Indonesia Bisa Ngebut Akhiri Pandemi Covid, Ini Syaratnya

Vaksinasi yang sudah berjalan cukup baik sejak 13 Januari 2021, menjadi modal yang bisa diandalkan dalam menangani pandemi Covid.

Saat ini, menurut data Kementerian Kesehatan per 15 April pukul 09.00 WIB, jumlah warga Indonesia yang telah divaksin Covid dosis pertama mencapai 10.505.334 (26,03 persen). 

Sedangkan jumlah warga yang sudah mendapat dosis kedua, ada 5.607.527 (13,90 persen). Tapi, tetap kita tak boleh lengah. Apalagi, sampai ada euforia vaksin. Sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

Terkait hal ini, Pakar Bioteknologi yang juga Associate Professor Universiti Putra Malaysia Prof. Bimo Ario Tejo mengingatkan mereka yang sudah mendapatkan vaksin Covid, agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Pasalnya, vaksinasi dan protokol kesehatan merupakan satu paket yang harus dijalankan bersamaan. Tak bisa dipisah.

“Jika semua dijalankan bersamaan, sangat mungkin Indonesia bisa lebih cepat mengakhiri pandemi Covid-19,” tutur Bimo dalam acara talk show RM.id bertema Divaksin Tak Otomatis Kebal, Selasa (13/4).

Bimo menambahkan, banyak negara yang tidak ketat dalam menjalankan protokol kesehatan, setelah program vaksinasi berjalan. Imbasnya, terjadi lonjakan penularan Covid-19.

“Kalau mengabaikan protokol kesehatan, maka kita akan mengalami seperti Eropa dan India yang saat ini mengalami lonjakan penularan Covid-19. Di banyak negara Eropa, kasus sempat turun, tapi kemudian meningkat pesat karena abai terhadap protokol kesehatan,” jelas Bimo.

“Vaksin memang bisa meningkatkan daya tahan tubuh kita, sehingga terhindar dari risiko sakit parah atau meninggal dunia. Tapi, kita masih bisa ketempelan (virus). Risiko penularan masih ada,” lanjutnya.

Karena itu, meski sudah divaksin, kita harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Untuk melindungi diri sendiri, dan juga orang lain yang belum divaksin.

“Angka 2 persen meninggal dunia, mungkin sepintas kecil ya. Ah cuma 2 persen. Tapi, coba dihitung, 2 persen dari 270 juta. Banyak kan? Bagaimana seandainya, yang jadi korban itu orang-orang yang kita sayangi. Anak istri kita, orangtua kita misalnya,” papar Bimo.

 

Kekebalan pasca vaksinasi baru terbentuk sekitar 28 hari, setelah suntik vaksin kedua. Antibodi bakal terbentuk lebih optimal, dalam interval waktu satu bulan dari suntikan vaksin kedua.

“Perlu dipahami, yang memberikan perlindungan kepada masyarakat pasca vaksinasi, sebetulnya bukan hanya di antibodi. Itu hanya pertahanan pertama dari serangan virus. Setelah itu, masih ada sel T yang merupakan pertahanan kedua,” urai Bimo.

Bimo mengilustrasikan, antibodi ibarat pagar yang melindungi rumah dari pencuri yang masuk.

“Tapi kadang, ada saja pencuri yang bisa lolos dari pagar luar rumah, lalu sampai ke dalam rumah. Nah, makanya diperlukan teknik pertahanan kedua misalnya seperti ada orang yang berjaga di dalam, seperti satpam atau siapa yang kemudian bisa menyerang pencuri tersebut. Satpam atau orang yang berjaga dalam rumah itu lah yang dinamakan sel T,” papar Bimo.

Secara umum, daya tahan tubuh – baik yang dihasilkan dari antibodi ataupun sel T – dapat dijaga dengan menerapkan gaya hidup sehat semisal cukup tidur, mengkonsumsi makanan bergizi, dan menjaga jiwa agar tetap happy.

“Namun secara spesifik, tidak bisa tidak, tetap harus lewat vaksinasi,” pungkas Bimo. [FAZ]

]]> Vaksinasi yang sudah berjalan cukup baik sejak 13 Januari 2021, menjadi modal yang bisa diandalkan dalam menangani pandemi Covid.

Saat ini, menurut data Kementerian Kesehatan per 15 April pukul 09.00 WIB, jumlah warga Indonesia yang telah divaksin Covid dosis pertama mencapai 10.505.334 (26,03 persen). 

Sedangkan jumlah warga yang sudah mendapat dosis kedua, ada 5.607.527 (13,90 persen). Tapi, tetap kita tak boleh lengah. Apalagi, sampai ada euforia vaksin. Sehingga mengabaikan protokol kesehatan.

Terkait hal ini, Pakar Bioteknologi yang juga Associate Professor Universiti Putra Malaysia Prof. Bimo Ario Tejo mengingatkan mereka yang sudah mendapatkan vaksin Covid, agar tetap menerapkan protokol kesehatan. Pasalnya, vaksinasi dan protokol kesehatan merupakan satu paket yang harus dijalankan bersamaan. Tak bisa dipisah.

“Jika semua dijalankan bersamaan, sangat mungkin Indonesia bisa lebih cepat mengakhiri pandemi Covid-19,” tutur Bimo dalam acara talk show RM.id bertema Divaksin Tak Otomatis Kebal, Selasa (13/4).

Bimo menambahkan, banyak negara yang tidak ketat dalam menjalankan protokol kesehatan, setelah program vaksinasi berjalan. Imbasnya, terjadi lonjakan penularan Covid-19.

“Kalau mengabaikan protokol kesehatan, maka kita akan mengalami seperti Eropa dan India yang saat ini mengalami lonjakan penularan Covid-19. Di banyak negara Eropa, kasus sempat turun, tapi kemudian meningkat pesat karena abai terhadap protokol kesehatan,” jelas Bimo.

“Vaksin memang bisa meningkatkan daya tahan tubuh kita, sehingga terhindar dari risiko sakit parah atau meninggal dunia. Tapi, kita masih bisa ketempelan (virus). Risiko penularan masih ada,” lanjutnya.

Karena itu, meski sudah divaksin, kita harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Untuk melindungi diri sendiri, dan juga orang lain yang belum divaksin.

“Angka 2 persen meninggal dunia, mungkin sepintas kecil ya. Ah cuma 2 persen. Tapi, coba dihitung, 2 persen dari 270 juta. Banyak kan? Bagaimana seandainya, yang jadi korban itu orang-orang yang kita sayangi. Anak istri kita, orangtua kita misalnya,” papar Bimo.

 

Kekebalan pasca vaksinasi baru terbentuk sekitar 28 hari, setelah suntik vaksin kedua. Antibodi bakal terbentuk lebih optimal, dalam interval waktu satu bulan dari suntikan vaksin kedua.

“Perlu dipahami, yang memberikan perlindungan kepada masyarakat pasca vaksinasi, sebetulnya bukan hanya di antibodi. Itu hanya pertahanan pertama dari serangan virus. Setelah itu, masih ada sel T yang merupakan pertahanan kedua,” urai Bimo.

Bimo mengilustrasikan, antibodi ibarat pagar yang melindungi rumah dari pencuri yang masuk.

“Tapi kadang, ada saja pencuri yang bisa lolos dari pagar luar rumah, lalu sampai ke dalam rumah. Nah, makanya diperlukan teknik pertahanan kedua misalnya seperti ada orang yang berjaga di dalam, seperti satpam atau siapa yang kemudian bisa menyerang pencuri tersebut. Satpam atau orang yang berjaga dalam rumah itu lah yang dinamakan sel T,” papar Bimo.

Secara umum, daya tahan tubuh – baik yang dihasilkan dari antibodi ataupun sel T – dapat dijaga dengan menerapkan gaya hidup sehat semisal cukup tidur, mengkonsumsi makanan bergizi, dan menjaga jiwa agar tetap happy.

“Namun secara spesifik, tidak bisa tidak, tetap harus lewat vaksinasi,” pungkas Bimo. [FAZ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories