Hadapi Bulan Puasa Dan Lebaran LPDB Pede Pembiayaan Syariah Kian Moncer

Direktur Pembiayaan Syariah Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB -KUMKM), Ari Permana optimistis tahun ini menjadi momentum yang baik bagi gerakan koperasi syariah. Khususnya dalam melebarkan sayap bisnisnya. Pasalnya, ekosistem keuangan dan ekonomi syariah yang digencarkan pemerintah sudah mulai berjalan dengan baik. 

Hal itu dibuktikan dengan berdirinya bank hasil merger anak usaha BUMN, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Kemudian terbantuknya sebuah organisasi besar berbasis syariah, yaitu Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Dua hal ini menjadikan ruang gerak koperasi syariah semakin jelas marketnya. 

Apalagi LPDB juga akan terus aktif dalam perkembangan koperasi syariah melalui penyediaan dana bergulir khusus untuk koperasi syariah dan BMT (Baitul Maal Wa Tamwil). “Di saat pandemi saat ini, justru pembiayaan syariah jadi alternatif permodalan, termasuk kami di LPDB lewat pola pembiayaan syariah,” katanya, Jumat (19/3).

Dijelaskannya, bahwa LPDB-KUMKM tahun ini menargetkan bisa menyalurkan dana bergulir dengan skema syariah sebesar Rp 900 miliar. Dia optimis target ini bisa tercapai karena saat ini “incoming call” atau proposal yang masuk sudah mulai mengalir deras. 

Menurutnya, pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi mulai menambah modal kerjanya untuk menghadapi momentum bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sehingga potensi permintaan pembiayaan syariah kepada LPDB-KUKKM juga akan meningkat. 

“Di triwulan I-2021, kami berusaha dapat mencapai target (pembiayaan syariah) sebesar Rp 300 miliar, lalu triwulan II sekitar Rp 600 miliar. Apalagi dengan momentum yang pas saat hari raya, biasanya sangat tinggi permintaan untuk penambahan modal kerja,” ucapnya.

Dia melanjutkan, bahwa tren permintaan pembiayaan syariah di LPDB-KUMKM terus mengalami perbaikan. Diyakini ke depan, permintaan pembiayaan syariah akan semakin meningkat. 

Terkait dengan realisasi pembiayaan dengan pola syariah di tahun 2020 lalu, Ari menyebutkan jumlahnya mencapai Rp 854,65 miliar atau setara 102 persen dari target yang ditetapkan di awal sebesar Rp 832,5 miliar. Jika dilihat dari klasifikasi mitra berdasarkan jenisnya, sebanyak 3 persen dari total dana bergulir merupakan lembaga keuangan non bank. Kemudian 76 persen adalah koperasi primer simpan pinjam, 1 persen koperasi primer sektor riil dan 21 persen lembaga keuangan bank. 

“Realisasi pembiayaan syariah oleh LPDB-KUMKM tahun lalu adalah yang tertinggi sepanjang sejarah sejak LPDB-KUMKM berdiri. Koperasi syariah itu unik, sebab mereka terkomunitas, sehingga mengenal satu sama lain. Ini suatu hal nilai plus dalam hal analisa, kami cukup mengecek melalui komunitasnya,” papar Ari. 

Ia berharap, agar koperasi-koperasi syariah atau BMT yang selama ini sudah menjadi mitranya tidak hanya berkutat pada bisnisnya semata, yaitu mengucurkan pembiayaan bagi anggotanya. Namun mereka didorong juga bisa menjalankan fungsi sosial dan pemberdayaan bagi UMKM agar bisa naik kelas. Dengan begitu, diharapkan koperasi syariah bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. 

“Konsentrasi kami adalah bagaimana teman-teman di gerakan koperasi syariah ini tidak hanya sekedar menjalankan simpan dan pinjam saja, namun memiliki value atau nilai yang lebih lagi agar dapat memberdayakan UMKM sehingga bisa naik kelas,” pungkasnya. [DWI]

]]> Direktur Pembiayaan Syariah Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB -KUMKM), Ari Permana optimistis tahun ini menjadi momentum yang baik bagi gerakan koperasi syariah. Khususnya dalam melebarkan sayap bisnisnya. Pasalnya, ekosistem keuangan dan ekonomi syariah yang digencarkan pemerintah sudah mulai berjalan dengan baik. 

Hal itu dibuktikan dengan berdirinya bank hasil merger anak usaha BUMN, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI). Kemudian terbantuknya sebuah organisasi besar berbasis syariah, yaitu Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Dua hal ini menjadikan ruang gerak koperasi syariah semakin jelas marketnya. 

Apalagi LPDB juga akan terus aktif dalam perkembangan koperasi syariah melalui penyediaan dana bergulir khusus untuk koperasi syariah dan BMT (Baitul Maal Wa Tamwil). “Di saat pandemi saat ini, justru pembiayaan syariah jadi alternatif permodalan, termasuk kami di LPDB lewat pola pembiayaan syariah,” katanya, Jumat (19/3).

Dijelaskannya, bahwa LPDB-KUMKM tahun ini menargetkan bisa menyalurkan dana bergulir dengan skema syariah sebesar Rp 900 miliar. Dia optimis target ini bisa tercapai karena saat ini “incoming call” atau proposal yang masuk sudah mulai mengalir deras. 

Menurutnya, pelaku UMKM yang menjadi anggota koperasi mulai menambah modal kerjanya untuk menghadapi momentum bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Sehingga potensi permintaan pembiayaan syariah kepada LPDB-KUKKM juga akan meningkat. 

“Di triwulan I-2021, kami berusaha dapat mencapai target (pembiayaan syariah) sebesar Rp 300 miliar, lalu triwulan II sekitar Rp 600 miliar. Apalagi dengan momentum yang pas saat hari raya, biasanya sangat tinggi permintaan untuk penambahan modal kerja,” ucapnya.

Dia melanjutkan, bahwa tren permintaan pembiayaan syariah di LPDB-KUMKM terus mengalami perbaikan. Diyakini ke depan, permintaan pembiayaan syariah akan semakin meningkat. 

Terkait dengan realisasi pembiayaan dengan pola syariah di tahun 2020 lalu, Ari menyebutkan jumlahnya mencapai Rp 854,65 miliar atau setara 102 persen dari target yang ditetapkan di awal sebesar Rp 832,5 miliar. Jika dilihat dari klasifikasi mitra berdasarkan jenisnya, sebanyak 3 persen dari total dana bergulir merupakan lembaga keuangan non bank. Kemudian 76 persen adalah koperasi primer simpan pinjam, 1 persen koperasi primer sektor riil dan 21 persen lembaga keuangan bank. 

“Realisasi pembiayaan syariah oleh LPDB-KUMKM tahun lalu adalah yang tertinggi sepanjang sejarah sejak LPDB-KUMKM berdiri. Koperasi syariah itu unik, sebab mereka terkomunitas, sehingga mengenal satu sama lain. Ini suatu hal nilai plus dalam hal analisa, kami cukup mengecek melalui komunitasnya,” papar Ari. 

Ia berharap, agar koperasi-koperasi syariah atau BMT yang selama ini sudah menjadi mitranya tidak hanya berkutat pada bisnisnya semata, yaitu mengucurkan pembiayaan bagi anggotanya. Namun mereka didorong juga bisa menjalankan fungsi sosial dan pemberdayaan bagi UMKM agar bisa naik kelas. Dengan begitu, diharapkan koperasi syariah bisa memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. 

“Konsentrasi kami adalah bagaimana teman-teman di gerakan koperasi syariah ini tidak hanya sekedar menjalankan simpan dan pinjam saja, namun memiliki value atau nilai yang lebih lagi agar dapat memberdayakan UMKM sehingga bisa naik kelas,” pungkasnya. [DWI]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories