Isu Kudeta Demokrat Berkah Bagi Moeldoko, Bikin Rugi Di Internal Partai

Isu Kudeta Partai Demokrat diharapkan tidak lagi terjadi. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai kabar tersebut tidak elok.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Sofyan Abdullah menegaskan, kalau tuduhan Moeldoko akan mengudeta Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak berdasar.

Sofyan menduga ada yang memanfaatkan isu kudeta sebagai salah satu cara pintas bagi kader di dalam partai untuk mempopulerkan diri.

“Menurut saya isu kudeta itu enggak mendasarlah, enggak elok, geli mendengarnya. Masa orang luar mengudeta. Kalau mengudeta itu ya orang dalam lah,” ujar Sofyan.

Badaruddin Puang Sabang juga mengaku prihatin dengan isu kudeta itu. Tokoh petani sawit asal Sulawesi Selatan (Sulsel) ini menyebut, mestinya siapa pun di partai tidak buru-buru membuat kesimpulan atas tudingan kudeta.

“Pak Moeldoko itu Kepala Staf Presiden (KSP), dari mana saja elemen bangsa ini boleh menyampaikan banyak hal kepadanya. Masa orang partai yang yang jumpa Moeldoko, Moeldoko dibilang mau ambil alih partai? Nanti kalau kelompok besar lain datang, dibilang ambil alih juga kah?” Tanya lelaki yang juga Ketua DPW Apkasindo Sulsel ini.

Menurut dia, apa yang dilakukan Moeldoko tidak salah. Bahkan, dia menyarankan agar pengurus Partai Demokrat melakukan introspeksi diri.

Sementara, tokoh petani asal Sulawesi Tengah (Sulteng), Syamsuddin Koloi, menilai Kepala Staf Presiden wajib mendengar unek-unek para tamu yang datang, tak terkecuali dari partai politik.

Sebab, tugas Moeldoko adalah melayani masyarakat. “Pak Moeldoko biasanya beliau didampingi stafnya untuk mendengar apapun yang kami sampaikan. Sebab itulah tugas beliau sebagai KSP. Terus, apa bedanya kami dengan kelompok masyarakat lain yang datang ke KSP atau berjumpa di luar kantor?. Saya pikir sama saja,” lanjutnya.

Sementara itu eks politikus senior Partai Demokrat Darmizal mengatakan, dukungan kepada mantan Panglima TNI itu justru menguat setelah pengumuman Agus Harimurti Yudhoyono mengenai rencana aksi kudeta.

Selain itu, salah satu tokoh ulama Jabodetabek menilai kisruh isu rencana kudeta kepemimpinan Ketua Umum DPP Partai Demokrat memberi sinyal ada ketidakberesan yang terjadi di internal partai berlambang mercy tersebut.

“Ada dua fenomena yang muncul terkait apa yang disampaikan AHY soal kudeta,” ujar Ketua Sekretariat Nasional Dakwah Jabodetabek Ustaz H. Rizal Maulana, dalam keterangannya.

“Pertama, publik menjadi tahu ada kisruh di internal Partai Demokrat, di mana ada empat faksi yang tidak mempercayai kepemimpinan AHY sebagai Ketum Partai Demokrat. Kedua, tudingan yang diberikan kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, menjadi semacam ‘promosi’ gratis’. Karena disebut-sebut kudeta itu dilakukan untuk mendukung pencalonannya sebagai capres 2024 mendatang,” lanjut Rizal.

Ketua Forum Silaturrahmi Dakwah Kebangsaan ini lebih lanjut menyimpulkan, rumor kudeta yang digaungkan AHY justru melahirkan polemik dan cenderung lebih banyak merugikan Partai Demokrat serta dirinya sendiri.

“Karena persoalan yang seyogyanya bisa diselesaikan secara internal, malah menjadi konsumsi publik. Masyarakat jadi tahu bahwa di dalam Partai Demokrat ada masalah hingga menimbulkan faksi dan melahirkan ketidakpercayaan pada kepemimpinan AHY,” katanya. [JAR]

]]> Isu Kudeta Partai Demokrat diharapkan tidak lagi terjadi. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai kabar tersebut tidak elok.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Apkasindo Provinsi Nangroe Aceh Darussalam Sofyan Abdullah menegaskan, kalau tuduhan Moeldoko akan mengudeta Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), tidak berdasar.

Sofyan menduga ada yang memanfaatkan isu kudeta sebagai salah satu cara pintas bagi kader di dalam partai untuk mempopulerkan diri.

“Menurut saya isu kudeta itu enggak mendasarlah, enggak elok, geli mendengarnya. Masa orang luar mengudeta. Kalau mengudeta itu ya orang dalam lah,” ujar Sofyan.

Badaruddin Puang Sabang juga mengaku prihatin dengan isu kudeta itu. Tokoh petani sawit asal Sulawesi Selatan (Sulsel) ini menyebut, mestinya siapa pun di partai tidak buru-buru membuat kesimpulan atas tudingan kudeta.

“Pak Moeldoko itu Kepala Staf Presiden (KSP), dari mana saja elemen bangsa ini boleh menyampaikan banyak hal kepadanya. Masa orang partai yang yang jumpa Moeldoko, Moeldoko dibilang mau ambil alih partai? Nanti kalau kelompok besar lain datang, dibilang ambil alih juga kah?” Tanya lelaki yang juga Ketua DPW Apkasindo Sulsel ini.

Menurut dia, apa yang dilakukan Moeldoko tidak salah. Bahkan, dia menyarankan agar pengurus Partai Demokrat melakukan introspeksi diri.

Sementara, tokoh petani asal Sulawesi Tengah (Sulteng), Syamsuddin Koloi, menilai Kepala Staf Presiden wajib mendengar unek-unek para tamu yang datang, tak terkecuali dari partai politik.

Sebab, tugas Moeldoko adalah melayani masyarakat. “Pak Moeldoko biasanya beliau didampingi stafnya untuk mendengar apapun yang kami sampaikan. Sebab itulah tugas beliau sebagai KSP. Terus, apa bedanya kami dengan kelompok masyarakat lain yang datang ke KSP atau berjumpa di luar kantor?. Saya pikir sama saja,” lanjutnya.

Sementara itu eks politikus senior Partai Demokrat Darmizal mengatakan, dukungan kepada mantan Panglima TNI itu justru menguat setelah pengumuman Agus Harimurti Yudhoyono mengenai rencana aksi kudeta.

Selain itu, salah satu tokoh ulama Jabodetabek menilai kisruh isu rencana kudeta kepemimpinan Ketua Umum DPP Partai Demokrat memberi sinyal ada ketidakberesan yang terjadi di internal partai berlambang mercy tersebut.

“Ada dua fenomena yang muncul terkait apa yang disampaikan AHY soal kudeta,” ujar Ketua Sekretariat Nasional Dakwah Jabodetabek Ustaz H. Rizal Maulana, dalam keterangannya.

“Pertama, publik menjadi tahu ada kisruh di internal Partai Demokrat, di mana ada empat faksi yang tidak mempercayai kepemimpinan AHY sebagai Ketum Partai Demokrat. Kedua, tudingan yang diberikan kepada Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko, menjadi semacam ‘promosi’ gratis’. Karena disebut-sebut kudeta itu dilakukan untuk mendukung pencalonannya sebagai capres 2024 mendatang,” lanjut Rizal.

Ketua Forum Silaturrahmi Dakwah Kebangsaan ini lebih lanjut menyimpulkan, rumor kudeta yang digaungkan AHY justru melahirkan polemik dan cenderung lebih banyak merugikan Partai Demokrat serta dirinya sendiri.

“Karena persoalan yang seyogyanya bisa diselesaikan secara internal, malah menjadi konsumsi publik. Masyarakat jadi tahu bahwa di dalam Partai Demokrat ada masalah hingga menimbulkan faksi dan melahirkan ketidakpercayaan pada kepemimpinan AHY,” katanya. [JAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories