Ini Fakta Seputar Triple Mutant Variant, Yang Dituding Jadi Biang Kerok Lonjakan Kasus Covid Di India

Kedatangan 129 warga India di Tanah Air pada Rabu (21/4) via pesawat carter AirAsia, cukup membikin ketar-ketir.

Maklumlah, saat ini Tanah Bollywood memang sedang megap-megap menghadapi gelombang dua Covid, hingga membikin kolaps layanan rumah sakit. Apalagi, 12 di antaranya dinyatakan positif Covid.

Lonjakan kasus luar biasa di India hingga lebih dari 300 ribu kasus baru per hari, tak bisa dipisahkan dari kemunculan triple mutant strain alias varian Covid Bengal.

Triple mutant strain ini dilaporkan lebih menular dibanding varian lainnya. Selain ditemukan di Benggala Barat, varian ini juga ditemukan dalam sampel pengujian di Delhi dan Maharashtra.

Seperti dilansir India Today, para ahli mengatakan, belum ada bukti varian ini dapat berpengaruh terhadap efikasi vaksin.

Meski begitu, kehadiran mutasi E484K dalam varian tersebut harus diwaspadai. Mengingat E484K adalah varian yang mampu melepaskan jerat dari antibodi utama, dan berpotensi menurunkan tingkat kemanjuran vaksin.

Apa Itu Triple Mutant Variant?

Sesuai namanya, triple mutant variant merupakan varian baru yang terbentuk dari 3 jenis mutasi.

Dalam konteks ini, 3 jenis mutasi yang dimaksud meliputi satu penghilangan dan dua perubahan dalam protein spike, penghilangan H146 dan Y145, serta mutasi E484K dan D614G dalam protein spike yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan. 

Triple mutant variant adalah turunan kedua virus SARS-CoV-2 yang teridentifikasi di India, yang beken dengan nama B.1.618 dan banyak terdeteksi di Benggala Barat.

Sebelumnya, di India juga ditemukan varian mutasi ganda B.1.617.

 

Melalui akun Twitter-nya, Peneliti Council of Scientific and Industrial Research’s Institute of Genomic and Integrative Biology (CSIR-IGIB) di New Delhi, Vinod Scaria menjelaskan, urutan paling awal dari varian ini, diisolasi pada 25 Oktober 2020, dalam sampel seorang pasien di Benggala Barat. Deteksi akhir, 17 Maret 2021.

Varian ini juga terlacak di AS, Singapura, Swiss, dan Finlandia.

Kecepatan Penularan

Vinod Scaria mengungkap, triple mutant variant tumbuh lumayan signifikan di Benggala Barat dalam beberapa bulan terakhir.

Masih banyak yang belum diketahui secara pasti dari varian ini, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dalam laporannya, The Hindu mengatakan triple mutant variant sepertinya mewakili 15 persen genom di Benggala Barat dalam periode Januari-Maret 2021.

Seberapa bahaya?

Jawaban pasti untuk pertanyaan ini belum bisa diberikan, mengingat belum ada penelitian yang memadai tentang triple mutant variant.

Namun, para ahli mengatakan, varian Covid-19 yang saat ini bisa lebih cepat menular, ketimbang varian lainnya.

“Ini adalah varian yang lebih mudah menular. Varian yang banyak membuat orang jatuh sakit,” kata Profesor Epidemiologi di McGill University, Dr.Madhukar Pai dalam wawancaranya dengan NDTV.

Dalam utas Twitter-nya, Vinod Scaria mengatakan, masih belum diketahui apakah triple mutant variant ini dapat menyebabkan infeksi ulang, dan berpengaruh terhadap efikasi vaksin. Juga belum dapat diketahui, apakah seseorang yang telah divaksin masih dapat terinfeksi varian ini.

Pengaruh Terhadap Efikasi Vaksin

Para ahli khawatir, varian baru tersebut dapat berdampak pada kemanjuran vaksin, karena memiliki mutasi besar  E484K, yang sukses melepaskan diri dari jerat antibodi. 

Bisa saja, ini membahayakan kemanjuran vaksin. E484K juga ditemukan dalam varian virus Brasil dan Afrika Selatan.

“Anda bisa saja sulit menghindar dari varian ini, sekalipun sudah terinfeksi varian Covid lain, atau telah divaksinasi,”  kata Sreedhar Chinnaswamy dari Institut Nasional Genomedis Biomedis (NIBG) kepada The Times of India.

 

Dalam wawancaranya dengan NDTV, Dr Madhukar Pai menekankan bahwa kita perlu “terus menyesuaikan vaksin”. “Untuk itu, kita perlu memahami penyakit yang ditimbulkan, dan mengurutkannya dengan asumsi kita sedang berperang,” katanya.

Vinod Scaria menekankan, data eksperimen tambahan mutlak diperlukan untuk menilai kemanjuran vaksin terhadap varian baru ini.

Apakah varian baru bertanggung jawab atas lonjakan Covid di Bengal?

Sementara ini, para ahli sepakat bahwa varian baru yang terdeteksi di Benggala Barat lebih menular daripada varian lain. Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa varian Covid Bengal bertanggung jawab atas lonjakan kasus Covid-19 di negara bagian tersebut.

“Saat ini, tidak ada bukti konklusif bahwa turunan ini mendorong epidemi di Benggala Barat, selain fakta bahwa jumlah dan proporsinya telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir,” terang Vinod Scaria. [HES]

]]> Kedatangan 129 warga India di Tanah Air pada Rabu (21/4) via pesawat carter AirAsia, cukup membikin ketar-ketir.

Maklumlah, saat ini Tanah Bollywood memang sedang megap-megap menghadapi gelombang dua Covid, hingga membikin kolaps layanan rumah sakit. Apalagi, 12 di antaranya dinyatakan positif Covid.

Lonjakan kasus luar biasa di India hingga lebih dari 300 ribu kasus baru per hari, tak bisa dipisahkan dari kemunculan triple mutant strain alias varian Covid Bengal.

Triple mutant strain ini dilaporkan lebih menular dibanding varian lainnya. Selain ditemukan di Benggala Barat, varian ini juga ditemukan dalam sampel pengujian di Delhi dan Maharashtra.

Seperti dilansir India Today, para ahli mengatakan, belum ada bukti varian ini dapat berpengaruh terhadap efikasi vaksin.

Meski begitu, kehadiran mutasi E484K dalam varian tersebut harus diwaspadai. Mengingat E484K adalah varian yang mampu melepaskan jerat dari antibodi utama, dan berpotensi menurunkan tingkat kemanjuran vaksin.

Apa Itu Triple Mutant Variant?

Sesuai namanya, triple mutant variant merupakan varian baru yang terbentuk dari 3 jenis mutasi.

Dalam konteks ini, 3 jenis mutasi yang dimaksud meliputi satu penghilangan dan dua perubahan dalam protein spike, penghilangan H146 dan Y145, serta mutasi E484K dan D614G dalam protein spike yang berbentuk seperti paku-paku yang menancap pada permukaan. 

Triple mutant variant adalah turunan kedua virus SARS-CoV-2 yang teridentifikasi di India, yang beken dengan nama B.1.618 dan banyak terdeteksi di Benggala Barat.

Sebelumnya, di India juga ditemukan varian mutasi ganda B.1.617.

 

Melalui akun Twitter-nya, Peneliti Council of Scientific and Industrial Research’s Institute of Genomic and Integrative Biology (CSIR-IGIB) di New Delhi, Vinod Scaria menjelaskan, urutan paling awal dari varian ini, diisolasi pada 25 Oktober 2020, dalam sampel seorang pasien di Benggala Barat. Deteksi akhir, 17 Maret 2021.

Varian ini juga terlacak di AS, Singapura, Swiss, dan Finlandia.

Kecepatan Penularan

Vinod Scaria mengungkap, triple mutant variant tumbuh lumayan signifikan di Benggala Barat dalam beberapa bulan terakhir.

Masih banyak yang belum diketahui secara pasti dari varian ini, sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dalam laporannya, The Hindu mengatakan triple mutant variant sepertinya mewakili 15 persen genom di Benggala Barat dalam periode Januari-Maret 2021.

Seberapa bahaya?

Jawaban pasti untuk pertanyaan ini belum bisa diberikan, mengingat belum ada penelitian yang memadai tentang triple mutant variant.

Namun, para ahli mengatakan, varian Covid-19 yang saat ini bisa lebih cepat menular, ketimbang varian lainnya.

“Ini adalah varian yang lebih mudah menular. Varian yang banyak membuat orang jatuh sakit,” kata Profesor Epidemiologi di McGill University, Dr.Madhukar Pai dalam wawancaranya dengan NDTV.

Dalam utas Twitter-nya, Vinod Scaria mengatakan, masih belum diketahui apakah triple mutant variant ini dapat menyebabkan infeksi ulang, dan berpengaruh terhadap efikasi vaksin. Juga belum dapat diketahui, apakah seseorang yang telah divaksin masih dapat terinfeksi varian ini.

Pengaruh Terhadap Efikasi Vaksin

Para ahli khawatir, varian baru tersebut dapat berdampak pada kemanjuran vaksin, karena memiliki mutasi besar  E484K, yang sukses melepaskan diri dari jerat antibodi. 

Bisa saja, ini membahayakan kemanjuran vaksin. E484K juga ditemukan dalam varian virus Brasil dan Afrika Selatan.

“Anda bisa saja sulit menghindar dari varian ini, sekalipun sudah terinfeksi varian Covid lain, atau telah divaksinasi,”  kata Sreedhar Chinnaswamy dari Institut Nasional Genomedis Biomedis (NIBG) kepada The Times of India.

 

Dalam wawancaranya dengan NDTV, Dr Madhukar Pai menekankan bahwa kita perlu “terus menyesuaikan vaksin”. “Untuk itu, kita perlu memahami penyakit yang ditimbulkan, dan mengurutkannya dengan asumsi kita sedang berperang,” katanya.

Vinod Scaria menekankan, data eksperimen tambahan mutlak diperlukan untuk menilai kemanjuran vaksin terhadap varian baru ini.

Apakah varian baru bertanggung jawab atas lonjakan Covid di Bengal?

Sementara ini, para ahli sepakat bahwa varian baru yang terdeteksi di Benggala Barat lebih menular daripada varian lain. Namun, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa varian Covid Bengal bertanggung jawab atas lonjakan kasus Covid-19 di negara bagian tersebut.

“Saat ini, tidak ada bukti konklusif bahwa turunan ini mendorong epidemi di Benggala Barat, selain fakta bahwa jumlah dan proporsinya telah meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir,” terang Vinod Scaria. [HES]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories