Impor Beras Boleh, Asal Jangan Korbankan Petani Lokal

Kebijakan impor beras tak melulu salah. Sepanjang bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan dan menstabilkan harga, kebijakan itu boleh dilakukan. Hal ini disampaikan anggota Komisi VI DPR Panggah Susanto.

Dia meyakini, rencana pemerintah untuk mengimpor beras, sudah melalui proses yang matang. Salah satu pertimbangannya, maraknya berbagai bencana di sejumlah daerah. Dibutuhkan ketersediaan pangan saat darurat.

“Cuaca ekstrem juga sedang kita hadapi di berbagai daerah, faktor-faktor yang bisa mengurangi produksi pertanian dalam negeri,” ujar Panggah lewat pesan singkat kepada wartawan, Sabtu (20/3).

Selama ini, impor beras dianggap sebagai momok yang menakutkan. Padahal, ketahanan pangan tidak boleh ambil risiko.

Stock Cadangan Beras Pemerintah (CBP) harus terjamin, baik melalui pengadaan dalam negeri maupun impor. “Ada pertimbangan penting ketika mengambil langkah impor beras,” imbuhnya.

Meski begitu, Panggah mengingatkan, kebijakan beras impor tak boleh mengganggu panen petani. Pemerintah mesti menjamin pemasukan beras impor tidak akan dilakukan pada masa panen raya. Serta, hanya ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan stok beras/iron stock.

“Kebijakan impor beras tetap memperhatikan masa panen dalam negeri, sehingga tidak mengurangi serapan hasil panen petani,” ucap Panggah.

Dia menyarankan, stok beras impor hanya hanya disalurkan melalui program pemerintah (ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga/operasi pasar) dan bantuan sosial Covid-19. Dengan begitu, tidak akan mendistorsi pasar.

“Jadi jika Rakortas memutuskan impor bulan Maret maka diperkirakan barang akan masuk paling cepat pertengahan tahun 2021. Kebijakan ini sangat tepat mengingat bulan Mei-Juni adalah masa dimana masa panen telah berakhir dan harga gabah dan beras mulai merangkak naik,” ungkapnya.

Selain itu, Panggah juga berharap Bulog mampu meningkatkan kemampuan dalam mengamankan stok. Misalnya, dengan membangun fasilitas pengeringan (dryer) dan penyimpanan gabah (silo).

Saat ini, pengeringan 95 persennya masih mengandalkan pengering alami dengan sinar matahari. “Juga peningkatan kemampuan penyaluran di sisi hilirnya,” tandas Panggah. [QAR]

]]> Kebijakan impor beras tak melulu salah. Sepanjang bertujuan untuk menjaga ketahanan pangan dan menstabilkan harga, kebijakan itu boleh dilakukan. Hal ini disampaikan anggota Komisi VI DPR Panggah Susanto.

Dia meyakini, rencana pemerintah untuk mengimpor beras, sudah melalui proses yang matang. Salah satu pertimbangannya, maraknya berbagai bencana di sejumlah daerah. Dibutuhkan ketersediaan pangan saat darurat.

“Cuaca ekstrem juga sedang kita hadapi di berbagai daerah, faktor-faktor yang bisa mengurangi produksi pertanian dalam negeri,” ujar Panggah lewat pesan singkat kepada wartawan, Sabtu (20/3).

Selama ini, impor beras dianggap sebagai momok yang menakutkan. Padahal, ketahanan pangan tidak boleh ambil risiko.

Stock Cadangan Beras Pemerintah (CBP) harus terjamin, baik melalui pengadaan dalam negeri maupun impor. “Ada pertimbangan penting ketika mengambil langkah impor beras,” imbuhnya.

Meski begitu, Panggah mengingatkan, kebijakan beras impor tak boleh mengganggu panen petani. Pemerintah mesti menjamin pemasukan beras impor tidak akan dilakukan pada masa panen raya. Serta, hanya ditujukan untuk meningkatkan ketersediaan stok beras/iron stock.

“Kebijakan impor beras tetap memperhatikan masa panen dalam negeri, sehingga tidak mengurangi serapan hasil panen petani,” ucap Panggah.

Dia menyarankan, stok beras impor hanya hanya disalurkan melalui program pemerintah (ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga/operasi pasar) dan bantuan sosial Covid-19. Dengan begitu, tidak akan mendistorsi pasar.

“Jadi jika Rakortas memutuskan impor bulan Maret maka diperkirakan barang akan masuk paling cepat pertengahan tahun 2021. Kebijakan ini sangat tepat mengingat bulan Mei-Juni adalah masa dimana masa panen telah berakhir dan harga gabah dan beras mulai merangkak naik,” ungkapnya.

Selain itu, Panggah juga berharap Bulog mampu meningkatkan kemampuan dalam mengamankan stok. Misalnya, dengan membangun fasilitas pengeringan (dryer) dan penyimpanan gabah (silo).

Saat ini, pengeringan 95 persennya masih mengandalkan pengering alami dengan sinar matahari. “Juga peningkatan kemampuan penyaluran di sisi hilirnya,” tandas Panggah. [QAR]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories