Indef: Bisa Tumbuh 1 Persen Saja Udah bagus

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal ll di angka 7 persen, terlalu ambisius.

Bhima menyebutkan ada tiga faktor yang menjadi kendala target itu sulit tercapai. Pertama, vaksinasi yang digadang-gadang menjadi game changer masih terkendala dari sisi kepastian pasokan.

Kedua, pertumbuhan sektoral tidak sama. Kinerja sektortransportasi, pariwisata, dan perhotelan, kemungkinan masih akan tersendat.

“Sektor-sektor yang berorientasi pada komoditas dan ekspor mungkin agak terbantu karena Amerika Serikat dan China ekonominya sudah pulih sehingga permintaan barang dari Indonesia sudah mulai meningkat,” kata Bhima di Jakarta, Jumat (16/4).

Ketiga, larangan pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Kinerja sektor jasa transportasi biasanya meroket pada momen Idul Fitri. Dengan ada kebijakan itu tentu sektor ini akan tertekan. Kebijakan larangan mudik juga akan berdampak pada menurunnya penjualan otomotif.

Kemudian, pendapatan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Pendapatan jasa jalan tol termasuk yang berdagang di rest area itu pasti mengalami tekanan.

Bhima memprediksi pertumbuhan ekonomi dikuartal ll hanya akan tumbuh tipis. Tidak seperti yang diharapkan pemerintah.

“Jadi saya tidak sepakat kalau tumbuhnya 7 persen. Kita bisa tumbuh 1-2 persen saja sudah prestasi di kuartal II-2021,” jelasnya.

 

Peneliti dari Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, Lebaran memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi di kuartal ll 2021.

Sebab, kinerja kuartal yang memiliki momentum Lebaran akan tumbuh lebih tinggi dibanding kuartal sebe lumnya. Misalnya, Lebaran yang jatuh di Juni 2018 dan 2019.

Momentum itu menyebabkan pertumbuhan kuartal ll tahun tersebut mencapai 4,21 persen dan 4,2 persen. Namun, pada kuartal lll, pertumbuhan kembali turun menjadi hanya 3,09 persen dan 3,06 persen.

Namun demikian, Yusuf memprediksi pertumbuhan tahun ini tetap positif. Terutama setelah sejumlah indikator terus merangkak naik ke zona positif seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,2 poin pada Maret, lalu Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang sudah mencapai 93,4 per Maret.

Sayangnya angka-angka ini masih belum cukup menandakan pertumbuhan akan bisa terkerek tinggi.

“Kuartal 2021 akan mencapai level positif dari tahun lalu, tapi belum tentu setinggi yang diprediksi pemerintah,” tegasnya.

Ia menilai, pertumbuhan kuartal ll 2021 masih sangat bergantung pada seberapa baik pemerintah menjaga konsumsi masyarakat, terutama saat pelaku usaha memberi sinyal membayar Tunjangan hari Raya (THR). [KPJ]

]]> Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara melihat prediksi pertumbuhan ekonomi di kuartal ll di angka 7 persen, terlalu ambisius.

Bhima menyebutkan ada tiga faktor yang menjadi kendala target itu sulit tercapai. Pertama, vaksinasi yang digadang-gadang menjadi game changer masih terkendala dari sisi kepastian pasokan.

Kedua, pertumbuhan sektoral tidak sama. Kinerja sektortransportasi, pariwisata, dan perhotelan, kemungkinan masih akan tersendat.

“Sektor-sektor yang berorientasi pada komoditas dan ekspor mungkin agak terbantu karena Amerika Serikat dan China ekonominya sudah pulih sehingga permintaan barang dari Indonesia sudah mulai meningkat,” kata Bhima di Jakarta, Jumat (16/4).

Ketiga, larangan pulang kampung di hari raya Idul Fitri. Kinerja sektor jasa transportasi biasanya meroket pada momen Idul Fitri. Dengan ada kebijakan itu tentu sektor ini akan tertekan. Kebijakan larangan mudik juga akan berdampak pada menurunnya penjualan otomotif.

Kemudian, pendapatan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Pendapatan jasa jalan tol termasuk yang berdagang di rest area itu pasti mengalami tekanan.

Bhima memprediksi pertumbuhan ekonomi dikuartal ll hanya akan tumbuh tipis. Tidak seperti yang diharapkan pemerintah.

“Jadi saya tidak sepakat kalau tumbuhnya 7 persen. Kita bisa tumbuh 1-2 persen saja sudah prestasi di kuartal II-2021,” jelasnya.

 

Peneliti dari Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, Lebaran memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi di kuartal ll 2021.

Sebab, kinerja kuartal yang memiliki momentum Lebaran akan tumbuh lebih tinggi dibanding kuartal sebe lumnya. Misalnya, Lebaran yang jatuh di Juni 2018 dan 2019.

Momentum itu menyebabkan pertumbuhan kuartal ll tahun tersebut mencapai 4,21 persen dan 4,2 persen. Namun, pada kuartal lll, pertumbuhan kembali turun menjadi hanya 3,09 persen dan 3,06 persen.

Namun demikian, Yusuf memprediksi pertumbuhan tahun ini tetap positif. Terutama setelah sejumlah indikator terus merangkak naik ke zona positif seperti Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,2 poin pada Maret, lalu Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang sudah mencapai 93,4 per Maret.

Sayangnya angka-angka ini masih belum cukup menandakan pertumbuhan akan bisa terkerek tinggi.

“Kuartal 2021 akan mencapai level positif dari tahun lalu, tapi belum tentu setinggi yang diprediksi pemerintah,” tegasnya.

Ia menilai, pertumbuhan kuartal ll 2021 masih sangat bergantung pada seberapa baik pemerintah menjaga konsumsi masyarakat, terutama saat pelaku usaha memberi sinyal membayar Tunjangan hari Raya (THR). [KPJ]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories