Istri Korban KRI Nanggala-402 Serda Diyut Masih Berharap Ada Keajaiban .

Kementerian Sosial (Mensos) melalui Balai Residen Galih Pakuan Bogor bergerak cepat mengunjungi keluarga 53 ABK yang tenggelam, bersama KRI Nanggala-402. Untuk menyampaikan salam duka cita dari Mensos, serta memberikan pendampingan dan bantuan psikososial.

Salah satunya adalah Serda Diyut Subandrio, yang beralamat di Jalan Kutilang Gang Menci Kota Madiun, Jawa Timur.

Dari hasil penelusuran tim, alamat itu merupakan alamat orangtua korban.

Tim berhasil menemui kakak korban, yaitu Rizal yang didampingi oleh aparat lingkungan setempat dan perwakilan dari Koramil.

Sementara ibu korban belum dapat ditemui, karena masih shock.

Berdasarkan penuturan Rizal, korban adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Korban menempuh pendidikan Tamtama Angkatan Laut pada tahun 2004, kemudian tahun 2012 terpilih menjadi kru pasukan selam TNI AL dan bertugas di KRI Nanggala 402 di bagian kelistrikan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Rizal, istri korban yang bernama Helen, tinggal di Jalan Salak. Tim bergerak menuju ke lokasi tersebut, untuk mengunjungi kediaman istri korban. Tim berhasil menemui Helen. 

Dia masih terpukul dan belum dapat mempercayai musibah yang menimpa suaminya. “Saya masih belum percaya, saya masih berharap ada keajaiban,” ucap Helen.

Korban memiliki 2 orang anak. Anak pertama yang bernama Seafa Heldi Azahra (11), saat ini duduk di kelas 5 SD 01 Pandean. Sedangkan anak kedua,  bernama Farel Al Faruq (5).

 

Kondisi fisik Helen masih terlihat lemas. Secara psikologis, ia masih belum dapat menerima sepenuhnya peristiwa yang menimpa suaminya. Dalam kondisi ini, tim banyak mendengarkan luapan perasaan Helen atas kehilangan dan kecemasannya.

Pekerja sosial Balai Residen Galih Pakuan Bogor Yulia Herlina memberikan dukungan secara psikologis kepada Helen, dengan berupaya membangkitkan semangatnya untuk tabah melalui fase terberat ini.

“Ada banyak keluarga dan rekan yang peduli dan selalu memberikan dukungan. Pasti, Ibu bisa melalui masa masa berat ini,” kata Yulia.

Kondisi tidak jauh berbeda terlihat pada anak pertama korban yaitu Seafa, yang sangat kehilangan sosok ayah yang menjadi panutannya selama ini.

Seafa mengaku mengalami gangguan tidur sejak musibah itu terjadi.

“Saya suka susah tidur, ingat ayah,” ungkap Seafa.

Tim memberikan penguatan kepada Seafa, dengan meyakinkan bahwa musibah ini akan dapat dilalui.

Seafa dibangkitkan semangatnya untuk tetap optimis, dan menjadi anak yang lebih kuat.

Tim juga banyak menggali hobi dan potensi Seafa, dengan harapan dapat menumbuhkan semangat dalam dirinya.

Selanjutnya, tim berkomunikasi dengan orangtua Helen untuk terus menguatkan mereka, agar dapat selalu menemani Helen dan anak anaknya.

Dukungan dan perhatian dari orangtua, tentunya akan membantu kondisi psikologis Helen dan anak anaknya. Sehingga, mereka dapat merasa lebih tenang.

Keluarga besar korban juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkungan sekitar. Ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang melakukan takziyah ke kediaman Helen.

Hadir juga beberapa kerabat dan rekan korban dari TNI AL yang ada di Madiun.

Helen dan keluarga besar korban mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial, atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan. Pemberian dukungan psikososial ini diharapkan dapat membantu kondisi emosi dan psikologis keluarga korban, agar tetap semangat dan tabah melalui musibah ini. [HES]

]]> .
Kementerian Sosial (Mensos) melalui Balai Residen Galih Pakuan Bogor bergerak cepat mengunjungi keluarga 53 ABK yang tenggelam, bersama KRI Nanggala-402. Untuk menyampaikan salam duka cita dari Mensos, serta memberikan pendampingan dan bantuan psikososial.

Salah satunya adalah Serda Diyut Subandrio, yang beralamat di Jalan Kutilang Gang Menci Kota Madiun, Jawa Timur.

Dari hasil penelusuran tim, alamat itu merupakan alamat orangtua korban.

Tim berhasil menemui kakak korban, yaitu Rizal yang didampingi oleh aparat lingkungan setempat dan perwakilan dari Koramil.

Sementara ibu korban belum dapat ditemui, karena masih shock.

Berdasarkan penuturan Rizal, korban adalah anak kelima dari enam bersaudara.

Korban menempuh pendidikan Tamtama Angkatan Laut pada tahun 2004, kemudian tahun 2012 terpilih menjadi kru pasukan selam TNI AL dan bertugas di KRI Nanggala 402 di bagian kelistrikan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Rizal, istri korban yang bernama Helen, tinggal di Jalan Salak. Tim bergerak menuju ke lokasi tersebut, untuk mengunjungi kediaman istri korban. Tim berhasil menemui Helen. 

Dia masih terpukul dan belum dapat mempercayai musibah yang menimpa suaminya. “Saya masih belum percaya, saya masih berharap ada keajaiban,” ucap Helen.

Korban memiliki 2 orang anak. Anak pertama yang bernama Seafa Heldi Azahra (11), saat ini duduk di kelas 5 SD 01 Pandean. Sedangkan anak kedua,  bernama Farel Al Faruq (5).

 

Kondisi fisik Helen masih terlihat lemas. Secara psikologis, ia masih belum dapat menerima sepenuhnya peristiwa yang menimpa suaminya. Dalam kondisi ini, tim banyak mendengarkan luapan perasaan Helen atas kehilangan dan kecemasannya.

Pekerja sosial Balai Residen Galih Pakuan Bogor Yulia Herlina memberikan dukungan secara psikologis kepada Helen, dengan berupaya membangkitkan semangatnya untuk tabah melalui fase terberat ini.

“Ada banyak keluarga dan rekan yang peduli dan selalu memberikan dukungan. Pasti, Ibu bisa melalui masa masa berat ini,” kata Yulia.

Kondisi tidak jauh berbeda terlihat pada anak pertama korban yaitu Seafa, yang sangat kehilangan sosok ayah yang menjadi panutannya selama ini.

Seafa mengaku mengalami gangguan tidur sejak musibah itu terjadi.

“Saya suka susah tidur, ingat ayah,” ungkap Seafa.

Tim memberikan penguatan kepada Seafa, dengan meyakinkan bahwa musibah ini akan dapat dilalui.

Seafa dibangkitkan semangatnya untuk tetap optimis, dan menjadi anak yang lebih kuat.

Tim juga banyak menggali hobi dan potensi Seafa, dengan harapan dapat menumbuhkan semangat dalam dirinya.

Selanjutnya, tim berkomunikasi dengan orangtua Helen untuk terus menguatkan mereka, agar dapat selalu menemani Helen dan anak anaknya.

Dukungan dan perhatian dari orangtua, tentunya akan membantu kondisi psikologis Helen dan anak anaknya. Sehingga, mereka dapat merasa lebih tenang.

Keluarga besar korban juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkungan sekitar. Ini terlihat dari banyaknya pengunjung yang melakukan takziyah ke kediaman Helen.

Hadir juga beberapa kerabat dan rekan korban dari TNI AL yang ada di Madiun.

Helen dan keluarga besar korban mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial, atas perhatian dan dukungan yang telah diberikan. Pemberian dukungan psikososial ini diharapkan dapat membantu kondisi emosi dan psikologis keluarga korban, agar tetap semangat dan tabah melalui musibah ini. [HES]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories