Indahnya Berbagi .

Rabu (20/1), pagi-pagi, ada pesan WhatsApp dari teman yang bertanya bagaimana keadaan saya dan keluarga. Dia, teman saya waktu SMA. Dulu pernah tinggal dekat rumah. Tapi, sejak menikah, dia tinggal di Kebon Jeruk, dekat dengan mertuanya.

Pesan WhatsApp dia waktu itu, saya anggap sebagai bentuk perhatian teman. Awal mulanya kita ngobrol menanyakan kabar masing-masing. Sampai pada akhirnya dia cerita keadaan keluarganya. Dia curhat kalau sebulan kemarin gajinya di-pending oleh kantornya.

Dia sempat nyoba-nyoba sepulang kerja untuk menjajal ojek online, supaya bisa menutupi kebutuhan rumah tangganya. Sayangnya, sudah seminggu motornya rusak. Cakram rem motornya mesti diganti. Harganya sekitar Rp 50 ribuan. Alhasil, dia terpaksa nggak narik ojek online dulu. Karena kalau dipaksain, bisa membahayakan diri dan orang lain gara-gara motor nggak pakai rem.

Dia pun izin sama saya kalau ada sedikit rezeki mau pinjam uang sekitar Rp 50 ribu aja buat ganti cakram rem. Saya bilang, kenapa cuma Rp 50 ribu? Karena saya pikir, tambahan pinjaman bisa ganti potensi pendapatan seminggu dia nggak narik ojol. Tapi, dia bilang, butuhnya cuma Rp 50 ribu buat ganti rem. Akhirnya, saya transfer dia Rp 150 ribu.

Awalnya, teman saya itu sempat nolak dikasih pinjam uang Rp 150 ribu. Dia bilang, takut nggak bisa bayar. Saya bilang, nggak apa-apa. Bahkan nggak usah dibayar juga nggak apa. Tapi, lagi-lagi dia nolak. Ya sudah saya bilang, kapan-kapan saja bayarnya.

Sekitar jam 1 siang di hari yang sama, tiba-tiba ada SMS banking masuk ke rekening saya, ternyata ada transferan uang masuk dari kantor. Bingung juga, ini uang apa. Ternyata, itu bonus. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sebab, di tengah situasi pandemi, dan beberapa media cetak memilih tutup, justru kami di Rakyat Merdeka masih bertahan dan kuat sampai sekarang. Malah dapat bonus lagi. Sungguh hal yang patut disyukuri. Doakan ya semoga terus bertahan sampai 100 tahun yang akan datang.

Saya cerita ke ibu kalau tadi pagi ada teman pinjam uang Rp 150 ribu buat bantu keluarganya. Siapa sangka, siangnya Allah langsung balas kebaikan dengan berpuluh-puluh kali lipat. Saya jadi ingat ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan, jika berbuat satu kebaikan, Allah akan membalasnya dengan 10 kali lipat kebaikan. Bahkan bisa berlipat hingga 700 kalinya.

Masya Allah, dengan janjinya, Allah tak pernah mengingkari. Lagi-lagi saya bersyukur dengan apa pun yang terjadi dalam hidup saya. Saya selalu berpikir, bahwa selalu lebih beruntung dari orang lain yang masih banyak kesulitan di hidupnya.

Senin (25/1), sore hari, ada paket dessert box yang diantar ojek online. Saya pikir ini dari mana, perasaan saya nggak pernah pesan. Kalau pun dari Humas atau EO perusahaan, pasti mereka ngabarin. Ternyata, itu kiriman dari teman saya yang kemarin itu pinjam uang.

Lewat WhatsApp dia kirim pesan ke saya kalau dessert box itu buatan istrinya. Istri teman saya ini katanya lagi coba-coba usaha bikin dessert box. Saya diminta menjadi salah satu konsumen untuk testimoninya. Teman saya juga bilang, dia sudah transfer uang untuk bayar pinjamannya kemarin sebesar Rp 150 ribu.

Saya tanya, memang sudah punya uang untuk ganti. Dia bilang, alhamdulillah pas tanggal 25 gajinya juga sudah dibayarkan dobel sama kantornya. Dia juga cerita, dari uang yang saya pinjami itu, membuka jalan kebaikan lain. Rem motornya yang sudah diperbaiki membuatnya bisa kembali narik ojek. Dari hasil ojeknya itu jadi modal bagi istrinya dengan membuat usaha dessert box.

Sekarang, bayangkan bagaimana kantor yang tetap memberikan bonus kepada seluruh karyawannya. Dari uang tersebut menciptakan kebaikan-kebaikan lainnya dari tiap karyawan. Saya percaya dari satu kebaikan kecil akan menciptakan kebaikan-kebaikan lain. Bahkan keberkahan dari kebaikan itu pun kembali ke setiap orang yang memberinya. [Dwi Ilhami/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> .
Rabu (20/1), pagi-pagi, ada pesan WhatsApp dari teman yang bertanya bagaimana keadaan saya dan keluarga. Dia, teman saya waktu SMA. Dulu pernah tinggal dekat rumah. Tapi, sejak menikah, dia tinggal di Kebon Jeruk, dekat dengan mertuanya.

Pesan WhatsApp dia waktu itu, saya anggap sebagai bentuk perhatian teman. Awal mulanya kita ngobrol menanyakan kabar masing-masing. Sampai pada akhirnya dia cerita keadaan keluarganya. Dia curhat kalau sebulan kemarin gajinya di-pending oleh kantornya.

Dia sempat nyoba-nyoba sepulang kerja untuk menjajal ojek online, supaya bisa menutupi kebutuhan rumah tangganya. Sayangnya, sudah seminggu motornya rusak. Cakram rem motornya mesti diganti. Harganya sekitar Rp 50 ribuan. Alhasil, dia terpaksa nggak narik ojek online dulu. Karena kalau dipaksain, bisa membahayakan diri dan orang lain gara-gara motor nggak pakai rem.

Dia pun izin sama saya kalau ada sedikit rezeki mau pinjam uang sekitar Rp 50 ribu aja buat ganti cakram rem. Saya bilang, kenapa cuma Rp 50 ribu? Karena saya pikir, tambahan pinjaman bisa ganti potensi pendapatan seminggu dia nggak narik ojol. Tapi, dia bilang, butuhnya cuma Rp 50 ribu buat ganti rem. Akhirnya, saya transfer dia Rp 150 ribu.

Awalnya, teman saya itu sempat nolak dikasih pinjam uang Rp 150 ribu. Dia bilang, takut nggak bisa bayar. Saya bilang, nggak apa-apa. Bahkan nggak usah dibayar juga nggak apa. Tapi, lagi-lagi dia nolak. Ya sudah saya bilang, kapan-kapan saja bayarnya.

Sekitar jam 1 siang di hari yang sama, tiba-tiba ada SMS banking masuk ke rekening saya, ternyata ada transferan uang masuk dari kantor. Bingung juga, ini uang apa. Ternyata, itu bonus. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sebab, di tengah situasi pandemi, dan beberapa media cetak memilih tutup, justru kami di Rakyat Merdeka masih bertahan dan kuat sampai sekarang. Malah dapat bonus lagi. Sungguh hal yang patut disyukuri. Doakan ya semoga terus bertahan sampai 100 tahun yang akan datang.

Saya cerita ke ibu kalau tadi pagi ada teman pinjam uang Rp 150 ribu buat bantu keluarganya. Siapa sangka, siangnya Allah langsung balas kebaikan dengan berpuluh-puluh kali lipat. Saya jadi ingat ada ayat Al-Qur’an yang menyatakan, jika berbuat satu kebaikan, Allah akan membalasnya dengan 10 kali lipat kebaikan. Bahkan bisa berlipat hingga 700 kalinya.

Masya Allah, dengan janjinya, Allah tak pernah mengingkari. Lagi-lagi saya bersyukur dengan apa pun yang terjadi dalam hidup saya. Saya selalu berpikir, bahwa selalu lebih beruntung dari orang lain yang masih banyak kesulitan di hidupnya.

Senin (25/1), sore hari, ada paket dessert box yang diantar ojek online. Saya pikir ini dari mana, perasaan saya nggak pernah pesan. Kalau pun dari Humas atau EO perusahaan, pasti mereka ngabarin. Ternyata, itu kiriman dari teman saya yang kemarin itu pinjam uang.

Lewat WhatsApp dia kirim pesan ke saya kalau dessert box itu buatan istrinya. Istri teman saya ini katanya lagi coba-coba usaha bikin dessert box. Saya diminta menjadi salah satu konsumen untuk testimoninya. Teman saya juga bilang, dia sudah transfer uang untuk bayar pinjamannya kemarin sebesar Rp 150 ribu.

Saya tanya, memang sudah punya uang untuk ganti. Dia bilang, alhamdulillah pas tanggal 25 gajinya juga sudah dibayarkan dobel sama kantornya. Dia juga cerita, dari uang yang saya pinjami itu, membuka jalan kebaikan lain. Rem motornya yang sudah diperbaiki membuatnya bisa kembali narik ojek. Dari hasil ojeknya itu jadi modal bagi istrinya dengan membuat usaha dessert box.

Sekarang, bayangkan bagaimana kantor yang tetap memberikan bonus kepada seluruh karyawannya. Dari uang tersebut menciptakan kebaikan-kebaikan lainnya dari tiap karyawan. Saya percaya dari satu kebaikan kecil akan menciptakan kebaikan-kebaikan lain. Bahkan keberkahan dari kebaikan itu pun kembali ke setiap orang yang memberinya. [Dwi Ilhami/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories

Generated by Feedzy