakpus,” ucapnya.

Ditanya soal kemungkinan dirinya dipilih menjadi Rais Syuriyah, Gus Jazil menjawab diplomatis. Menurutnya, dalam hidup, semua kemungkinan ada. Namun menurutnya, masih banyak kiai yang lebih pantas untuk menduduki posisi Rais Syuriyah.

“Saya kalau duduk disitu nggak mau, su’ul adab namanya. Masih banyak kiai yang lebih sepuh,” beber Gus Jazil.

Menanggapi dukungan dari Gus Jazil, Kiai Samsul sependapat, sebaiknya NU DKI menjadi pioner untuk memilih ketua Tanfidziyah dengan cara musyawarah mufakat.

“Cara musyawarah mufakat itu saya kita yang terbaik, dan ini bisa menjadi contoh konferwil-konferwil di wliayah lain,” katanya.

Samsul juga meminta agar ke depan Gus Jazil tetap mau berkiprah dan mengabdi untuk NU DKI. “Saya kira ini kombinasi yang bagus. Muda, visioner, sama-sama berlatar pesantren dan akademisi. Tinggal nanti mengajak tokoh-tokoh lain untuk bersama,” bebernya.

Dia berharap, calon-calon lain untuk berkumpul, dan menyelesaikan pemilihan tanpa adu apa-apa. “Saya kita itu jauh lebih baik. Tinggal nanti 13 orang itu kelihatan siapa yang paling pantas. Saya kira kalau mau duduk bareng Insyaallah sudah bisa jalan, dan itu harus dijadikan tradisi membangun NU ke depan,” tutur Samsul.

Sementara itu, Ketua PCNU Jakarta Timur Gus Azaz Rulyaqien setuju untuk mengalihkan dukungan yang semula diberikan kepada Gus Jazil, ke Kiai Samsul.

“Kiai (Jazil) mengambil langkah bijak tidak memaksakan diri. Kami dari PCNU Jaktim akan memberikan hak suara dukungan dari Kiai Jazil ke Kiai Samsul Ma’arif. Semoga pemilihan ketua Tanfidziyah PWNU DKI bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat sehingga menjadi teladan karena NU adalah ormas sosial keagamaan,” ujarnya.

Konferwil XX PWNU DKI dibuka oleh ketua PBNU KH Marsyudi Syuhud. Selain nama KH Samsul Ma’arif, ada sejumlah nama lain yang menjadi calon. Di antaranya Sekda DKI Marullah Matali, KH Zainal Arifin Naim, Habib Salim Jindan, KH Achmad Fauzan Harun, H Tatang Hidayat, dan KH Syarif. [TIF]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories