Hari Ini Sidang Isbat Puasa 2 April Atau 3 April, Yang Penting Saling Rukun

Hari ini, Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat untuk menentukan 1 Ramadan 1443 H. Hasil sidang ini berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah yang sudah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 2 April 2022. Namun, apa pun hasil Sidang Isbat nanti, puasa 2 April atau 3 April, yang penting masyarakat tetap rukun.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Adib, tidak menutup adanya peluang perbedaan dalam penentuan awal puasa.

“Jika pun ada beda awal Ramadan, sudah semestinya kita mengedepankan sikap saling menghormati. Agar tidak mengurangi kekhusyu’an dalam menjalani ibadah puasa,” pesan Adib, di Jakarta, kemarin.

Meski begitu, dia tidak mau mendahului hasil Sidang Isbat, apakah akan ditetapkan pada 2 April atau 3 April. “Kita tunggu hasil Sidang Isbat,” ucapnya.

Adanya potensi perbedaan penentuan 1 Ramadan pertama kali dikemukakan Profesor Riset bidang Astronomi dan Astrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin. Dia menjelaskan, dalam hitungan astronomi, pada sore hari sebelum mata hari terbenam di 1 April, ketinggian hilal hanya sedikit di atas 2 derajat. Dengan kondisi ini, hilal sangat sulit untuk diamati. Sebab, hilal baru bisa nampak jika ketinggiannya di atas 3 derajat. Jika hilal tidak bisa teramati, maka 2 April belum masuk Ramadan.

Kasubdit Hisab, Rukyat, dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi menjelaskan lebih rinci. Kata dia, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia pada sore nanti memang sudah di atas ufuk. Berkisar antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit.

 

Di Muhammadiyah, yang berpedoman pada hisab hakiki kriteria wujudul hilal, berapa pun ketinggiannya, asal hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, berarti sudah masuk tanggal 1 bulan baru.

Sedangkan di Kementerian Agama, kata Fahmi, sebagaimana fatwa MUI, menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode hisab dan rukyat. Hasil perhitungan astronomi atau hisab, dijadikan sebagai informasi awal yang kemudian dikonfirmasi melalui metode rukyat (pemantauan di lapangan).

“Apalagi, kriteria baru yang disepakati MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), awal bulan masuk jika posisi hilal saat matahari terbenam sudah 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dalam konteks inilah ada potensi perbedaan awal Ramadan,” terang Ismail.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin ikut angkat bicara mengenai hal ini. Kiai Ma’ruf tetap berharap, awal Ramadan 1443 Hijriah tahun ini antara pemerintah dan Muhammadiyah berlangsung bersamaan.

Kiai Ma’ruf mengakui, pendekatan yang digunakan Muhammadiyah dan Pemerintah dalam menentukan awal Ramadan berbeda. Muhammadiyah lebih menggunakan metode wujudul hilal. Sementara Pemerintah menggunakan metode rukyat.

Ia menilai, awal Ramadan yang ditetapkan Pemerintah dan Muhammadiyah bisa jatuh di hari yang sama apabila ketinggian hilal pada 1 April lebih dari 2 derajat. “Mudah-mudahan sama,” kata dia.

Bila awal Ramadan tak sama, mantan Ketum MUI berharap tak ada yang mempersoalkan. Perbedaan itu harus saling dipahami satu sama lain. “Kalaupun tidak sama, itu sudah ada pemahaman bersama, artinya ada toleransi,” pungkasnya. [MEN]

]]> Hari ini, Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Sidang Isbat untuk menentukan 1 Ramadan 1443 H. Hasil sidang ini berpotensi berbeda dengan Muhammadiyah yang sudah menetapkan 1 Ramadan jatuh pada 2 April 2022. Namun, apa pun hasil Sidang Isbat nanti, puasa 2 April atau 3 April, yang penting masyarakat tetap rukun.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Adib, tidak menutup adanya peluang perbedaan dalam penentuan awal puasa.

“Jika pun ada beda awal Ramadan, sudah semestinya kita mengedepankan sikap saling menghormati. Agar tidak mengurangi kekhusyu’an dalam menjalani ibadah puasa,” pesan Adib, di Jakarta, kemarin.

Meski begitu, dia tidak mau mendahului hasil Sidang Isbat, apakah akan ditetapkan pada 2 April atau 3 April. “Kita tunggu hasil Sidang Isbat,” ucapnya.

Adanya potensi perbedaan penentuan 1 Ramadan pertama kali dikemukakan Profesor Riset bidang Astronomi dan Astrofisika, Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin. Dia menjelaskan, dalam hitungan astronomi, pada sore hari sebelum mata hari terbenam di 1 April, ketinggian hilal hanya sedikit di atas 2 derajat. Dengan kondisi ini, hilal sangat sulit untuk diamati. Sebab, hilal baru bisa nampak jika ketinggiannya di atas 3 derajat. Jika hilal tidak bisa teramati, maka 2 April belum masuk Ramadan.

Kasubdit Hisab, Rukyat, dan Syariah Kemenag, Ismail Fahmi menjelaskan lebih rinci. Kata dia, ketinggian hilal di seluruh wilayah Indonesia pada sore nanti memang sudah di atas ufuk. Berkisar antara 1 derajat 6,78 menit sampai dengan 2 derajat 10,02 menit.

 

Di Muhammadiyah, yang berpedoman pada hisab hakiki kriteria wujudul hilal, berapa pun ketinggiannya, asal hilal sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam, berarti sudah masuk tanggal 1 bulan baru.

Sedangkan di Kementerian Agama, kata Fahmi, sebagaimana fatwa MUI, menetapkan awal Ramadan berdasarkan metode hisab dan rukyat. Hasil perhitungan astronomi atau hisab, dijadikan sebagai informasi awal yang kemudian dikonfirmasi melalui metode rukyat (pemantauan di lapangan).

“Apalagi, kriteria baru yang disepakati MABIMS (Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), awal bulan masuk jika posisi hilal saat matahari terbenam sudah 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Dalam konteks inilah ada potensi perbedaan awal Ramadan,” terang Ismail.

Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin ikut angkat bicara mengenai hal ini. Kiai Ma’ruf tetap berharap, awal Ramadan 1443 Hijriah tahun ini antara pemerintah dan Muhammadiyah berlangsung bersamaan.

Kiai Ma’ruf mengakui, pendekatan yang digunakan Muhammadiyah dan Pemerintah dalam menentukan awal Ramadan berbeda. Muhammadiyah lebih menggunakan metode wujudul hilal. Sementara Pemerintah menggunakan metode rukyat.

Ia menilai, awal Ramadan yang ditetapkan Pemerintah dan Muhammadiyah bisa jatuh di hari yang sama apabila ketinggian hilal pada 1 April lebih dari 2 derajat. “Mudah-mudahan sama,” kata dia.

Bila awal Ramadan tak sama, mantan Ketum MUI berharap tak ada yang mempersoalkan. Perbedaan itu harus saling dipahami satu sama lain. “Kalaupun tidak sama, itu sudah ada pemahaman bersama, artinya ada toleransi,” pungkasnya. [MEN]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories