Hartanya Minus Rp 1,2 T Sejak Jadi Menparekraf Sandi: Kalau Mau Kaya, Ya Jangan Jadi Pejabat

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menanggapi penurunan harta kekayaannya yang mencapai Rp 1,2 triliun dalam dua tahun. Dari semula Rp 5 triliun pada 2018, menjadi Rp 3,8 triliun pada 2020.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan Rakyat Merdeka, Sandi menyatakan, pemurunan harta merupakan hal yang lumrah saat seseorang memutuskan diri untuk terjun ke dunia politik.

“Begitu saya memutuskan masuk politik, saya tahu (risikonya). Jika ingin hartanya bertambah, ya harus jadi pengusaha. Kalau kita jadi pengusaha, kita bisa berupaya terus berbisnis. Dan dengan investasi yang tepat, kita bisa meningkatkan harta kita,” ujarnya, dalam FGD bertema “Vaksinasi Tokcer, Pariwisata Moncer), yang dipandu Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara, Jumat (16/9).

Dituturkan Sandi, hartanya terkuras setelah mengikuti dua kontestasi politik. Yakni, Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.

“Saya terbuka, semuanya terbuka, di e-LHKPN saya laporkan bahwa untuk membiayai kontestasi tersebut saya menjual aset-aset saya. Itu bisa terpotret dalam laporan,” tutur politisi Partai Gerindra ini.

Selain itu, sebagian besar aset Sandi berupa surat berharga, seperti saham dan investasi di instrumen keuangan. Jadi, nilainya bisa naik-turun. Tergantung pengelolaan para profesional yang menjalankan usaha-usaha milik mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Sandi sendiri mengaku tak pernah menghitung aset-asetnya. “Aset itu juga bukan punya saya, punya Allah SWT, saya dititipkan untuk mengelolanya demi kebaikan, kemaslahatan bersama,” ucapnya, bijak.

Karena itu, dia tidak terlalu menyikapi penurunan harta kekayaannya. Malah, Sandi mengaku kaget ketika harta kekayaannya “diumumkan” sejumlah media.

“Saya melihat, ternyata diperhatikan juga,” kata putra tokoh pendidikan dan pakar di bidang etiket, Mien Uno, sambil tersenyum.

Sandi pun berpesan kepada siapapun yang ingin terjun ke kancah politik atau pejabat publik, untuk bersiap-siap mengabdi kepada masyarakat. “Bukan fokus pada peningkatan kepemilikan atau harta kita,” tutupnya. [OKT]

]]> Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno menanggapi penurunan harta kekayaannya yang mencapai Rp 1,2 triliun dalam dua tahun. Dari semula Rp 5 triliun pada 2018, menjadi Rp 3,8 triliun pada 2020.

Dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan Rakyat Merdeka, Sandi menyatakan, pemurunan harta merupakan hal yang lumrah saat seseorang memutuskan diri untuk terjun ke dunia politik.

“Begitu saya memutuskan masuk politik, saya tahu (risikonya). Jika ingin hartanya bertambah, ya harus jadi pengusaha. Kalau kita jadi pengusaha, kita bisa berupaya terus berbisnis. Dan dengan investasi yang tepat, kita bisa meningkatkan harta kita,” ujarnya, dalam FGD bertema “Vaksinasi Tokcer, Pariwisata Moncer), yang dipandu Direktur Rakyat Merdeka, Kiki Iswara, Jumat (16/9).

Dituturkan Sandi, hartanya terkuras setelah mengikuti dua kontestasi politik. Yakni, Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.

“Saya terbuka, semuanya terbuka, di e-LHKPN saya laporkan bahwa untuk membiayai kontestasi tersebut saya menjual aset-aset saya. Itu bisa terpotret dalam laporan,” tutur politisi Partai Gerindra ini.

Selain itu, sebagian besar aset Sandi berupa surat berharga, seperti saham dan investasi di instrumen keuangan. Jadi, nilainya bisa naik-turun. Tergantung pengelolaan para profesional yang menjalankan usaha-usaha milik mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Sandi sendiri mengaku tak pernah menghitung aset-asetnya. “Aset itu juga bukan punya saya, punya Allah SWT, saya dititipkan untuk mengelolanya demi kebaikan, kemaslahatan bersama,” ucapnya, bijak.

Karena itu, dia tidak terlalu menyikapi penurunan harta kekayaannya. Malah, Sandi mengaku kaget ketika harta kekayaannya “diumumkan” sejumlah media.

“Saya melihat, ternyata diperhatikan juga,” kata putra tokoh pendidikan dan pakar di bidang etiket, Mien Uno, sambil tersenyum.

Sandi pun berpesan kepada siapapun yang ingin terjun ke kancah politik atau pejabat publik, untuk bersiap-siap mengabdi kepada masyarakat. “Bukan fokus pada peningkatan kepemilikan atau harta kita,” tutupnya. [OKT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories