Ini Masukan Prof. Tjandra Soal Fasilitas Kesehatan Arus Mudik, Pemotor Juga Kudu Dipikirin

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang antara lain menangani pencegahan penyakit dalam kegiatan mass gathering, Prof. Tjandra Yoga Aditama menyoroti persiapan sarana dan fasilitas kesehatan di jalur mudik. Seiring kegiatan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala Korps Lalu Lintas Irjen Pol Firman Shantyabudi, Sabtu (15/4) pagi ini. 

Menurutnya, situasi sekarang tentu berbeda dengan situasi mudik sebelum pandemi Covid-19. Setidaknya, dalam empat hal.

Pertama, saat ini sudah ada jalan tol yang amat panjang di Jawa, sebagian Sumatera, dan sebagainya. Sehingga, tantangan kesehatan bagi pengemudi tentu berbeda. Penempatan pos kesehatan, juga disesuaikan dengan rest area jalan tol dengan segala spesifikasinya dan sebagainya.

Kedua, perlu dipertimbangkan bagaimana sistem rujukan, kalau ada kecelakaan dan masalah di jalan tol. Termasuk, membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap alat dan tenaganya di luar jalan tol.

“Bagaimana, kalau ada masalah kesehatan di antara dua rest area yang jaraknya mungkin cukup jauh satu dengan lainnya? Ini juga perlu dipikirkan,” ujar Prof. Tjandra dalam keterangannya, Jumat (14/4).

Ketiga,  kemungkinan penularan  penyakit Covid-19 tetap harus amat diwaspadai.

Keempat, minat mudik saat ini bisa saja melonjak tinggi. Mengingat sudah 2 tahun ini warga tak mudik. Ditambah lagi, sarana non jalan raya seperti kereta api, pesawat terbang, feri penyeberangan juga semakin baik.

Para pemudik yang menggunakan sepeda motor, juga tetap harus dipertimbangkan.

Prof. Tjandra yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI mengingatkan, Di masa sebelum Covid-19, kita pernah menyediakan sekitar 700 pos kesehatan, serta Puskesmas dan RS di sepanjang jalan arus mudik. 

Termasuk di bandara, pelabuhan, stasiun KA dan stasiun bis, dan sebagainya. 

Jumlah yang disiapkan sekarang, jelas akan disesuaikan dengan perkembangan sarana transportasi yang ada.

Pos pelayanan kesehatan juga dapat didirikan di lokasi-lokasi strategis seperti tempat ibadah dan lokasi wisata.

“Tentu, perlu diadakan pemeriksaan kesehatan terhadap pengemudi kendaraan umum. Yang antara lain dapat meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, alkohol darah, amphetamin dalam urin dan sebagainya,” usul mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, yang antara lain menangani aspek kesehatan mudik. 

Di samping itu, Prof. Tjandra juga menyarankan adanya penyuluhan kesehatan tentang anjuran mudik sehat, seperti yang selalu dilakukan saat sebelum pandemi Covid. Hal itu dapat dilakukan, mendekati waktu para pemudik berangkat. Atau sekitar seminggu mendatang. [HES]

]]> Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang antara lain menangani pencegahan penyakit dalam kegiatan mass gathering, Prof. Tjandra Yoga Aditama menyoroti persiapan sarana dan fasilitas kesehatan di jalur mudik. Seiring kegiatan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Kepala Korps Lalu Lintas Irjen Pol Firman Shantyabudi, Sabtu (15/4) pagi ini. 

Menurutnya, situasi sekarang tentu berbeda dengan situasi mudik sebelum pandemi Covid-19. Setidaknya, dalam empat hal.

Pertama, saat ini sudah ada jalan tol yang amat panjang di Jawa, sebagian Sumatera, dan sebagainya. Sehingga, tantangan kesehatan bagi pengemudi tentu berbeda. Penempatan pos kesehatan, juga disesuaikan dengan rest area jalan tol dengan segala spesifikasinya dan sebagainya.

Kedua, perlu dipertimbangkan bagaimana sistem rujukan, kalau ada kecelakaan dan masalah di jalan tol. Termasuk, membawa pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih lengkap alat dan tenaganya di luar jalan tol.

“Bagaimana, kalau ada masalah kesehatan di antara dua rest area yang jaraknya mungkin cukup jauh satu dengan lainnya? Ini juga perlu dipikirkan,” ujar Prof. Tjandra dalam keterangannya, Jumat (14/4).

Ketiga,  kemungkinan penularan  penyakit Covid-19 tetap harus amat diwaspadai.

Keempat, minat mudik saat ini bisa saja melonjak tinggi. Mengingat sudah 2 tahun ini warga tak mudik. Ditambah lagi, sarana non jalan raya seperti kereta api, pesawat terbang, feri penyeberangan juga semakin baik.

Para pemudik yang menggunakan sepeda motor, juga tetap harus dipertimbangkan.

Prof. Tjandra yang juga Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI mengingatkan, Di masa sebelum Covid-19, kita pernah menyediakan sekitar 700 pos kesehatan, serta Puskesmas dan RS di sepanjang jalan arus mudik. 

Termasuk di bandara, pelabuhan, stasiun KA dan stasiun bis, dan sebagainya. 

Jumlah yang disiapkan sekarang, jelas akan disesuaikan dengan perkembangan sarana transportasi yang ada.

Pos pelayanan kesehatan juga dapat didirikan di lokasi-lokasi strategis seperti tempat ibadah dan lokasi wisata.

“Tentu, perlu diadakan pemeriksaan kesehatan terhadap pengemudi kendaraan umum. Yang antara lain dapat meliputi pemeriksaan tekanan darah, gula darah, alkohol darah, amphetamin dalam urin dan sebagainya,” usul mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, yang antara lain menangani aspek kesehatan mudik. 

Di samping itu, Prof. Tjandra juga menyarankan adanya penyuluhan kesehatan tentang anjuran mudik sehat, seperti yang selalu dilakukan saat sebelum pandemi Covid. Hal itu dapat dilakukan, mendekati waktu para pemudik berangkat. Atau sekitar seminggu mendatang. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories