Hindari Sindrom Post Covid, Perhatikan 6 Hal Ini

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, orang yang tertular Covid-19 berisiko mengalami sindrom post Covid alias long Covid. Dituturkannya, kondisi itu bisa dialami oleh penderita Covid-19 tanpa gejala (OTG), bergejala ringan, sedang, maupun berat.

Tapi, tidak semua penyintas akan terkena sindrom post Covid ini. Karena itu, harus dikenali kondisi pasca Covid-19 ini.

“Tidak tergantung tingkat keberatan atau kritis pada saat Covid-19 itu. Baik seseorang itu mengalami OTG, bergejala ringan, maupun sedang dan berat, semua berpotensi mengalaminya,” ujar Reisa, saat konferensi pers virtual, kemarin.

Dia menuturkan, menurut beberapa literatur penelitian, diperkirakan ada kurang lebih 200 gejala yang dikenali pada gejala long Covid-19. Gejala itu termasuk kelelahan, batuk berkepanjangan, nyeri dada dan otot, sesak napas, dan mengalami disfungsi kognitif.

Reisa menekankan, karena penyakit ini baru dan virusnya juga masih berubah-ubah, para ahli dan tenaga medis belum bisa menyimpulkan pola umum gejala kondisi pasca-Covid-19. “Mereka yang sembuh dari Covid-19 tidak bisa langsung menikmati kondisi kesehatan yang prima,” kata dokter jebolan Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.

Bahkan, World Health Organization (WHO) menyatakan, sekitar seperempat penyintas di dunia mengalami gejala yang berlanjut selama setidaknya satu bulan. Sementara, satu di antara 10 penyintas masih belum sehat penuh setelah 12 pekan.

Reisa juga membagi resep bagi para penyintas supaya bisa menghadapi long Covid. Setidaknya ada enam hal yang bisa dilakukan para penyintas yang baru saja sembuh dari Covid-19. Enam langkah ini bertujuan memaksimalkan pemulihan kondisi tubuh dan meminimalisir gejala post Covid-19.

“Pertama, yang paling disarankan adalah harus tetap mempertahankan kondisi kesehatan badannya seperti pada saat berjuang sembuh,” ujar pemilik nama lengkap Raden Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Reisa Kartikasari Broto Asmoro ini.

Kedua, penyintas diminta tetap mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan olahraga rutin dan teratur sesuai kebutuhan dan kemampuan tubuh dan jaga kebersihan lingkungan. Ketiga, penyintas diminta sering beraktivitas di ruang yang memiliki ventilasi yang baik dan meneruskan kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari.

Keempat, tetap konsumsi vitamin dan suplemen sesuai saran dokter masing-masing. Kelima, disiplin menjalankan protokol kesehatan. “Kondisi tubuh yang makin prima dan kondisi kebugaran yang membaik akan membuat kesehatan secara menyeluruh meningkat dan gejala-gejala pasca Covid dapat berangsur dikendalikan,” tutur wanita kelahiran Malang, Jawa Timur ini.

Keenam, apabila berselang tiga bulan setelah sembuh, penyintas jangan lupa daftarkan diri untuk menjalani vaksinasi Covid-19. [DIR]
 

]]> Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, dr Reisa Broto Asmoro mengatakan, orang yang tertular Covid-19 berisiko mengalami sindrom post Covid alias long Covid. Dituturkannya, kondisi itu bisa dialami oleh penderita Covid-19 tanpa gejala (OTG), bergejala ringan, sedang, maupun berat.

Tapi, tidak semua penyintas akan terkena sindrom post Covid ini. Karena itu, harus dikenali kondisi pasca Covid-19 ini.

“Tidak tergantung tingkat keberatan atau kritis pada saat Covid-19 itu. Baik seseorang itu mengalami OTG, bergejala ringan, maupun sedang dan berat, semua berpotensi mengalaminya,” ujar Reisa, saat konferensi pers virtual, kemarin.

Dia menuturkan, menurut beberapa literatur penelitian, diperkirakan ada kurang lebih 200 gejala yang dikenali pada gejala long Covid-19. Gejala itu termasuk kelelahan, batuk berkepanjangan, nyeri dada dan otot, sesak napas, dan mengalami disfungsi kognitif.

Reisa menekankan, karena penyakit ini baru dan virusnya juga masih berubah-ubah, para ahli dan tenaga medis belum bisa menyimpulkan pola umum gejala kondisi pasca-Covid-19. “Mereka yang sembuh dari Covid-19 tidak bisa langsung menikmati kondisi kesehatan yang prima,” kata dokter jebolan Universitas Pelita Harapan (UPH) ini.

Bahkan, World Health Organization (WHO) menyatakan, sekitar seperempat penyintas di dunia mengalami gejala yang berlanjut selama setidaknya satu bulan. Sementara, satu di antara 10 penyintas masih belum sehat penuh setelah 12 pekan.

Reisa juga membagi resep bagi para penyintas supaya bisa menghadapi long Covid. Setidaknya ada enam hal yang bisa dilakukan para penyintas yang baru saja sembuh dari Covid-19. Enam langkah ini bertujuan memaksimalkan pemulihan kondisi tubuh dan meminimalisir gejala post Covid-19.

“Pertama, yang paling disarankan adalah harus tetap mempertahankan kondisi kesehatan badannya seperti pada saat berjuang sembuh,” ujar pemilik nama lengkap Raden Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Reisa Kartikasari Broto Asmoro ini.

Kedua, penyintas diminta tetap mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan olahraga rutin dan teratur sesuai kebutuhan dan kemampuan tubuh dan jaga kebersihan lingkungan. Ketiga, penyintas diminta sering beraktivitas di ruang yang memiliki ventilasi yang baik dan meneruskan kebiasaan berjemur di bawah sinar matahari.

Keempat, tetap konsumsi vitamin dan suplemen sesuai saran dokter masing-masing. Kelima, disiplin menjalankan protokol kesehatan. “Kondisi tubuh yang makin prima dan kondisi kebugaran yang membaik akan membuat kesehatan secara menyeluruh meningkat dan gejala-gejala pasca Covid dapat berangsur dikendalikan,” tutur wanita kelahiran Malang, Jawa Timur ini.

Keenam, apabila berselang tiga bulan setelah sembuh, penyintas jangan lupa daftarkan diri untuk menjalani vaksinasi Covid-19. [DIR]
 
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories