Jadi Tuan Rumah KTT G20, Momentum RI Berbenah

Presiden Jokowi direncanakan akan bertolak ke Roma, Italia, besok, untuk menerima tongkat estafet kepresidenan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Ini untuk pertama kalinya Indonesia menjadi presidensi KTT G20 sejak dibentuknya G20.

Terpilihnya Indonesia juga menjadi perhatian para pakar dalam diskusi “Menuju KTT G20 di Indonesia”yang digelar Lembaga Survei KedaiKOPI, kemarin.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said menilai, G20 sebagai kesempatan untuk berbenah untuk membangun persepsi dan reputasi bahwa Indonesia adalah mitra global yang menarik. 

“Yang negaranya demokratis dengan penduduk muslim terbesar di dunia tetapi stabil secara politik, marketnya bergairah dan terbuka kesempatan untuk kerja sama global,” ujarnya. 

Sudirman juga menegaskan, menjadi tuan rumah KTT G20 2022 adalah kesempatan Indonesia menjadi pemimpin yang menjembatani antara negara-negara yang masih berkembang dengan negara maju.

Pengamat Komunikasi Politik, Hendri Satrio mengatakan, secara politik menjadi tuan rumah G20 akan menjadi legacy yang bagus buat Jokowi, tapi juga akan menjadi sarana panggung politik yang harus diatur sedemikian rupa supaya tidak terjadi competition stage nanti pada saat pelaksanaannya.

“Jangan sampai ada perebutan panggung politik yang terjadi secara tidak langsung di G20, karena hal tersebut membuat perhatian publik akan terpecah-pecah dengan aksi para tokoh politik tersebut,” ujar Hendri.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Kamrussamad mengatakan, pelaksanaan presidensi G20 memiliki banyak manfaat baik secara ekonomi, pembangunan sosial serta politik tetapi juga memiliki tantangan. Menurut dia, walaupun Indonesia tergabung dalam G20 tetapi kita berada pada posisi masyarakat yang memiliki tantangan besar di mana angka pengangguran dan angka kemiskinan yang terus bertambah. 

“Pada kuartal II, angka kemiskinan ekstrem meningkat dari 3,8 menjadi 4 persen yaitu berada pada wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten dan DKI,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR dari Partai Golkar, Puteri A. Komarudin menyoroti, bagaimana upaya pemuda dalam meraih peluang di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Puteri yang juga menjabat sebagai Ketua Delegasi Indonesia di Y20 Summit 2021 yang merupakan salah satu rangkaian dalam Sherpa Track Meetings G20.

“Rekomendasi pemuda Y20 atas isu-isu kunci yang relevan dan menjadi persoalan universal bagi pemuda dan masyarakat global adalah inovasi digitalisasi dan masa depan pekerjaan, keberlanjutan iklim dan energi, serta inklusi dan kesetaraan” ujar Puteri.

Di sisi lain, Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr. Ninasapti Triaswati menilai, penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia harus dilihat dari dua aspek berbeda yaitu manfaat dan risiko. 

“Indonesia memiliki modal yang besar, terdapat 270 juta penduduk, artinya selama ini tanpa G20 pun atau tidak ada penyelenggaraan G20 di Indonesia, barang-barang yang kita jual-beli dari ekspor dan impor itu tetap berjalan” kata Dr. Ninasapti.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia juga memiliki kebermanfaatan, salah satunya di sektor pariwisata. Memang, adanya penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia 2022 ini dapat digunakan untuk mendorong pariwisata lebih cepat pulih pasca pandemi Covid-19.

 

Survei Lingkungan

Dalam kesempatan yang sama, Lembaga Survei KedaiKOPI juga meluncurkan hasil survei tentang Survei Persepsi Anak Muda Tentang Lingkungan Hidup dan Laut Natuna Menjelang G20.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menggarisbawahi, ketertarikan isu lingkungan hidup oleh generasi muda. Sebanyak 77,4 persen anak muda Indonesia menyatakan tertarik dengan isu lingkungan hidup. Apalagi isu lingkungan hidup merupakan salah satu isu utama yang coba diangkat oleh Pemerintah Indonesia di KTT G20 2022.

Di sisi lain, dalam isu Laut Natuna atau Laut China Selatan, 74,7 persen responden menyatakan bahwa besar kemungkinan konflik terbuka akan terjadi. Hal ini dapat menjadi pesan serius bagi Pemerintah Indonesia untuk terus memperhatikan isu Laut Natuna di pentas global seperti G20 terlebih pasca terbentuknya Pakta AUKUS. 

Survei Persepsi Anak Muda Tentang Lingkungan Hidup dan Laut Natuna Menjelang G20 diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI pada 14-21 Oktober 2021 dengan jumlah responden 1200 yang berusia 14-40 tahun di seluruh Indonesia. [DIT]

]]> Presiden Jokowi direncanakan akan bertolak ke Roma, Italia, besok, untuk menerima tongkat estafet kepresidenan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Ini untuk pertama kalinya Indonesia menjadi presidensi KTT G20 sejak dibentuknya G20.

Terpilihnya Indonesia juga menjadi perhatian para pakar dalam diskusi “Menuju KTT G20 di Indonesia”yang digelar Lembaga Survei KedaiKOPI, kemarin.

Ketua Institut Harkat Negeri, Sudirman Said menilai, G20 sebagai kesempatan untuk berbenah untuk membangun persepsi dan reputasi bahwa Indonesia adalah mitra global yang menarik. 

“Yang negaranya demokratis dengan penduduk muslim terbesar di dunia tetapi stabil secara politik, marketnya bergairah dan terbuka kesempatan untuk kerja sama global,” ujarnya. 

Sudirman juga menegaskan, menjadi tuan rumah KTT G20 2022 adalah kesempatan Indonesia menjadi pemimpin yang menjembatani antara negara-negara yang masih berkembang dengan negara maju.

Pengamat Komunikasi Politik, Hendri Satrio mengatakan, secara politik menjadi tuan rumah G20 akan menjadi legacy yang bagus buat Jokowi, tapi juga akan menjadi sarana panggung politik yang harus diatur sedemikian rupa supaya tidak terjadi competition stage nanti pada saat pelaksanaannya.

“Jangan sampai ada perebutan panggung politik yang terjadi secara tidak langsung di G20, karena hal tersebut membuat perhatian publik akan terpecah-pecah dengan aksi para tokoh politik tersebut,” ujar Hendri.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Gerindra, Kamrussamad mengatakan, pelaksanaan presidensi G20 memiliki banyak manfaat baik secara ekonomi, pembangunan sosial serta politik tetapi juga memiliki tantangan. Menurut dia, walaupun Indonesia tergabung dalam G20 tetapi kita berada pada posisi masyarakat yang memiliki tantangan besar di mana angka pengangguran dan angka kemiskinan yang terus bertambah. 

“Pada kuartal II, angka kemiskinan ekstrem meningkat dari 3,8 menjadi 4 persen yaitu berada pada wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten dan DKI,” ujarnya.

Anggota Komisi XI DPR dari Partai Golkar, Puteri A. Komarudin menyoroti, bagaimana upaya pemuda dalam meraih peluang di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Puteri yang juga menjabat sebagai Ketua Delegasi Indonesia di Y20 Summit 2021 yang merupakan salah satu rangkaian dalam Sherpa Track Meetings G20.

“Rekomendasi pemuda Y20 atas isu-isu kunci yang relevan dan menjadi persoalan universal bagi pemuda dan masyarakat global adalah inovasi digitalisasi dan masa depan pekerjaan, keberlanjutan iklim dan energi, serta inklusi dan kesetaraan” ujar Puteri.

Di sisi lain, Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Dr. Ninasapti Triaswati menilai, penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia harus dilihat dari dua aspek berbeda yaitu manfaat dan risiko. 

“Indonesia memiliki modal yang besar, terdapat 270 juta penduduk, artinya selama ini tanpa G20 pun atau tidak ada penyelenggaraan G20 di Indonesia, barang-barang yang kita jual-beli dari ekspor dan impor itu tetap berjalan” kata Dr. Ninasapti.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia juga memiliki kebermanfaatan, salah satunya di sektor pariwisata. Memang, adanya penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia 2022 ini dapat digunakan untuk mendorong pariwisata lebih cepat pulih pasca pandemi Covid-19.

 

Survei Lingkungan

Dalam kesempatan yang sama, Lembaga Survei KedaiKOPI juga meluncurkan hasil survei tentang Survei Persepsi Anak Muda Tentang Lingkungan Hidup dan Laut Natuna Menjelang G20.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo menggarisbawahi, ketertarikan isu lingkungan hidup oleh generasi muda. Sebanyak 77,4 persen anak muda Indonesia menyatakan tertarik dengan isu lingkungan hidup. Apalagi isu lingkungan hidup merupakan salah satu isu utama yang coba diangkat oleh Pemerintah Indonesia di KTT G20 2022.

Di sisi lain, dalam isu Laut Natuna atau Laut China Selatan, 74,7 persen responden menyatakan bahwa besar kemungkinan konflik terbuka akan terjadi. Hal ini dapat menjadi pesan serius bagi Pemerintah Indonesia untuk terus memperhatikan isu Laut Natuna di pentas global seperti G20 terlebih pasca terbentuknya Pakta AUKUS. 

Survei Persepsi Anak Muda Tentang Lingkungan Hidup dan Laut Natuna Menjelang G20 diselenggarakan oleh Lembaga Survei KedaiKOPI pada 14-21 Oktober 2021 dengan jumlah responden 1200 yang berusia 14-40 tahun di seluruh Indonesia. [DIT]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories