Hepatitis Akut Nemplok Di 15 Orang Menkes Kampanye Ayo, Cuci Tangan..!

Jumlah kasus hepatitis akut di Indonesia terus bertambah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mencatat, penyakit itu sudah nemplok di 15 anak. Penularannya melalui asupan makanan. Biar jumlahnya nggak makin banyak, BGS-sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin-kampanyekan gerakan cuci tangan.

“Tanggal 27 April, Indonesia menemukan 3 kasus di Jakarta, dan kita keluarkan edaran agar semua rumah sakit dan dinsos melakukan surveillance. Sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus,” ujarnya saat memberikan paparan hasil evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kemarin.

Menurut BGS, penularan penyakit ini melalui asupan makanan atau melalui mulut. Karena itu, dia meminta, masyarakat rajin mencuci tangan dan memastikan kebersihan dari makanan yang masuk ke mulut. Terlebih, penyakit ini menyerang anak usia di bawah 16 tahun, yang didominasi anak usia 5 tahun.

Lalu, apa ciri-ciri orang yang terkena hepatitis akut ini? Kata BGS, penderita mengalami demam dan tingginya indikator serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). “SGPT dan SGOT itu normalnya di level 30-an. Kalau sudah naik agak tinggi lebih baik refer ke fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terdekat,” pesannya.

Saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat serta Inggris, dan Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Hasilnya, belum diketahui jenis virus apa yang menyebabkan hepatitis akut ini.

Kemungkinan besar, penyakit ini disebabkan oleh Adenovirus strain 41. Namun, ada pula kasus yang bukan disebabkan oleh Adenovirus strain 41. “Jadi kita masih melakukan penelitian bersama-sama dengan Inggris dan Amerika untuk memastikan penyebabnya apa,” tukas BGS.

DPR juga ikut menyoroti soal kasus ini. Anggota Komisi IX DPR, Irma Suryani Chaniago meminta, Menkes memimpin penelitian apakah ada varian baru dari hepatitis A, B, atau C. Mengingat, penyakit yang belum diketahui asal muasalnya ini terbukti menular, dan memakan korban jiwa. Sehingga, perlu segera ditindaklanjuti lebih serius.

“Jangan tunggu menjadi wabah, baru diantisipasi. Kemenkes harus segera ambil langkah. Harus jemput bola agar penyakit ini dapat segera diatasi,” pinta politisi Partai Nasdem ini saat dihubungi, tadi malam.

 

Senada dikatakan Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani. Dia mendorong, pemerintah lebih gencar memeriksa spesimen anak-anak yang terpapar hepatitis akut ini. Pemerintah juga harus memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada masyarakat. Tujuannya, agar tidak panik, tapi tetap meningkatkan kewaspadaan.

Yang tak kalah pentingnya, Netty meminta, pemerintah mengantisipasi beredarnya hoaks mengenai penyakit ini dan menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan. “Penting menginformasikan peta penyebaran kasus, upaya pemerintah dan kesiapan sistem kesehatan dalam melakukan antisipasi lonjakan kasus agar rakyat dapat berpartisipasi aktif melakukan pencegahan,” tuturnya.

Lalu bagaimana mencegahnya? Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan, program vaksinasi untuk anak harus terus dilakukan. Menurutnya, vaksin hepatitis yang ada saat ini belum bisa dikatakan dapat melindungi dari fenomena hepatitis akut.

Menurut dia, penyakit yang menggemparkan dunia baru-baru ini berbeda dengan hepatitis sebelumnya. Antara lain berkaitan dengan Covid-19, atau infeksi. Termasuk bisa juga disebabkan karena long Covid-19 sehingga menyebabkan hepatitis. Ada juga dugaan karena Adenovirus 41. Lalu terangsang dari infeksi sebelumnya.

Karena itu, Dicky mengusulkan, adanya penelitian lebih lanjut. Dia juga mengajak, masyarakat untuk konsumsi makanan sehat, jaga kebersihan diri dan lingkungan. “Ini tidak harus pada anak ya, tapi juga pada orang dewasa,” pesannya.

Biaya Perawatan Ditanggung Pemerintah

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, sebagai fasilitas kesehatan rujukan untuk kasus infeksi hepatitis akut. Seluruh biaya penanganan rumah sakit terhadap pasien anak bergejala ichterus (penyakit kuning) dan hepatitis akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Muhadjir juga menginstruksikan agar pasien hepatitis maupun gejala kuning segera dirujuk ke fasilitas rumah sakit tipe A untuk percepatan penanganan. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa gejala kuning pada area mata maupun badan serta kondisi pasien hilang sadar merupakan gejala yang timbul saat penyakit hepatitis sudah berat. [MEN]

]]> Jumlah kasus hepatitis akut di Indonesia terus bertambah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mencatat, penyakit itu sudah nemplok di 15 anak. Penularannya melalui asupan makanan. Biar jumlahnya nggak makin banyak, BGS-sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin-kampanyekan gerakan cuci tangan.

“Tanggal 27 April, Indonesia menemukan 3 kasus di Jakarta, dan kita keluarkan edaran agar semua rumah sakit dan dinsos melakukan surveillance. Sampai sekarang di Indonesia ada 15 kasus,” ujarnya saat memberikan paparan hasil evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), kemarin.

Menurut BGS, penularan penyakit ini melalui asupan makanan atau melalui mulut. Karena itu, dia meminta, masyarakat rajin mencuci tangan dan memastikan kebersihan dari makanan yang masuk ke mulut. Terlebih, penyakit ini menyerang anak usia di bawah 16 tahun, yang didominasi anak usia 5 tahun.

Lalu, apa ciri-ciri orang yang terkena hepatitis akut ini? Kata BGS, penderita mengalami demam dan tingginya indikator serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). “SGPT dan SGOT itu normalnya di level 30-an. Kalau sudah naik agak tinggi lebih baik refer ke fasyankes (fasilitas pelayanan kesehatan) terdekat,” pesannya.

Saat ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus berkoordinasi dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat serta Inggris, dan Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Hasilnya, belum diketahui jenis virus apa yang menyebabkan hepatitis akut ini.

Kemungkinan besar, penyakit ini disebabkan oleh Adenovirus strain 41. Namun, ada pula kasus yang bukan disebabkan oleh Adenovirus strain 41. “Jadi kita masih melakukan penelitian bersama-sama dengan Inggris dan Amerika untuk memastikan penyebabnya apa,” tukas BGS.

DPR juga ikut menyoroti soal kasus ini. Anggota Komisi IX DPR, Irma Suryani Chaniago meminta, Menkes memimpin penelitian apakah ada varian baru dari hepatitis A, B, atau C. Mengingat, penyakit yang belum diketahui asal muasalnya ini terbukti menular, dan memakan korban jiwa. Sehingga, perlu segera ditindaklanjuti lebih serius.

“Jangan tunggu menjadi wabah, baru diantisipasi. Kemenkes harus segera ambil langkah. Harus jemput bola agar penyakit ini dapat segera diatasi,” pinta politisi Partai Nasdem ini saat dihubungi, tadi malam.

 

Senada dikatakan Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani. Dia mendorong, pemerintah lebih gencar memeriksa spesimen anak-anak yang terpapar hepatitis akut ini. Pemerintah juga harus memberikan informasi sejelas-jelasnya kepada masyarakat. Tujuannya, agar tidak panik, tapi tetap meningkatkan kewaspadaan.

Yang tak kalah pentingnya, Netty meminta, pemerintah mengantisipasi beredarnya hoaks mengenai penyakit ini dan menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan. “Penting menginformasikan peta penyebaran kasus, upaya pemerintah dan kesiapan sistem kesehatan dalam melakukan antisipasi lonjakan kasus agar rakyat dapat berpartisipasi aktif melakukan pencegahan,” tuturnya.

Lalu bagaimana mencegahnya? Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman mengingatkan, program vaksinasi untuk anak harus terus dilakukan. Menurutnya, vaksin hepatitis yang ada saat ini belum bisa dikatakan dapat melindungi dari fenomena hepatitis akut.

Menurut dia, penyakit yang menggemparkan dunia baru-baru ini berbeda dengan hepatitis sebelumnya. Antara lain berkaitan dengan Covid-19, atau infeksi. Termasuk bisa juga disebabkan karena long Covid-19 sehingga menyebabkan hepatitis. Ada juga dugaan karena Adenovirus 41. Lalu terangsang dari infeksi sebelumnya.

Karena itu, Dicky mengusulkan, adanya penelitian lebih lanjut. Dia juga mengajak, masyarakat untuk konsumsi makanan sehat, jaga kebersihan diri dan lingkungan. “Ini tidak harus pada anak ya, tapi juga pada orang dewasa,” pesannya.

Biaya Perawatan Ditanggung Pemerintah

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy menunjuk Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, Jakarta Utara, sebagai fasilitas kesehatan rujukan untuk kasus infeksi hepatitis akut. Seluruh biaya penanganan rumah sakit terhadap pasien anak bergejala ichterus (penyakit kuning) dan hepatitis akan ditanggung BPJS Kesehatan.

Muhadjir juga menginstruksikan agar pasien hepatitis maupun gejala kuning segera dirujuk ke fasilitas rumah sakit tipe A untuk percepatan penanganan. Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa gejala kuning pada area mata maupun badan serta kondisi pasien hilang sadar merupakan gejala yang timbul saat penyakit hepatitis sudah berat. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories