Inflasi AS Tekan Pergerakan Rupiah

Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka melemah 0,06 persen ke level Rp 14.898 per dolar AS dibanding perdagangan kemarin di level Rp 14.889 per dolar AS.

Di kawasan Asia sejumlah mata uang berfluktuatif. Yen Jepang anjlok 0,35 persen, won Korea Selatan melemah 0,30 persen, dolar Singapura minus 0,01 persen, peso Filipina turun 0,38 persen, yuan China naik 0,06 persen, dan baht Thailand menguat 0,11 persen.

Indeks dolar AS, terhadap mata uang saingannya naik 0,5 persen ke level 105,86. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,03 persen ke level Rp 15.118, terhadap poundsterling Inggris menguat 0,03 persen ke level Rp 18.074, dan terhadap dolar Australia menguat 0,04 persen ke level Rp 10.282.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah aksi investor yang mempertimbangkan kemungkinan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga seagresif yang diperkirakan.

“Nilai tukar rupiah akan melemah di perdagangan pagi ini. Loyonya rupiah kali ini lagi-lagi karena kebijakan The Fed yang kemungkinan tetap agresif di rapat FOMC selanjutnya,” jelasnya di Jakarta, Rabu (3/8).

Menurutnya, kebijakan The Fed yang agresif akan menyebabkan lonjakan pada imbal hasil obligasi AS dan menguatkan dolar AS. Gejolak ekonomi luar negeri juga menjadi pertimbangan, termasuk kenaikan suku bunga di AS.

Dari dalam negeri, kebijakan moneter Indonesia sejauh ini lebih didasarkan pada inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi. Pondasi utama kebijakan suku bunga didasarkan pada proyeksi inflasi inti ke depannya dan juga keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi.

Ibrahim memproyeksi nilai tukar rupiah berfluktuatif sepanjang hari ini atau ditutup melemah di rentang Rp 14.870-Rp 15.000 per dolar AS.

]]> Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka melemah 0,06 persen ke level Rp 14.898 per dolar AS dibanding perdagangan kemarin di level Rp 14.889 per dolar AS.

Di kawasan Asia sejumlah mata uang berfluktuatif. Yen Jepang anjlok 0,35 persen, won Korea Selatan melemah 0,30 persen, dolar Singapura minus 0,01 persen, peso Filipina turun 0,38 persen, yuan China naik 0,06 persen, dan baht Thailand menguat 0,11 persen.

Indeks dolar AS, terhadap mata uang saingannya naik 0,5 persen ke level 105,86. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro melemah 0,03 persen ke level Rp 15.118, terhadap poundsterling Inggris menguat 0,03 persen ke level Rp 18.074, dan terhadap dolar Australia menguat 0,04 persen ke level Rp 10.282.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebutkan, pelemahan mata uang Garuda terjadi di tengah aksi investor yang mempertimbangkan kemungkinan bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga seagresif yang diperkirakan.

“Nilai tukar rupiah akan melemah di perdagangan pagi ini. Loyonya rupiah kali ini lagi-lagi karena kebijakan The Fed yang kemungkinan tetap agresif di rapat FOMC selanjutnya,” jelasnya di Jakarta, Rabu (3/8).

Menurutnya, kebijakan The Fed yang agresif akan menyebabkan lonjakan pada imbal hasil obligasi AS dan menguatkan dolar AS. Gejolak ekonomi luar negeri juga menjadi pertimbangan, termasuk kenaikan suku bunga di AS.

Dari dalam negeri, kebijakan moneter Indonesia sejauh ini lebih didasarkan pada inflasi inti dan pertumbuhan ekonomi. Pondasi utama kebijakan suku bunga didasarkan pada proyeksi inflasi inti ke depannya dan juga keseimbangan dengan pertumbuhan ekonomi.

Ibrahim memproyeksi nilai tukar rupiah berfluktuatif sepanjang hari ini atau ditutup melemah di rentang Rp 14.870-Rp 15.000 per dolar AS.
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories