Ini Bukan Hoaks Yang Kaya Makin Kaya, Yang Kere Makin Kere .

Pandemi Corona yang sudah berlangsung 1 tahun lebih ini telah membuat kesenjangan sosial semakin tinggi. Yang kaya makin kaya. Yang kere, tetap kere bahkan tambah kere. Ini fakta bukan hoaks.

Apa buktinya? Silakan lihat laporan Forbes tentang data orang kaya di dunia, termasuk Indonesia. Dalam laporan terbarunya, Forbes mengungkapkan, jumlah orang kaya selama Corona ini bukannya turun, tapi malah bertambah banyaknya.

Jumlah konglomerat bertambah 660 dari tahun lalu, menjadi 2.755 orang di tahun ini. Forbes pun mencatat rekor baru untuk orang kaya pendatang baru mencapai 493 orang. Artinya, ada 1 konglomerat baru setiap 17 jam.

Bagaimana dengan Indonesia? Tentu saja ada. Bahkan, ada 18 orang. Jika ditotal, harta kekayaan dari 18 orang ini tembus 75,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.057 triliun. Hampir setengah dari APBN kita setahun.

Siapa saja? Memang mayoritas dari orang-orang tajir di Indonesia masih didominasi muka-muka lama. Pertama, R Budi Hartono dengan total kekayaan 20,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 287 triliun yang bersumber dari bisnis tembakau dan perbankan. Setahun ini, kekayaannya bertambah 6,9 miliar dolar AS.

Kedua, Michael Hartono dengan total kekayaan 19,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 275,8 triliun yang bersumber dari bisnis perbankan dan tembakau. Kekayaannya naik 6,7 miliar dolar AS.

Ketiga, Prajogo Pangestu dengan kekayaan 6,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 91 triliun yang bersumber dari bisnis petrokimia. Keempat, Chairul Tanjung dengan kekayaan 4,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 67,2 triliun yang berasal dari berbagai bisnis. Kelima, Dato Sri Tahir dan Keluarga. Kekayaannya 3,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 46,2 triliun yang berasal dari berbagai bisnis. Keenam, Eddy Kusnadi Sariaatmadja dengan kekayaan 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 42 triliun yang bersumber dari bisnis media dan teknologi.

 

Seterusnya, ada Jerry Ng (Rp 35 triliun), Theodore Rachmat (Rp 23,8 triliun), Mochtar Riady dan Keluarga (Rp 23,8 triliun), Djoko Susanto (Rp 23,8 triliun), Peter Sondakh (1,5 miliar dolar AS,), Alexander (Tedja 1,4 miliar dolar AS) Murdaya Poo (1,2 miliar dolar AS), Winarko Sulistyo (1,2 miliar dolar AS), Lim Hariyanto Wijaya Sarwano (1,1 miliar dolar AS), Low Tuck Kwong (1,1 miliar dolar AS), Susanto Suwarto (1,1 miliar dolar AS), dan terakhir dan Hary Tanoesoedibjo (1,1 miliar dolar AS).

Kalau jumlah orang kaya makin naik, bagaimana dengan yang kere? Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun lalu, jumlah orang miskin di Indonesia bertambah 2,76 juta. Sehingga, total orang miskin sekarang mencapai 27,55 orang atau ada 10,19 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini naik tahun 2019 yang hanya 9,22 persen.

Naiknya jumlah orang miskin, salah satu faktor penyebabnya adalah pandemi Corona yang terjadi sejak Maret 2020. Banyak orang yang awalnya kerja, kini kehilangan mata pencahariannya. Total ada 29,12 juta penduduk usia kerja yang terpengaruh pandemi dan resesi pada 2020. Sebanyak 2,56 juta orang menjadi pengangguran. Sedangkan, 1,77 juta orang tidak bekerja sementara, dan 24,03 juta penduduk mengalami pengurangan jam kerja.

Kesenjangan ekonomi antara warga kaya dan miskin pun bertambah. Tingkat ketimpangan atau gini rasio Indonesia melebar menjadi 0,385. Angka ini naik dari posisi 0,380 pada September 2019.

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mengakui, pandemi membuat angka kemiskinan dan pengangguran bertambah. Padahal, pemerintah bisa memangkas kesenjangan tersebut melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Namun, program ini rasa-rasanya tidak tepat sasaran.

Buktinya, daya beli masyarakat belum terkerek. Meski sebenarnya pemerintah tahun ini menganggarkan program PEN hampir Rp 700 triliun, naik 20,56 persen dari realisasi tahun lalu yang hanya Rp 579,78 persen. “Kita berharap pemerintah fokus penanggulangan pandemi. Diikuti peningkatan kecepatan dan ketepatan bantuan,” ujar politisi Demokrat itu.

Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah menilai, kontrasnya perbandingan orang kaya dengan orang miskin ini benar-benar riil. Menurutnya, kondisi ini sebagai lingkaran setan kemiskinan. Katanya, orang kaya akan makin kaya. Sementara yang kere, kalau tidak berjuang keras, akan semakin kere.

“Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi di semua negara. Termasuk di Amerika sana,” kata Piter kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [MEN]

]]> .
Pandemi Corona yang sudah berlangsung 1 tahun lebih ini telah membuat kesenjangan sosial semakin tinggi. Yang kaya makin kaya. Yang kere, tetap kere bahkan tambah kere. Ini fakta bukan hoaks.

Apa buktinya? Silakan lihat laporan Forbes tentang data orang kaya di dunia, termasuk Indonesia. Dalam laporan terbarunya, Forbes mengungkapkan, jumlah orang kaya selama Corona ini bukannya turun, tapi malah bertambah banyaknya.

Jumlah konglomerat bertambah 660 dari tahun lalu, menjadi 2.755 orang di tahun ini. Forbes pun mencatat rekor baru untuk orang kaya pendatang baru mencapai 493 orang. Artinya, ada 1 konglomerat baru setiap 17 jam.

Bagaimana dengan Indonesia? Tentu saja ada. Bahkan, ada 18 orang. Jika ditotal, harta kekayaan dari 18 orang ini tembus 75,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.057 triliun. Hampir setengah dari APBN kita setahun.

Siapa saja? Memang mayoritas dari orang-orang tajir di Indonesia masih didominasi muka-muka lama. Pertama, R Budi Hartono dengan total kekayaan 20,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 287 triliun yang bersumber dari bisnis tembakau dan perbankan. Setahun ini, kekayaannya bertambah 6,9 miliar dolar AS.

Kedua, Michael Hartono dengan total kekayaan 19,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 275,8 triliun yang bersumber dari bisnis perbankan dan tembakau. Kekayaannya naik 6,7 miliar dolar AS.

Ketiga, Prajogo Pangestu dengan kekayaan 6,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 91 triliun yang bersumber dari bisnis petrokimia. Keempat, Chairul Tanjung dengan kekayaan 4,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 67,2 triliun yang berasal dari berbagai bisnis. Kelima, Dato Sri Tahir dan Keluarga. Kekayaannya 3,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 46,2 triliun yang berasal dari berbagai bisnis. Keenam, Eddy Kusnadi Sariaatmadja dengan kekayaan 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 42 triliun yang bersumber dari bisnis media dan teknologi.

 

Seterusnya, ada Jerry Ng (Rp 35 triliun), Theodore Rachmat (Rp 23,8 triliun), Mochtar Riady dan Keluarga (Rp 23,8 triliun), Djoko Susanto (Rp 23,8 triliun), Peter Sondakh (1,5 miliar dolar AS,), Alexander (Tedja 1,4 miliar dolar AS) Murdaya Poo (1,2 miliar dolar AS), Winarko Sulistyo (1,2 miliar dolar AS), Lim Hariyanto Wijaya Sarwano (1,1 miliar dolar AS), Low Tuck Kwong (1,1 miliar dolar AS), Susanto Suwarto (1,1 miliar dolar AS), dan terakhir dan Hary Tanoesoedibjo (1,1 miliar dolar AS).

Kalau jumlah orang kaya makin naik, bagaimana dengan yang kere? Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang tahun lalu, jumlah orang miskin di Indonesia bertambah 2,76 juta. Sehingga, total orang miskin sekarang mencapai 27,55 orang atau ada 10,19 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini naik tahun 2019 yang hanya 9,22 persen.

Naiknya jumlah orang miskin, salah satu faktor penyebabnya adalah pandemi Corona yang terjadi sejak Maret 2020. Banyak orang yang awalnya kerja, kini kehilangan mata pencahariannya. Total ada 29,12 juta penduduk usia kerja yang terpengaruh pandemi dan resesi pada 2020. Sebanyak 2,56 juta orang menjadi pengangguran. Sedangkan, 1,77 juta orang tidak bekerja sementara, dan 24,03 juta penduduk mengalami pengurangan jam kerja.

Kesenjangan ekonomi antara warga kaya dan miskin pun bertambah. Tingkat ketimpangan atau gini rasio Indonesia melebar menjadi 0,385. Angka ini naik dari posisi 0,380 pada September 2019.

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mengakui, pandemi membuat angka kemiskinan dan pengangguran bertambah. Padahal, pemerintah bisa memangkas kesenjangan tersebut melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Namun, program ini rasa-rasanya tidak tepat sasaran.

Buktinya, daya beli masyarakat belum terkerek. Meski sebenarnya pemerintah tahun ini menganggarkan program PEN hampir Rp 700 triliun, naik 20,56 persen dari realisasi tahun lalu yang hanya Rp 579,78 persen. “Kita berharap pemerintah fokus penanggulangan pandemi. Diikuti peningkatan kecepatan dan ketepatan bantuan,” ujar politisi Demokrat itu.

Direktur Riset Core Indonesia, Piter Abdullah menilai, kontrasnya perbandingan orang kaya dengan orang miskin ini benar-benar riil. Menurutnya, kondisi ini sebagai lingkaran setan kemiskinan. Katanya, orang kaya akan makin kaya. Sementara yang kere, kalau tidak berjuang keras, akan semakin kere.

“Ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tapi di semua negara. Termasuk di Amerika sana,” kata Piter kepada Rakyat Merdeka, kemarin. [MEN]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories