Hadiri Forum HAM Di Jenewa, Roro Bicara Peran Kaum Muda Dalam Pembangunan Bangsa

Anggota Komisi VII DPR Dyah Roro Esti menghadiri Pertemuan PBB Sesi Keempat Forum HAM, Demokrasi, dan Supremasi Hukum bertajuk ‘Strengthening Democracies to Build Back Better: Challenges and Opportunities‘, di Jenewa, Swiss, Kamis (24/11). Di forum ini, Roro paparkan peran kaum muda dan perempuan dalam pembangunan bangsa.

Di awal pemaparannya, Roro melaporkan kesuksesan Indonesia sebagai Predensi G20. Di G20, Indonesia sebagai tuan rumah mengusung tiga isu prioritas yakni penguatan sistem kesehatan global, energi berkelanjutan, serta transformasi digital.

Roro berpandangan, keberhasilan pelaksanaan komitmen tersebut perlu dilandasi melalui kebijakan-kebijakan turunan nasional yang dibutuhkan, serta fungsi pengawasan yang optimal, terkhusus dari parlemen. Dalam kapasitasnya sebagai anggota komisi bidang bidang energi, industri, riset, dan inovasi, sekaligus sekretaris dari Kaukus Ekonomi Hijau DPR, Roro menjelaskan, komitmen Indonesia dalam berbagai isu perubahan iklim, telah ditranslasikan menjadi beberapa regulasi dan target nasional. Di antaranya skema net zero emission dan pengurangan emisi karbon.

Dia menerangkan, Indonesia telah memiliki target pengurangan emisi menjadi 31,89 persen di 2030, dan 43,20 persen dengan dukungan internasional. “Khusus di sektor energi, Indonesia juga memiliki target untuk mencapai bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di tahun 2025,” terang Roro, seperti keterangan yang diterima RM.id, Selasa (29/11).

Roro menegaskan pentingnya memaksimalkan peran dan fungsi pengawasan DPR untuk dapat mencapai target-target tersebut. Dia menjelaskan, representasi di parlemen, baik dari segi representasi usia maupun gender, dapat memengaruhi kualitas fungsi pengawasan DPR terhadap kinerja pemerintah.

Baginya, representasi pemuda dan perempuan sangatlah penting. Sebab, pada umumnya, para pemuda cenderung lebih aktif dan vokal terkait isu-isu penting, seperti isu perubahan iklim, HAM, kesetaraan gender, dan isu lainnya. “Selain itu, representasi perempuan juga sangat penting, khususnya dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang relatif jangka panjang,” ujar politisi muda Partai Golkar ini.

Roro lalu menyampaikan keterlibatan perempuan dan pemuda dalam institusi publik seperti di pemerintahan dan parlemen. Berdasarkan data dari InterParliamentary Union (IPU), representasi anggota parlemen muda yang berumur kurang dari 30 tahun, hanya berada pada angka 2,6 persen dalam skala global. Di Indonesia, representasi pemuda dalam parlemen Indonesia masih belum terwakilkan dengan baik. Saat ini, hanya 16 persen dari total anggota parlemen di Indonesia yang berada pada katerori umur di bawah 40 tahun. “Padahal, Indonesia saat ini sedang memasuki masa bonus demografi,” sambungnya.

Roro menambahkan, keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia baru mencapai sekitar 21,39 persen persen. Sedangkan di Pemerintahan, menteri perempuan ada 6 dari total 34. Dia berharap, ke depannya akan lebih banyak lagi representasi perempuan dan kaum muda mewarnai dunia politik agar sistem pengawasan dapat dijalankan dengan lebih optimal.■

]]> Anggota Komisi VII DPR Dyah Roro Esti menghadiri Pertemuan PBB Sesi Keempat Forum HAM, Demokrasi, dan Supremasi Hukum bertajuk ‘Strengthening Democracies to Build Back Better: Challenges and Opportunities’, di Jenewa, Swiss, Kamis (24/11). Di forum ini, Roro paparkan peran kaum muda dan perempuan dalam pembangunan bangsa.

Di awal pemaparannya, Roro melaporkan kesuksesan Indonesia sebagai Predensi G20. Di G20, Indonesia sebagai tuan rumah mengusung tiga isu prioritas yakni penguatan sistem kesehatan global, energi berkelanjutan, serta transformasi digital.

Roro berpandangan, keberhasilan pelaksanaan komitmen tersebut perlu dilandasi melalui kebijakan-kebijakan turunan nasional yang dibutuhkan, serta fungsi pengawasan yang optimal, terkhusus dari parlemen. Dalam kapasitasnya sebagai anggota komisi bidang bidang energi, industri, riset, dan inovasi, sekaligus sekretaris dari Kaukus Ekonomi Hijau DPR, Roro menjelaskan, komitmen Indonesia dalam berbagai isu perubahan iklim, telah ditranslasikan menjadi beberapa regulasi dan target nasional. Di antaranya skema net zero emission dan pengurangan emisi karbon.

Dia menerangkan, Indonesia telah memiliki target pengurangan emisi menjadi 31,89 persen di 2030, dan 43,20 persen dengan dukungan internasional. “Khusus di sektor energi, Indonesia juga memiliki target untuk mencapai bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23 persen di tahun 2025,” terang Roro, seperti keterangan yang diterima RM.id, Selasa (29/11).

Roro menegaskan pentingnya memaksimalkan peran dan fungsi pengawasan DPR untuk dapat mencapai target-target tersebut. Dia menjelaskan, representasi di parlemen, baik dari segi representasi usia maupun gender, dapat memengaruhi kualitas fungsi pengawasan DPR terhadap kinerja pemerintah.

Baginya, representasi pemuda dan perempuan sangatlah penting. Sebab, pada umumnya, para pemuda cenderung lebih aktif dan vokal terkait isu-isu penting, seperti isu perubahan iklim, HAM, kesetaraan gender, dan isu lainnya. “Selain itu, representasi perempuan juga sangat penting, khususnya dalam menentukan kebijakan-kebijakan yang relatif jangka panjang,” ujar politisi muda Partai Golkar ini.

Roro lalu menyampaikan keterlibatan perempuan dan pemuda dalam institusi publik seperti di pemerintahan dan parlemen. Berdasarkan data dari Inter-Parliamentary Union (IPU), representasi anggota parlemen muda yang berumur kurang dari 30 tahun, hanya berada pada angka 2,6 persen dalam skala global. Di Indonesia, representasi pemuda dalam parlemen Indonesia masih belum terwakilkan dengan baik. Saat ini, hanya 16 persen dari total anggota parlemen di Indonesia yang berada pada katerori umur di bawah 40 tahun. “Padahal, Indonesia saat ini sedang memasuki masa bonus demografi,” sambungnya.

Roro menambahkan, keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia baru mencapai sekitar 21,39 persen persen. Sedangkan di Pemerintahan, menteri perempuan ada 6 dari total 34. Dia berharap, ke depannya akan lebih banyak lagi representasi perempuan dan kaum muda mewarnai dunia politik agar sistem pengawasan dapat dijalankan dengan lebih optimal.■
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories

Generated by Feedzy