Hadiri Selametan Sewindu UU Desa, Gus Halim Kucurkan Bantuan Rp 500 Juta Buat Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT? Abdul Halim Iskandar bersama Nyai Lilik Umi Nashriyah menghadiri Tasyakuran yang digelar Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jumat (14/1) malam.

Turut hadir dalam Tasyakuran itu, Ketua Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Sekjen Kemendes PDTT Taufik Madjid, dan sejumlah tokoh masyarakat Ciptagelar.

Dalam kesempatan itu, Halim Iskandar secara simbolis menyerahkan bantuan berupa alat musik gamelan dan bantuan pengembangan desa wisata sebesar Rp 500 juta kepada Abah Ugi.

Halim Iskandar bersyukur bisa menghadiri tasyakuran atau selamatan desa yang digelar Kasepuhan Ciptagelar. “Saya bersyukur karena inilah yang harus dilestarikan di Indonesia dan ini selalu yang saya katakan jika pembangunan desa harus bertumpu pada akar budaya,” kata Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Pria yang akrab disapa Gus Halim ini mengaku telah menyampaikan ke Abah Ugi, bukan pekerjaan ringan untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

“Itulah makanya Sewindu Undang-undang Desa dilaksanakan di Kasepuhan Ciptagelar, untuk memberikan dukungan sekaligus inspirasi bagi tokoh adat untuk mempertahankan bahkan mengembangkan nilai-nilai luhur warisan para leluhur kita,” terangnya.

Hal itu, kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini, merupakan khazanah budaya Indonesia. Sesuai dengan semboyan bangsa ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Politisi PKB ini juga mengatakan, Kasepuhan Ciptagelar cukup sukses melaksanakan Ketahanan Pangan yang selama ini selalu menjadi concern Kemendes PDTT.

Bahkan, ketersediaan pangan di Ciptagelar ini mencukupi hingga lima tahun ke depan. “Itu merupakan warisan leluhur yang bisa dipertahankan Kasepuhan Ciptagelar,” pujinya. 

Gus Halim pun mengajak setiap daerah untuk mempertahankan dan mengembangkan nilai luhur agar bisa menyatu dengan alam. Adat, hakekatnya menyatu dengan alam.

Dia juga mengaku mengagumi pertanian di CiptaGelar yang semuanya ditanam secara organik. Tidak menggunakan pestisida dan hanya sedikit pemakaian pupuk, yang dilakukan seminggu setelah musim tanam.

 

Sementara itu, Abah Ugi berharap, digelarnya Peringatan Sewindu UU Desa di Kasepuhan Ciptagelar bisa memberikan contoh kepada Kampung Adat lainnya untuk tetap semangat mempertahankan nilai budaya di Indonesia. “Mudah-mudahan UU Desa ke depan lebih maju,” harap Abah Ugi.

Seusai Selametan, Gus Halim bersama Abah Ugi kemudian menikmati hiburan bersama masyarakat Ciptagelar. Salah satunya, pagelaran wayang golek.

Gus Halim diangkat sebagai Warga Kehormatan Kasepuhan Ciptagelar yang diberikan oleh Abah Ugi. Ia bahkan menyerahkan wayang kepada dalang, sebagai bukti dimulainya pertunjukkan wayang golek yang disambut antusias warga Ciptagelar yang hadir.

Sebelumnya, saat tiba, Gus Halim sudah disambut dengan prosesi adat berupa pemasangan ikat kepala sebagai syarat untuk memasuki Imah Gede Kasepuhan Ciptagelar yang selanjutnya diterima Abah Ugi untuk dilakukan izin adat. [DIR]

]]> Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT? Abdul Halim Iskandar bersama Nyai Lilik Umi Nashriyah menghadiri Tasyakuran yang digelar Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jumat (14/1) malam.

Turut hadir dalam Tasyakuran itu, Ketua Kasepuhan Ciptagelar Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Sekjen Kemendes PDTT Taufik Madjid, dan sejumlah tokoh masyarakat Ciptagelar.

Dalam kesempatan itu, Halim Iskandar secara simbolis menyerahkan bantuan berupa alat musik gamelan dan bantuan pengembangan desa wisata sebesar Rp 500 juta kepada Abah Ugi.

Halim Iskandar bersyukur bisa menghadiri tasyakuran atau selamatan desa yang digelar Kasepuhan Ciptagelar. “Saya bersyukur karena inilah yang harus dilestarikan di Indonesia dan ini selalu yang saya katakan jika pembangunan desa harus bertumpu pada akar budaya,” kata Doktor Honoris Causa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.

Pria yang akrab disapa Gus Halim ini mengaku telah menyampaikan ke Abah Ugi, bukan pekerjaan ringan untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur yang diwariskan.

“Itulah makanya Sewindu Undang-undang Desa dilaksanakan di Kasepuhan Ciptagelar, untuk memberikan dukungan sekaligus inspirasi bagi tokoh adat untuk mempertahankan bahkan mengembangkan nilai-nilai luhur warisan para leluhur kita,” terangnya.

Hal itu, kata Mantan Ketua DPRD Jawa Timur ini, merupakan khazanah budaya Indonesia. Sesuai dengan semboyan bangsa ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika.

Politisi PKB ini juga mengatakan, Kasepuhan Ciptagelar cukup sukses melaksanakan Ketahanan Pangan yang selama ini selalu menjadi concern Kemendes PDTT.

Bahkan, ketersediaan pangan di Ciptagelar ini mencukupi hingga lima tahun ke depan. “Itu merupakan warisan leluhur yang bisa dipertahankan Kasepuhan Ciptagelar,” pujinya. 

Gus Halim pun mengajak setiap daerah untuk mempertahankan dan mengembangkan nilai luhur agar bisa menyatu dengan alam. Adat, hakekatnya menyatu dengan alam.

Dia juga mengaku mengagumi pertanian di CiptaGelar yang semuanya ditanam secara organik. Tidak menggunakan pestisida dan hanya sedikit pemakaian pupuk, yang dilakukan seminggu setelah musim tanam.

 

Sementara itu, Abah Ugi berharap, digelarnya Peringatan Sewindu UU Desa di Kasepuhan Ciptagelar bisa memberikan contoh kepada Kampung Adat lainnya untuk tetap semangat mempertahankan nilai budaya di Indonesia. “Mudah-mudahan UU Desa ke depan lebih maju,” harap Abah Ugi.

Seusai Selametan, Gus Halim bersama Abah Ugi kemudian menikmati hiburan bersama masyarakat Ciptagelar. Salah satunya, pagelaran wayang golek.

Gus Halim diangkat sebagai Warga Kehormatan Kasepuhan Ciptagelar yang diberikan oleh Abah Ugi. Ia bahkan menyerahkan wayang kepada dalang, sebagai bukti dimulainya pertunjukkan wayang golek yang disambut antusias warga Ciptagelar yang hadir.

Sebelumnya, saat tiba, Gus Halim sudah disambut dengan prosesi adat berupa pemasangan ikat kepala sebagai syarat untuk memasuki Imah Gede Kasepuhan Ciptagelar yang selanjutnya diterima Abah Ugi untuk dilakukan izin adat. [DIR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories

Generated by Feedzy