Ini 4 Kriteria Rais Aam PBNU Versi KH Maruf Amin

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin mengungkapkan pandangannya soal kriteria seorang Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU), usai menjadi pembicara kunci dalam peluncuran Buku Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama karya Ahmad Baso serta Kitab Tukhfatul Qosi Waddani, Biografi Syekh Nawawi Al Bantani karya KH Zulfa Mustafa di Hotel Radisson, Bandar Lampung, Rabu (22/12).

“Kalau Rais ‘Aam saya pernah membuat (kriteria) itu di Muktamar Jombang. Minimal ada empat kriteria,” tutur Kiai Ma’ruf, Rabu (22/12).

Kriteria pertama adalah faqih, yakni memahami dengan baik aturan dan syariat Islam, sebagai dasar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

“Dia harus faqih. Kalau tidak faqih, bagaimana dia menyelesaikan persoalan, tidak ada patokannya,” tegas Kiai Ma’ruf.

Kedua, munaddzim atau organisator. Menurutnya, seorang Rais ‘Aam harus mengerti ilmu berorganisasi karena NU merupakan sebuah organisasi.

“NU itu organisasi. Jadi seorang pemimpin tertinggi harus mengerti organisasi,” tandasnya.

Ketiga, muharrik atau penggerak. “Dia harus bisa menggerakkan. Sebab NU itu adalah gerakan ulama dalam memperbaiki umat, dalam rangka meng-islah-kan. Karena (bentuknya) gerakan, dia harus menjadi seorang penggerak,” ujarnya.

Keempat, wira’i. Menurut Kiai Ma’ruf, seorang Rais ‘Aam harus memiliki sifat wara’ yakni senantiasa menjauhkan diri dari maksiat dan perkara syubhat (tidak jelas halal dan haramnya) yang dapat menimbulkan dosa.

“Karena itu, saya katakan, Rais ‘Aam itu bukan sekedar posisi struktur organisasi, tetapi juga maqam (berkedudukan tinggi). Di NU itu maqam. Rais ‘Aam itu sangat sentral,” ujar Kiai Ma’ruf.

Namun demikian, meskipun terpilih sebagai Rais ‘Aam pada Muktamar Jombang, Kiai Ma’ruf mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok shohibul maqam (orang yang berkedudukan tinggi).

Dengan merendah, Kiai Ma’ruf pun mengatakan bahwa dirinya dipilih sebagai Rais ‘Aam saat itu karena darurat.

“Makanya ketika saya jadi Rais ‘Aam itu saya bilang, saya ini Rais ‘Aam Dhoruri, darurat saja,” pungkasnya.

Saat ini, NU sedang menyelenggarakan Muktamar ke-34 di Lampung, tanggal 22-23 Desember 2021. Salah satu agenda pentingnya adalah memilih Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2021 – 2026. [UMM]

]]> Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin mengungkapkan pandangannya soal kriteria seorang Rais ‘Aam Nahdlatul Ulama (NU), usai menjadi pembicara kunci dalam peluncuran Buku Historiografi Khittah dan Politik Nahdlatul Ulama karya Ahmad Baso serta Kitab Tukhfatul Qosi Waddani, Biografi Syekh Nawawi Al Bantani karya KH Zulfa Mustafa di Hotel Radisson, Bandar Lampung, Rabu (22/12).

“Kalau Rais ‘Aam saya pernah membuat (kriteria) itu di Muktamar Jombang. Minimal ada empat kriteria,” tutur Kiai Ma’ruf, Rabu (22/12).

Kriteria pertama adalah faqih, yakni memahami dengan baik aturan dan syariat Islam, sebagai dasar dalam menyelesaikan berbagai permasalahan.

“Dia harus faqih. Kalau tidak faqih, bagaimana dia menyelesaikan persoalan, tidak ada patokannya,” tegas Kiai Ma’ruf.

Kedua, munaddzim atau organisator. Menurutnya, seorang Rais ‘Aam harus mengerti ilmu berorganisasi karena NU merupakan sebuah organisasi.

“NU itu organisasi. Jadi seorang pemimpin tertinggi harus mengerti organisasi,” tandasnya.

Ketiga, muharrik atau penggerak. “Dia harus bisa menggerakkan. Sebab NU itu adalah gerakan ulama dalam memperbaiki umat, dalam rangka meng-islah-kan. Karena (bentuknya) gerakan, dia harus menjadi seorang penggerak,” ujarnya.

Keempat, wira’i. Menurut Kiai Ma’ruf, seorang Rais ‘Aam harus memiliki sifat wara’ yakni senantiasa menjauhkan diri dari maksiat dan perkara syubhat (tidak jelas halal dan haramnya) yang dapat menimbulkan dosa.

“Karena itu, saya katakan, Rais ‘Aam itu bukan sekedar posisi struktur organisasi, tetapi juga maqam (berkedudukan tinggi). Di NU itu maqam. Rais ‘Aam itu sangat sentral,” ujar Kiai Ma’ruf.

Namun demikian, meskipun terpilih sebagai Rais ‘Aam pada Muktamar Jombang, Kiai Ma’ruf mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok shohibul maqam (orang yang berkedudukan tinggi).

Dengan merendah, Kiai Ma’ruf pun mengatakan bahwa dirinya dipilih sebagai Rais ‘Aam saat itu karena darurat.

“Makanya ketika saya jadi Rais ‘Aam itu saya bilang, saya ini Rais ‘Aam Dhoruri, darurat saja,” pungkasnya.

Saat ini, NU sedang menyelenggarakan Muktamar ke-34 di Lampung, tanggal 22-23 Desember 2021. Salah satu agenda pentingnya adalah memilih Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2021 – 2026. [UMM]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories