Hadiri Penutupan Rakornas BNPB 2022 Muhadjir Ingatkan 5 Arahan Presiden Jokowi .

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menghadiri penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis (24/2).

Ia mengingatkan Kepala BNPB Suharyanto beserta jajaran mengenai arahan Presiden Jokowi dalam upaya peningkatan penanganan tanggap darurat bencana di Indonesia. Arahan tersebut sebagiamana disampaikan Presiden saat membuka Rakornas BNPB 2022, Selasa (22/2).

“Saya hanya ingin ingatkan 5 arahan Presiden Jokowi saat pembukaan Rakornas. Kalau nanti itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh di lapangan pasti akan berjalan dengan sangat baik,” tegas Muhadjir dalam keterangannya, Kamis (24/2).

Lima arahan Presiden terkait peningkatan penanganan tanggap darurat bencana yaitu, pertama, memantapkan budaya kerja (corporate culture) BNPB yang harus selalu siaga, antisipatif, responsif, dan adaptif.

“Yang tidak kalah penting menurut saya, jangan sekali-kali mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan bidang kebencanaan dan perkembangan teknologi yang digunakan untuk penanganan kebencanaan,” cetus Muhadjir.

Lebih lanjut, arahan kedua dari Presiden Jokowi, bahwa seluruh jajaran BNPB harus membangun kolaborasi yang mengedepankan pada upaya pencegahan. Pasalnya, apabila pencegahan dapat ditangani dengan baik maka penanganan saat bencana tidak akan menguras banyak energi.

 

Arahan ketiga, Presiden Jokowi berpesan di dalam membangun infrastruktur untuk pengurangan risiko bencana agar dapat melibatkan masyarakat.

Hal itu penting karena masyarakat setempat dianggap telah memiliki sejarah panjang dalam menangani berbagai bencana yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kita harus paham bahwa merekalah yang memang mempunyai kesadaran ingatan tentang bagaimana cara terbaik menangani bencana di masa lalu. Itulah yang saya tangkap kenapa Bapak Presiden menekankan kalau kita membangun infrastruktur risiko kebencanaan supaya melibatkan masyarakat sekitar,” tutur Muhadjir.

Keempat yang tidak kalah penting adalah BNPB sejatinya tidak bisa bekerja sendiri tanpa melibatkan seluruh kekuatan terutama kekuatan aparatur pemerintah. Karenanya, Presiden mewanti-wanti agar BNPB mampu meyakinkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Terakhir atau yang kelima, Presiden mewanti-wanti BNPB dan seluruh jajaran agar segera membangun sistem edukasi kebencanaan.

Optimalisasi terhadap sistem edukasi kebencanaan itu tidak mesti dilakukan dengan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan, melainkan yang terpenting adalah menanamkan sikap dan pembentukan karakter peserta didik yang sadar terhadap tanggung jawab penanggulangan risiko bencana.

“Saya kira justru yang selama ini belum terpetakan dengan detail adalah spesifikasi atau karakter bencana di masing-masing tempat. Yang harus diberikan pemahaman kepada peserta didik adalah bagaimana menangani bencana yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik di daerahnya,” ujar Muhadjir.

Pada kesempatan itu juga, Muhadjir bersama Kepala BNPB menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kolaborasi Penanggulangan Bencana Dalam Rangka Penguatan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. MoU tersebut sekaligus sebagai bentuk komitmen terhadap penanggulangan bencana. [DIR]

]]> .
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menghadiri penutupan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis (24/2).

Ia mengingatkan Kepala BNPB Suharyanto beserta jajaran mengenai arahan Presiden Jokowi dalam upaya peningkatan penanganan tanggap darurat bencana di Indonesia. Arahan tersebut sebagiamana disampaikan Presiden saat membuka Rakornas BNPB 2022, Selasa (22/2).

“Saya hanya ingin ingatkan 5 arahan Presiden Jokowi saat pembukaan Rakornas. Kalau nanti itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh di lapangan pasti akan berjalan dengan sangat baik,” tegas Muhadjir dalam keterangannya, Kamis (24/2).

Lima arahan Presiden terkait peningkatan penanganan tanggap darurat bencana yaitu, pertama, memantapkan budaya kerja (corporate culture) BNPB yang harus selalu siaga, antisipatif, responsif, dan adaptif.

“Yang tidak kalah penting menurut saya, jangan sekali-kali mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan bidang kebencanaan dan perkembangan teknologi yang digunakan untuk penanganan kebencanaan,” cetus Muhadjir.

Lebih lanjut, arahan kedua dari Presiden Jokowi, bahwa seluruh jajaran BNPB harus membangun kolaborasi yang mengedepankan pada upaya pencegahan. Pasalnya, apabila pencegahan dapat ditangani dengan baik maka penanganan saat bencana tidak akan menguras banyak energi.

 

Arahan ketiga, Presiden Jokowi berpesan di dalam membangun infrastruktur untuk pengurangan risiko bencana agar dapat melibatkan masyarakat.

Hal itu penting karena masyarakat setempat dianggap telah memiliki sejarah panjang dalam menangani berbagai bencana yang pernah terjadi sebelumnya.

“Kita harus paham bahwa merekalah yang memang mempunyai kesadaran ingatan tentang bagaimana cara terbaik menangani bencana di masa lalu. Itulah yang saya tangkap kenapa Bapak Presiden menekankan kalau kita membangun infrastruktur risiko kebencanaan supaya melibatkan masyarakat sekitar,” tutur Muhadjir.

Keempat yang tidak kalah penting adalah BNPB sejatinya tidak bisa bekerja sendiri tanpa melibatkan seluruh kekuatan terutama kekuatan aparatur pemerintah. Karenanya, Presiden mewanti-wanti agar BNPB mampu meyakinkan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama.

Terakhir atau yang kelima, Presiden mewanti-wanti BNPB dan seluruh jajaran agar segera membangun sistem edukasi kebencanaan.

Optimalisasi terhadap sistem edukasi kebencanaan itu tidak mesti dilakukan dengan memasukkannya ke dalam kurikulum pendidikan, melainkan yang terpenting adalah menanamkan sikap dan pembentukan karakter peserta didik yang sadar terhadap tanggung jawab penanggulangan risiko bencana.

“Saya kira justru yang selama ini belum terpetakan dengan detail adalah spesifikasi atau karakter bencana di masing-masing tempat. Yang harus diberikan pemahaman kepada peserta didik adalah bagaimana menangani bencana yang lebih spesifik sesuai dengan karakteristik di daerahnya,” ujar Muhadjir.

Pada kesempatan itu juga, Muhadjir bersama Kepala BNPB menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang Kolaborasi Penanggulangan Bencana Dalam Rangka Penguatan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. MoU tersebut sekaligus sebagai bentuk komitmen terhadap penanggulangan bencana. [DIR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories