Jadikan Kritik Sebagai Obat SBY: Pemimpin Jangan Cuma Mau Gulanya Saja

Setelah Jusuf Kalla, gantian Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bicara soal kritik. Selain kritik, SBY bicara juga soal pujian. Kata SBY, kritik dan pujian seperti obat dan gula.

Perumpamaan itu disampaikan SBY lewat cuitan di akun Twitternya, @SBYudhoyono, kemarin. Ada dua poin yang ditulisnya. Pertama, SBY membicarakan soal obat dan gula.

“Obat itu rasanya pahit. Namun bisa mencegah atau menyembuhkan penyakit. Jika obatnya tepat dan dosisnya juga tepat, akan membuat seseorang jadi sehat,” cuit Presiden RI keenam itu.

Kemudian, Ketua Dewan Majelis Tinggi Partai Demokrat itu membandingkan obat yang pahit, dengan gula yang manis. “Gula itu rasanya manis, tetapi kalau dikonsumsi secara berlebihan bisa mendatangkan penyakit,” tulisnya dengan menyertakan tanda bahwa cuitan itu ditulis langsung oleh SBY.

Di cuitan kedua, SBY kemudian menjelaskan maksud dari obat dan gula. Obat yang pahit adalah kritik. Maksudnya, kritik itu laksana obat dan yang dikritik bisa “sakit”. Namun, kalau kritiknya benar dan bahasanya tidak kasar, bisa mencegah kesalahan.

“Sementara, pujian dan sanjungan itu laksana gula. Jika berlebihan dan hanya untuk menyenangkan, justru bisa menyebabkan kegagalan,” lanjutnya.

Cuitan SBY itu kemudian mendapat banyak komentar, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian menilai tak ada yang salah dengan tulisan SBY. Hal itu sesuai dengan budaya demokrasi. Lagipula, perbedaan dalam berdemokrasi merupakan hal yang wajar. Jadi, kritik itu tak boleh dimasukkan ke dalam hati.

“Pemerintah sadar bahwa setiap kebijakannya itu mendapatkan kritik. Tapi kan biasa saja. Tidak disikapinya secara berlebihan,” kata Donny kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, pemimpin justru tak boleh selalu mendapatkan pujian. Hal itu akan berdampak buruk bagi proses pemerintahan. Pemerintah bisa lalai menjalankan kewajibannya. “Jadi, kritik itu diperlukan agar pemimpin itu bisa mengelola negara dengan benar dan baik,” katanya.

Karena itu, dia mempersilakan kepada masyarakat untuk mengeritik kebijakan pemerintah. Meskipun tanpa solusi dari pengeritik.

 

“Karena solusi itu memang tugasnya pemerintah. Tapi, kalau pengeritik itu memberikan solusi, tentu lebih baik agar pemerintah bisa mempertimbangkannya juga,” katanya.

Hanya saja, dia mengingatkan tentang perbedaan kritik dengan fitnah. Jangan sampai, masyarakat menuding pemerintah tanpa bukti yang jelas.

“Misalnya, dikatakan dengan sengaja data bansos itu dimanipulasi untuk kepentingan politik jangka pendek. Nah itu fitnah. Tidak ada dasarnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. Politisi PKB ini meminta masyarakat tidak menggunakan bahasa yang kasar dalam memberikan kritik. Sebab, kritik seringkali juga menyakitkan bila salah bahasa, tempat dan sasaran.

“Karena itu, dalam agama bukan kritik, tapi nasihat. Namun nasehat apalagi kepada penguasa tidak boleh dilakukan dengan bahasa yang kasar dan di ruang terbuka,” katanya kepada Rakyat Merdeka melalui pesan singkatnya, semalam.

Di dunia maya, cuitan yang dibuat SBY menuai pro dan kontra. Ada yang setuju, tidak sedikit juga yang malah mengkritik balik SBY. Akun @andyfian76 membandingkan pemerintahan SBY dengan Jokowi. “Hebatnya zaman bapak memimpin, kritik keras untuk pemerintah enggak ada yang ngaduin ke polisi, engak ada yang ditangkap, enggak ada yang maki-maki. Beda banget sama sekarang, seakan-seakan demokrasi sudah mati!!!,” cuitnya. “Contoh kritik keras yang ditangkap yang mana ya?” timpal @jimmySitorus9.

Namun, banyak juga yang malah nyinyir dengan cuitan SBY. Akun @KamarwanJajang meminta SBY tak ikut mengganggu pemerintahan saat ini. “Akui saja kesalahan di zaman anda dulu, biar presiden saat ini bekerja dan jangan pernah mengganggunya. Anda sudah diberi waktu 2 periode untuk membangun negeri ini jadi baik, tapi anda tidak bisa memanage pembangunan dengan baik. Waktu anda sudah habis,” tulisnya.

Untuk diketahui, pembahasan soal kritik menjadi ramai usai Presiden Jokowi mengajak masyarakat menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Bahkan, Jokowi mengaku tidak akan marah terhadap kritik keras yang disampaikan rakyat terkait kebijakan pemerintah.

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla ikut berkomentar soal kritik. Menurut JK, demokrasi tanpa kritik, bisa membuat kepemimpinan runtuh. Contohnya, Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun, akhirnya tumbang karena tidak menyediakan ruang kritik untuk rakyat. [QAR]

]]> Setelah Jusuf Kalla, gantian Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang bicara soal kritik. Selain kritik, SBY bicara juga soal pujian. Kata SBY, kritik dan pujian seperti obat dan gula.

Perumpamaan itu disampaikan SBY lewat cuitan di akun Twitternya, @SBYudhoyono, kemarin. Ada dua poin yang ditulisnya. Pertama, SBY membicarakan soal obat dan gula.

“Obat itu rasanya pahit. Namun bisa mencegah atau menyembuhkan penyakit. Jika obatnya tepat dan dosisnya juga tepat, akan membuat seseorang jadi sehat,” cuit Presiden RI keenam itu.

Kemudian, Ketua Dewan Majelis Tinggi Partai Demokrat itu membandingkan obat yang pahit, dengan gula yang manis. “Gula itu rasanya manis, tetapi kalau dikonsumsi secara berlebihan bisa mendatangkan penyakit,” tulisnya dengan menyertakan tanda bahwa cuitan itu ditulis langsung oleh SBY.

Di cuitan kedua, SBY kemudian menjelaskan maksud dari obat dan gula. Obat yang pahit adalah kritik. Maksudnya, kritik itu laksana obat dan yang dikritik bisa “sakit”. Namun, kalau kritiknya benar dan bahasanya tidak kasar, bisa mencegah kesalahan.

“Sementara, pujian dan sanjungan itu laksana gula. Jika berlebihan dan hanya untuk menyenangkan, justru bisa menyebabkan kegagalan,” lanjutnya.

Cuitan SBY itu kemudian mendapat banyak komentar, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Donny Gahral Adian menilai tak ada yang salah dengan tulisan SBY. Hal itu sesuai dengan budaya demokrasi. Lagipula, perbedaan dalam berdemokrasi merupakan hal yang wajar. Jadi, kritik itu tak boleh dimasukkan ke dalam hati.

“Pemerintah sadar bahwa setiap kebijakannya itu mendapatkan kritik. Tapi kan biasa saja. Tidak disikapinya secara berlebihan,” kata Donny kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurutnya, pemimpin justru tak boleh selalu mendapatkan pujian. Hal itu akan berdampak buruk bagi proses pemerintahan. Pemerintah bisa lalai menjalankan kewajibannya. “Jadi, kritik itu diperlukan agar pemimpin itu bisa mengelola negara dengan benar dan baik,” katanya.

Karena itu, dia mempersilakan kepada masyarakat untuk mengeritik kebijakan pemerintah. Meskipun tanpa solusi dari pengeritik.

 

“Karena solusi itu memang tugasnya pemerintah. Tapi, kalau pengeritik itu memberikan solusi, tentu lebih baik agar pemerintah bisa mempertimbangkannya juga,” katanya.

Hanya saja, dia mengingatkan tentang perbedaan kritik dengan fitnah. Jangan sampai, masyarakat menuding pemerintah tanpa bukti yang jelas.

“Misalnya, dikatakan dengan sengaja data bansos itu dimanipulasi untuk kepentingan politik jangka pendek. Nah itu fitnah. Tidak ada dasarnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid. Politisi PKB ini meminta masyarakat tidak menggunakan bahasa yang kasar dalam memberikan kritik. Sebab, kritik seringkali juga menyakitkan bila salah bahasa, tempat dan sasaran.

“Karena itu, dalam agama bukan kritik, tapi nasihat. Namun nasehat apalagi kepada penguasa tidak boleh dilakukan dengan bahasa yang kasar dan di ruang terbuka,” katanya kepada Rakyat Merdeka melalui pesan singkatnya, semalam.

Di dunia maya, cuitan yang dibuat SBY menuai pro dan kontra. Ada yang setuju, tidak sedikit juga yang malah mengkritik balik SBY. Akun @andyfian76 membandingkan pemerintahan SBY dengan Jokowi. “Hebatnya zaman bapak memimpin, kritik keras untuk pemerintah enggak ada yang ngaduin ke polisi, engak ada yang ditangkap, enggak ada yang maki-maki. Beda banget sama sekarang, seakan-seakan demokrasi sudah mati!!!,” cuitnya. “Contoh kritik keras yang ditangkap yang mana ya?” timpal @jimmySitorus9.

Namun, banyak juga yang malah nyinyir dengan cuitan SBY. Akun @KamarwanJajang meminta SBY tak ikut mengganggu pemerintahan saat ini. “Akui saja kesalahan di zaman anda dulu, biar presiden saat ini bekerja dan jangan pernah mengganggunya. Anda sudah diberi waktu 2 periode untuk membangun negeri ini jadi baik, tapi anda tidak bisa memanage pembangunan dengan baik. Waktu anda sudah habis,” tulisnya.

Untuk diketahui, pembahasan soal kritik menjadi ramai usai Presiden Jokowi mengajak masyarakat menyampaikan kritik terhadap pemerintah. Bahkan, Jokowi mengaku tidak akan marah terhadap kritik keras yang disampaikan rakyat terkait kebijakan pemerintah.

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla ikut berkomentar soal kritik. Menurut JK, demokrasi tanpa kritik, bisa membuat kepemimpinan runtuh. Contohnya, Presiden Soeharto yang berkuasa 32 tahun, akhirnya tumbang karena tidak menyediakan ruang kritik untuk rakyat. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories