Jadi Bengkel Pesawat Kertajati, Duh Nasibmu…

Hampir tiga tahun beroperasi, Bandara Kertajati tak kunjung ramai. Apalagi di masa pandemi sekarang. Kondisi bandara yang digadang-gadang menjadi yang terbesar nomor dua di Indonesia itu, bak kuburan. Tak mau pembangunan bandara yang menghabiskan dana Rp 2,8 triliun ini sia-sia, pemerintah memutuskan Kertajati jadi bengkel pesawat. Duh, Kertajati, nasibmu…

Bandara yang terletak di Majalengka, Jawa Barat itu, diresmikan Presiden Jokowi, Mei 2018. Kala itu, peresmian disambut dengan euforia. Berbagai macam pujian datang. Kertajati disebut mempunyai banyak hal yang membanggakan. Modern, canggih, megah, dan dibuat murni oleh anak negeri. 

Model pembiayaan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah juga disebut sebagai inovasi pembiayaan. Saat itu, bandara ini diproyeksikan akan melayani berbagai penerbangan domestik dan internasional dengan kapasitas penumpang 29 juta penumpang per tahun. 

Namun, gegap gempita itu hanya seumur jagung. Begitu dioperasikan, yang terdengar bukan lagi kalimat bernada kebanggaan, tapi semacam rintihan. Soalnya, setelah dioperasikan, ternyata banyak yang tak sesuai harapan. 

Sedikit sekali penumpang yang datang. Dari 11 rute pernerbangan yang didaftar, hanya satu yang beroperasi. Itu pun dipaksakan. Sisanya, dibatalkan oleh maskapai lantaran tingkat okupansi penumpang masih di bawah 30 persen. Maskapai pun enggan terbang dari Kertajati. 

Keputusan ini bikin pengelola bandara kelimpungan. Penumpang makin menghilang. Sementara, untuk mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil. Setidaknya butuh Rp 6-7 miliar per bulan untuk biaya pengoperasian. Pengelola sempat menyiasati mencari pemasukan untuk biaya operasional dengan menawarkan jasa penyediaan tempat untuk foto prewedding

Pemerintah sebenarnya tak tinggal diam. Berbagai usaha dilakukan untuk menghidupkan Kertajati. Mulai dari “memaksa” maskapai terbang dari sana, melayani pesawat kargo, sampai menjadikan bandara sebagai tempat pemberangkatan haji dan umroh. 

Namun, berbagai upaya itu tak membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, Kertajati sepi. Ditambah adanya pandemi yang menghantam bisnis penerbangan, Kertajati makin sunyi.

Menghadapi persoalan itu, Senin lalu, Presiden Jokowi menggelar Rapat Kabinet membahas nasib Kertajati. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ikut hadir.  

Hasilnya diputuskan, Kertajati akan difokuskan sebagai tempat Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Ridwan Kamil memastikan, fungsi tersebut tidak menghilangkan peran komersialisasi angkutan penumpang dan layanan kargo. Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menilai bisnis MRO dipilih karena layanan penumpang di Kertajati tidak maksimal, karena akses darat belum memadai.

“Bandara Kertajati ini belum berfungsi optimal karena Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) belum selesai. Tapi, tadi disampaikan Menteri PUPR bahwa Desember 2021 akan terhubung,” kata Ridwan, dalam keterangan resmi, kemarin. 

Budi Karya mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk pengembangan fasilitas MRO di Kertajati. Dia bilang, sudah mengontak Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) untuk memanfaatkan kegiatan MRO di Kertajati. 

 

Mitra lain yang dijajaki adalah PT Garuda Maintenance Facilities (GMF), anak usaha PT Garuda Indonesia. GMF selama ini beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta. “Kita akan segera bangun dan kembangkan di lahan yang sudah ada secepatnya,” kata Budi, seusai rapat. 

Eks Direktur Angkasa Pura II ini mengatakan, fasilitas MRO di Kertajati membidik pasar perawatan pesawat pribadi. Selain itu, ia memastikan pemanfaatan Kertajati sebagai bandara yang melayani penerbangan haji dan umroh juga akan diteruskan.

Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Agus Pambagio miris melihat nasib Kertajati. Dia menyebut, Kertajati jadi seperti ini karena pengerjaan infrastruktur terkesan kental unsur politis. 

Agus mengaku sudah memberikan masukan soal proyek ini pada 2010-2011 atau saat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat saat itu, akan membangun Kertajati dengan APBD. Dia bilang, lokasi Kertajati jauh dari mana-mana, tak cocok dijadikan bandara. Jarak Bandung-Kertajati sekitar 100 kilometer atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Ia mengusulkan, kalau mau membangun bandara, lebih baik di Cirebon atau Karawang. 

Namun, saat itu, Pemprov Jawa Barat tetap ngotot. Karena tak punya duit, pemerintah pusat akhirnya membantu pembiayaan Kertajati dengan APBN melalui Kementerian Perhubungan. Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan saat itu, sempat menolak melanjutkan pembangunan. Namun, pengerjaan terus berlanjut di bawah Menteri Perhubungan Budi Karya. 

Menurut Agus, keputusan pemerintah menjadikan Kertajati sebagai bengkel pesawat tak akan membawa hasil maksimal. Apalagi kalau hanya mengandalkan pesawat TNI yang jumlahnya tak seberapa. Maskapai komersial pun akan pikir-pikir untuk memperbaiki pesawatnya di sana. Soalnya, bengkel pesawat sudah ada di Cengkareng. Kalau dibawa ke Kertajati, keluar ongkos lagi.

“Sudahlah, saya usul dijadikan gedung kesenian saja. Sudah sulit diapa-apakan itu,” kata Agus, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, tadi malam. 

Ke depan, Agus berharap pembangunan infrastruktur tidak didasari unsur politik. Tapi, harus sesuai dengan kebutuhan. Soalnya, akan dipertanggungjawabkan kepada publik. Jika dikerjakan dengan baik, infrastruktur memiliki peran strategis ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, jika mengabaikan kajian, justru akan menguras kantong negara.

Kabar Kertajati akan menjadi lokasi bengkel pesawat dengan cepat menyebar di dunia maya. Tak sedikit pengguna yang meratapi nasib Kertajati. 

Wartawan senior Uni Lubis ikut mengelus dada mendengar keputusan ini. “Ini dulu studi kelayakannya bagaimana ya? Mau bikin bandara atau bengkel?” kicaunya, di akun @unilubis. 

Akun @merdekarakyan mengingatkan, apakah keputusan menjadikan bengkel pesawat sudah melewati studi kelayakan. Jangan sampai setelah buka bengkel, masih tak ada pesawat yang mau mampir. “Bingung dah,” kicaunya. 

Sementara, akun @yosngarang menilai, sangat sulit untuk menghidupkan Kertajati. Soalnya bandara jauh dari mana-mana. “Lebih baik dijadikan tempat jemur padi dan penggilingan padi saja untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia?” sindirnya. [BCG]

]]> Hampir tiga tahun beroperasi, Bandara Kertajati tak kunjung ramai. Apalagi di masa pandemi sekarang. Kondisi bandara yang digadang-gadang menjadi yang terbesar nomor dua di Indonesia itu, bak kuburan. Tak mau pembangunan bandara yang menghabiskan dana Rp 2,8 triliun ini sia-sia, pemerintah memutuskan Kertajati jadi bengkel pesawat. Duh, Kertajati, nasibmu…

Bandara yang terletak di Majalengka, Jawa Barat itu, diresmikan Presiden Jokowi, Mei 2018. Kala itu, peresmian disambut dengan euforia. Berbagai macam pujian datang. Kertajati disebut mempunyai banyak hal yang membanggakan. Modern, canggih, megah, dan dibuat murni oleh anak negeri. 

Model pembiayaan melalui kolaborasi pemerintah pusat dan daerah juga disebut sebagai inovasi pembiayaan. Saat itu, bandara ini diproyeksikan akan melayani berbagai penerbangan domestik dan internasional dengan kapasitas penumpang 29 juta penumpang per tahun. 

Namun, gegap gempita itu hanya seumur jagung. Begitu dioperasikan, yang terdengar bukan lagi kalimat bernada kebanggaan, tapi semacam rintihan. Soalnya, setelah dioperasikan, ternyata banyak yang tak sesuai harapan. 

Sedikit sekali penumpang yang datang. Dari 11 rute pernerbangan yang didaftar, hanya satu yang beroperasi. Itu pun dipaksakan. Sisanya, dibatalkan oleh maskapai lantaran tingkat okupansi penumpang masih di bawah 30 persen. Maskapai pun enggan terbang dari Kertajati. 

Keputusan ini bikin pengelola bandara kelimpungan. Penumpang makin menghilang. Sementara, untuk mengoperasikan sebuah bandara tidaklah kecil. Setidaknya butuh Rp 6-7 miliar per bulan untuk biaya pengoperasian. Pengelola sempat menyiasati mencari pemasukan untuk biaya operasional dengan menawarkan jasa penyediaan tempat untuk foto prewedding. 

Pemerintah sebenarnya tak tinggal diam. Berbagai usaha dilakukan untuk menghidupkan Kertajati. Mulai dari “memaksa” maskapai terbang dari sana, melayani pesawat kargo, sampai menjadikan bandara sebagai tempat pemberangkatan haji dan umroh. 

Namun, berbagai upaya itu tak membuahkan hasil maksimal. Tetap saja, Kertajati sepi. Ditambah adanya pandemi yang menghantam bisnis penerbangan, Kertajati makin sunyi.

Menghadapi persoalan itu, Senin lalu, Presiden Jokowi menggelar Rapat Kabinet membahas nasib Kertajati. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi Sumadi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, ikut hadir.  

Hasilnya diputuskan, Kertajati akan difokuskan sebagai tempat Maintenance, Repair, Overhaul (MRO) atau bengkel pesawat. Ridwan Kamil memastikan, fungsi tersebut tidak menghilangkan peran komersialisasi angkutan penumpang dan layanan kargo. Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menilai bisnis MRO dipilih karena layanan penumpang di Kertajati tidak maksimal, karena akses darat belum memadai.

“Bandara Kertajati ini belum berfungsi optimal karena Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) belum selesai. Tapi, tadi disampaikan Menteri PUPR bahwa Desember 2021 akan terhubung,” kata Ridwan, dalam keterangan resmi, kemarin. 

Budi Karya mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk pengembangan fasilitas MRO di Kertajati. Dia bilang, sudah mengontak Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) untuk memanfaatkan kegiatan MRO di Kertajati. 

 

Mitra lain yang dijajaki adalah PT Garuda Maintenance Facilities (GMF), anak usaha PT Garuda Indonesia. GMF selama ini beroperasi di Bandara Soekarno-Hatta. “Kita akan segera bangun dan kembangkan di lahan yang sudah ada secepatnya,” kata Budi, seusai rapat. 

Eks Direktur Angkasa Pura II ini mengatakan, fasilitas MRO di Kertajati membidik pasar perawatan pesawat pribadi. Selain itu, ia memastikan pemanfaatan Kertajati sebagai bandara yang melayani penerbangan haji dan umroh juga akan diteruskan.

Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia (UI) Agus Pambagio miris melihat nasib Kertajati. Dia menyebut, Kertajati jadi seperti ini karena pengerjaan infrastruktur terkesan kental unsur politis. 

Agus mengaku sudah memberikan masukan soal proyek ini pada 2010-2011 atau saat Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat saat itu, akan membangun Kertajati dengan APBD. Dia bilang, lokasi Kertajati jauh dari mana-mana, tak cocok dijadikan bandara. Jarak Bandung-Kertajati sekitar 100 kilometer atau kurang lebih 2 jam perjalanan. Ia mengusulkan, kalau mau membangun bandara, lebih baik di Cirebon atau Karawang. 

Namun, saat itu, Pemprov Jawa Barat tetap ngotot. Karena tak punya duit, pemerintah pusat akhirnya membantu pembiayaan Kertajati dengan APBN melalui Kementerian Perhubungan. Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan saat itu, sempat menolak melanjutkan pembangunan. Namun, pengerjaan terus berlanjut di bawah Menteri Perhubungan Budi Karya. 

Menurut Agus, keputusan pemerintah menjadikan Kertajati sebagai bengkel pesawat tak akan membawa hasil maksimal. Apalagi kalau hanya mengandalkan pesawat TNI yang jumlahnya tak seberapa. Maskapai komersial pun akan pikir-pikir untuk memperbaiki pesawatnya di sana. Soalnya, bengkel pesawat sudah ada di Cengkareng. Kalau dibawa ke Kertajati, keluar ongkos lagi.

“Sudahlah, saya usul dijadikan gedung kesenian saja. Sudah sulit diapa-apakan itu,” kata Agus, saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, tadi malam. 

Ke depan, Agus berharap pembangunan infrastruktur tidak didasari unsur politik. Tapi, harus sesuai dengan kebutuhan. Soalnya, akan dipertanggungjawabkan kepada publik. Jika dikerjakan dengan baik, infrastruktur memiliki peran strategis ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, jika mengabaikan kajian, justru akan menguras kantong negara.

Kabar Kertajati akan menjadi lokasi bengkel pesawat dengan cepat menyebar di dunia maya. Tak sedikit pengguna yang meratapi nasib Kertajati. 

Wartawan senior Uni Lubis ikut mengelus dada mendengar keputusan ini. “Ini dulu studi kelayakannya bagaimana ya? Mau bikin bandara atau bengkel?” kicaunya, di akun @unilubis. 

Akun @merdekarakyan mengingatkan, apakah keputusan menjadikan bengkel pesawat sudah melewati studi kelayakan. Jangan sampai setelah buka bengkel, masih tak ada pesawat yang mau mampir. “Bingung dah,” kicaunya. 

Sementara, akun @yosngarang menilai, sangat sulit untuk menghidupkan Kertajati. Soalnya bandara jauh dari mana-mana. “Lebih baik dijadikan tempat jemur padi dan penggilingan padi saja untuk mendukung ketahanan pangan Indonesia?” sindirnya. [BCG]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories