Hyper Automation Jadi Kunci Tranformasi Digital Perbankan

Dalam menghadapi adaptasi digital dalam proses bisnisnya, perbankan perlu mempersiapkan infrastrukturnya IT (In)-nya guna memenuhi kebutuhan konsumen.

Senior Executive Analyst Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Roberto Akyuwen mengungkapkan, ada 9 tantangan yang dihadapi bank dalam melakukan transformasi digital, mulai dari risiko perlindungan dan pertukaran data pribadi, risiko strategis investasi di bidang IT, hingga risiko serangan siber.

“Kemudian kesiapan organisasi, risiko kebocoran data nasabah, penyalahgunaan teknologi, risiko penggunaan pihak ketiga (outsourching), infrastruktur jaringan komunikasi, kemudian ada regulatory framework yang dalam beberapa konteks mungkin dianggap belum sepenuhnya kondusif,” ujarnya dalam media & public discussion Infobank TalkNews bertajuk Hyper Automation: Customer Expectation Outlook in Post-Covid-19 Era secara virtual, Rabu (10 /11).

Guna mengantisipasi risiko-risiko tersebut, regulator telah menerbitkan master plan sektor jasa keuangan Indonesia 2021-2025.

Roberto mengatakan, dalam salah satu pilarnya, yakni pilar nomor tiga, akselerasi transformasi digital, OJK bersama dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara pararel menerbitkan kebijakan-kebijakan high level, mid level, dan technical level.

“Selain ada upaya penguatan daya tahan dan daya saing, dan juga pengembangan ekosistemnya, semua dirubah agar lebih efisien, terkoneksi, nasabah bisa mendapatkan apa saja hanya dengan satu-dua pencet, anytime and awnywhere,” terangmya.

 

Dari master plan tersebut, lanjut Roberto, diturunkan menjadi roadmap. Selanjutnya, ditutup dengan yang lebih teknikal lagi, yakni blueprint atau cetak biru transformasi digital perbankan yang berisikan lima aspek yang perlu diperhatikan seksama dalam rangka transformasi digital perbankan.

“Pertama, it’s about data, kemudian mengenai teknologinya, manajemen risiko yang senantiasa kami pantau, dan yang terakhir tatanan institusi,” ucapnya.

Vice President-Business Solution Consulting Newgen, Ritesh Varma mengatakan, melalui teknologi hyper automation, perbankan bisa semakin terhubung dengan konsumennya.

“Kepuasan yang timbul dari nasabah yang melakukan transaksi di perbankan dengan hyper automation pada akhirnya, akan menarik nasabah lainnya untuk ikut merasakan pengalaman bertransaksi yang sama,” jelas Ritesh.

Lebih lanjut ia menjelaskan, terdapat berbagai teknologi digital dibalik kenyamanan bertransaksi nasabah. Kumpulan teknologi dalam satu platform tersebut adalah kunci dari hyper automation pada perbankan.

Newgen menawarkan kemudahan dalam adaptasi layanan platform hyper automation di sektor perbankan. Melalui layanan ini, perbankan bisa segera mulai untuk semakin mendigitalisasi layanannya demi pengalaman bertransaksi nasabah yang lebih baik.

“Kami terus melakukan berbagai kerja sama dengan perbankan dalam hal hyper automation. Dengan bantuan dari Anabatic, kami mampu mengkostumisasi layanan kami untuk Indonesia,” paparnya.

Director Anabatic Technologies, Agus Muljady menambahkan, pelayanan yang mudah dan cepat akan menjadi pilihan nasabah.

Sejauh ini, jelas dia, para customer lebih memilih layanan yang simple dan mudah. Maka, banyak nasabah yang berharap, setiap layanan di perbankan dapat dilakukan melalui satu aplikasi saja, yaitu SuperApps yang terintegrasi dengan ekosistem digital favorit. Hal ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan nasabah sehari-hari.

“Personalisasi layanan banking SuperApps diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda,” ujar Agus.

Ke depannya, persaingan perbankan di area digital bisa dilihat dari persaingan banking SuperApps, seperti produk-produk inovatif, terhubung dengan platform digital favorit, kemudahan melakukan transaksi, tampilan eyecatching, personalize feature, promo dan cashback, serta keamanan bertransaksi.

Namun, lanjut dia, dari segi keamanan bank juga perlu diperhatikan. Secara operasionalnya, bagaimana bank bisa mengamankan datanya.

Selain itu, cara pengaturan proses menjaga data agar tidak keluar (bocor) juga harus diperhatikan oleh perbankan.

“Di bank yang sudah besar dan banyak integrasi antar sistem, memang harus ada dokumentasi yang menggambarkan integrasi antar sistem. Sehingga kita tahu bisnis prosesnya apa saja dan bagian mana yang bisa di otomasi,” terang dia.

Sementara Director of Information Technology Maybank Indonesia David Formula menyatakan, untuk mengembangkan layanannya agar menjadi semakin digital, cepat, dan aman, teknologi robotik dianggap menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Teknologi robotik yang terintegrasi ini akan diterapkan pada proses-proses bisnis yang terkait customer. Sehingga, terjadi automasi dalam proses bisnis yang pada akhirnya berimbas pada layanan perbankan yang semakin cepat

“Di Maybank kita mulai terapkan teknologi robotik, seperti API, Micro Services, Automation, Analytics, dan lainnya. Ini nantinya akan kita gabungkan,” jelas David Formula.

Diketahui, upaya tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital yang ada di Indonesia. Hingga September 2021, BI mencatat nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp 27,64 triliun. Transaksi digital banking juga meningkat 46,72 persen yoy menjadi Rp 28.685,48 triliun. [DWI]

]]> Dalam menghadapi adaptasi digital dalam proses bisnisnya, perbankan perlu mempersiapkan infrastrukturnya IT (In)-nya guna memenuhi kebutuhan konsumen.

Senior Executive Analyst Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Roberto Akyuwen mengungkapkan, ada 9 tantangan yang dihadapi bank dalam melakukan transformasi digital, mulai dari risiko perlindungan dan pertukaran data pribadi, risiko strategis investasi di bidang IT, hingga risiko serangan siber.

“Kemudian kesiapan organisasi, risiko kebocoran data nasabah, penyalahgunaan teknologi, risiko penggunaan pihak ketiga (outsourching), infrastruktur jaringan komunikasi, kemudian ada regulatory framework yang dalam beberapa konteks mungkin dianggap belum sepenuhnya kondusif,” ujarnya dalam media & public discussion Infobank TalkNews bertajuk Hyper Automation: Customer Expectation Outlook in Post-Covid-19 Era secara virtual, Rabu (10 /11).

Guna mengantisipasi risiko-risiko tersebut, regulator telah menerbitkan master plan sektor jasa keuangan Indonesia 2021-2025.

Roberto mengatakan, dalam salah satu pilarnya, yakni pilar nomor tiga, akselerasi transformasi digital, OJK bersama dengan Bank Indonesia (BI), Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) secara pararel menerbitkan kebijakan-kebijakan high level, mid level, dan technical level.

“Selain ada upaya penguatan daya tahan dan daya saing, dan juga pengembangan ekosistemnya, semua dirubah agar lebih efisien, terkoneksi, nasabah bisa mendapatkan apa saja hanya dengan satu-dua pencet, anytime and awnywhere,” terangmya.

 

Dari master plan tersebut, lanjut Roberto, diturunkan menjadi roadmap. Selanjutnya, ditutup dengan yang lebih teknikal lagi, yakni blueprint atau cetak biru transformasi digital perbankan yang berisikan lima aspek yang perlu diperhatikan seksama dalam rangka transformasi digital perbankan.

“Pertama, it’s about data, kemudian mengenai teknologinya, manajemen risiko yang senantiasa kami pantau, dan yang terakhir tatanan institusi,” ucapnya.

Vice President-Business Solution Consulting Newgen, Ritesh Varma mengatakan, melalui teknologi hyper automation, perbankan bisa semakin terhubung dengan konsumennya.

“Kepuasan yang timbul dari nasabah yang melakukan transaksi di perbankan dengan hyper automation pada akhirnya, akan menarik nasabah lainnya untuk ikut merasakan pengalaman bertransaksi yang sama,” jelas Ritesh.

Lebih lanjut ia menjelaskan, terdapat berbagai teknologi digital dibalik kenyamanan bertransaksi nasabah. Kumpulan teknologi dalam satu platform tersebut adalah kunci dari hyper automation pada perbankan.

Newgen menawarkan kemudahan dalam adaptasi layanan platform hyper automation di sektor perbankan. Melalui layanan ini, perbankan bisa segera mulai untuk semakin mendigitalisasi layanannya demi pengalaman bertransaksi nasabah yang lebih baik.

“Kami terus melakukan berbagai kerja sama dengan perbankan dalam hal hyper automation. Dengan bantuan dari Anabatic, kami mampu mengkostumisasi layanan kami untuk Indonesia,” paparnya.

Director Anabatic Technologies, Agus Muljady menambahkan, pelayanan yang mudah dan cepat akan menjadi pilihan nasabah.

Sejauh ini, jelas dia, para customer lebih memilih layanan yang simple dan mudah. Maka, banyak nasabah yang berharap, setiap layanan di perbankan dapat dilakukan melalui satu aplikasi saja, yaitu SuperApps yang terintegrasi dengan ekosistem digital favorit. Hal ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan nasabah sehari-hari.

“Personalisasi layanan banking SuperApps diharapkan dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda-beda,” ujar Agus.

Ke depannya, persaingan perbankan di area digital bisa dilihat dari persaingan banking SuperApps, seperti produk-produk inovatif, terhubung dengan platform digital favorit, kemudahan melakukan transaksi, tampilan eye-catching, personalize feature, promo dan cashback, serta keamanan bertransaksi.

Namun, lanjut dia, dari segi keamanan bank juga perlu diperhatikan. Secara operasionalnya, bagaimana bank bisa mengamankan datanya.

Selain itu, cara pengaturan proses menjaga data agar tidak keluar (bocor) juga harus diperhatikan oleh perbankan.

“Di bank yang sudah besar dan banyak integrasi antar sistem, memang harus ada dokumentasi yang menggambarkan integrasi antar sistem. Sehingga kita tahu bisnis prosesnya apa saja dan bagian mana yang bisa di otomasi,” terang dia.

Sementara Director of Information Technology Maybank Indonesia David Formula menyatakan, untuk mengembangkan layanannya agar menjadi semakin digital, cepat, dan aman, teknologi robotik dianggap menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Teknologi robotik yang terintegrasi ini akan diterapkan pada proses-proses bisnis yang terkait customer. Sehingga, terjadi automasi dalam proses bisnis yang pada akhirnya berimbas pada layanan perbankan yang semakin cepat

“Di Maybank kita mulai terapkan teknologi robotik, seperti API, Micro Services, Automation, Analytics, dan lainnya. Ini nantinya akan kita gabungkan,” jelas David Formula.

Diketahui, upaya tersebut juga sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital yang ada di Indonesia. Hingga September 2021, BI mencatat nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp 27,64 triliun. Transaksi digital banking juga meningkat 46,72 persen yoy menjadi Rp 28.685,48 triliun. [DWI]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories