Gus Yaqut: Jadi Ketum GP Ansor Nggak Bisa Sembarang Orang

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengklaim, GP Ansor merupakan organisasi yang serius dan diberkahi. Karena itu, tak bisa dijadikan sebagai alat uji coba oleh siapa pun.

Gus Yaqut  menjelaskan beberapa syarat yang mesti dimiliki, jika ingin menjadi pimpinan di GP Ansor.

“Menjadi ketua umum atau menjadi pimpinan di GP Ansor itu haruslah kader-kader yang sudah teruji dan memiliki rekam jejak yang jelas. Tanpa syarat itu, tidak mungkin dan kita tidak rela kalau organisasi yang penuh berkah ini nanti dipimpin oleh mereka yang memang tidak memiliki jejak sejarah sedikit pun di organisasi besar ini,” tegas Gus Yaqut dalam Peringatan Nuzulul Quran dan Hari Lahir (Harlah) ke-87 Ansor, Sabtu (24/4) malam.

Lantaran berbagai cita-cita, garis perjuangan, dan tujuan yang tidak pernah berubah sejak 87 tahun lalu sampai saat ini, Gus Yaqut dengan tegas melarang organisasi Ansor ini dipimpin oleh sembarang orang.

“Tidak boleh dipimpin oleh mereka yang tidak memiliki jejak sedikit pun terhadap organisasi yang kita cintai. Harus jelas kiprah dan sejarahnya selama di Ansor seperti apa,” tegas Gus Yaqut.

Pada momentum tersebut, Gus Menteri Agama ini juga menjelaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Iqra atau bacalah. Sebuah kalimat perintah agar manusia mau membaca. Namun, cara pemaknaan yang dilakukan Ansor terhadap ayat itu berbeda dengan kelompok-kelompok lain.

Menurutnya, kelompok-kelompok tekstualis memaknai Iqra hanyalah sebatas kalimat perintah untuk membaca, tanpa makna yang lain. Sementara Ansor memaknai Iqra bukan hanya sekadar membaca, tapi mengkaji dan mendalami.

“Jadi melakukan kerja-kerja kemanusiaan, semua ini harus Iqra, membaca situasi. Membaca bukan hanya yang tertulis, bukan hanya yang tersurat, tetapi juga membaca yang tersirat,” terang Gus Yaqut.

Lebih lanjut, ia meyakinkan bahwa arah yang sedang dituju para kader Ansor sudah benar yakni mengabdi atau berkhidmah kepada kiai dan NKRI. Itulah perkhidmatan yang sudah benar dan diharapkan tidak pernah lepas dan luntur dari diri para kader Ansor.

“Kita selalu meyakini bahwa perjuangan kita ini selalu atau tidak pernah bergerak dari melindungi kiai dan menjaga NKRI. Melindungi kiai itu wajib karena telah menjaga moral kita,” ujar Gus Yaqut.

Menurutnya, para kiai telah mendidik dan menjadi benteng pertahanan kader Ansor di tengah gerusan arus informasi serta budaya yang membanjir sangat deras, hingga nyaris tidak memiliki filter atau penyaring. “Filter yang kita miliki hanya kiai, maka kita wajib melindungi kiai,” tegasnya.

Begitu pula dengan kewajiban menjaga NKRI. Ditegaskannya, Ansor tidak pernah bergeser sedikit pun dari upaya menjaga negeri ini. Sebab diyakini, NKRI bisa berdiri tegak hingga saat ini adalah hasil perjuangan dari para kiai terdahulu.

“Hasil perjuangan kiai-kiai itu artinya adalah harga diri buat kita. Ada yang menginjak-injak harga diri kita, maka dia akan berhadap-hadapan dengan kita, Barisan Ansor Serbaguna dan Gerakan Pemuda Ansor,” ujarnya.

Untuk diketahui, acara peringatan Harlah ke-87 Ansor tahun ini telah menjadi rangkaian podcast sejak Ahad (18/4) lalu di kanal Youtube Gerakan Pemuda Ansor. Podcast tersebut dilangsungkan selama 87 jam dengan menampilkan berbagai diskusi dari seluruh PW GP Ansor se-Indonesia.

Puncaknya, Harlah ke-87 Ansor tersebut dirangkai dengan peringatan Nuzulul Quran secara terbatas dengan mematuhi protokol kesehatan yang sangat ketat. Acara berlangsung dengan sederhana dihadiri oleh sebagian pengurus harian PP GP Ansor dan hadir pula tokoh habaib Betawi Habib Salim bin Shalahuddin bin Salim bin Jindan.

Sebagian pengurus harian PP GP Ansor dan seluruh pengurus serta kader Ansor se-Indonesia mengikuti peringatan puncak Harlah ke-87 itu secara virtual. Baik melalui aplikasi zoom maupun menyaksikan langsung lewat media sosial resmi Ansor (Banser). [FAQ]

]]> Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengklaim, GP Ansor merupakan organisasi yang serius dan diberkahi. Karena itu, tak bisa dijadikan sebagai alat uji coba oleh siapa pun.

Gus Yaqut  menjelaskan beberapa syarat yang mesti dimiliki, jika ingin menjadi pimpinan di GP Ansor.

“Menjadi ketua umum atau menjadi pimpinan di GP Ansor itu haruslah kader-kader yang sudah teruji dan memiliki rekam jejak yang jelas. Tanpa syarat itu, tidak mungkin dan kita tidak rela kalau organisasi yang penuh berkah ini nanti dipimpin oleh mereka yang memang tidak memiliki jejak sejarah sedikit pun di organisasi besar ini,” tegas Gus Yaqut dalam Peringatan Nuzulul Quran dan Hari Lahir (Harlah) ke-87 Ansor, Sabtu (24/4) malam.

Lantaran berbagai cita-cita, garis perjuangan, dan tujuan yang tidak pernah berubah sejak 87 tahun lalu sampai saat ini, Gus Yaqut dengan tegas melarang organisasi Ansor ini dipimpin oleh sembarang orang.

“Tidak boleh dipimpin oleh mereka yang tidak memiliki jejak sedikit pun terhadap organisasi yang kita cintai. Harus jelas kiprah dan sejarahnya selama di Ansor seperti apa,” tegas Gus Yaqut.

Pada momentum tersebut, Gus Menteri Agama ini juga menjelaskan bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah adalah Iqra atau bacalah. Sebuah kalimat perintah agar manusia mau membaca. Namun, cara pemaknaan yang dilakukan Ansor terhadap ayat itu berbeda dengan kelompok-kelompok lain.

Menurutnya, kelompok-kelompok tekstualis memaknai Iqra hanyalah sebatas kalimat perintah untuk membaca, tanpa makna yang lain. Sementara Ansor memaknai Iqra bukan hanya sekadar membaca, tapi mengkaji dan mendalami.

“Jadi melakukan kerja-kerja kemanusiaan, semua ini harus Iqra, membaca situasi. Membaca bukan hanya yang tertulis, bukan hanya yang tersurat, tetapi juga membaca yang tersirat,” terang Gus Yaqut.

Lebih lanjut, ia meyakinkan bahwa arah yang sedang dituju para kader Ansor sudah benar yakni mengabdi atau berkhidmah kepada kiai dan NKRI. Itulah perkhidmatan yang sudah benar dan diharapkan tidak pernah lepas dan luntur dari diri para kader Ansor.

“Kita selalu meyakini bahwa perjuangan kita ini selalu atau tidak pernah bergerak dari melindungi kiai dan menjaga NKRI. Melindungi kiai itu wajib karena telah menjaga moral kita,” ujar Gus Yaqut.

Menurutnya, para kiai telah mendidik dan menjadi benteng pertahanan kader Ansor di tengah gerusan arus informasi serta budaya yang membanjir sangat deras, hingga nyaris tidak memiliki filter atau penyaring. “Filter yang kita miliki hanya kiai, maka kita wajib melindungi kiai,” tegasnya.

Begitu pula dengan kewajiban menjaga NKRI. Ditegaskannya, Ansor tidak pernah bergeser sedikit pun dari upaya menjaga negeri ini. Sebab diyakini, NKRI bisa berdiri tegak hingga saat ini adalah hasil perjuangan dari para kiai terdahulu.

“Hasil perjuangan kiai-kiai itu artinya adalah harga diri buat kita. Ada yang menginjak-injak harga diri kita, maka dia akan berhadap-hadapan dengan kita, Barisan Ansor Serbaguna dan Gerakan Pemuda Ansor,” ujarnya.

Untuk diketahui, acara peringatan Harlah ke-87 Ansor tahun ini telah menjadi rangkaian podcast sejak Ahad (18/4) lalu di kanal Youtube Gerakan Pemuda Ansor. Podcast tersebut dilangsungkan selama 87 jam dengan menampilkan berbagai diskusi dari seluruh PW GP Ansor se-Indonesia.

Puncaknya, Harlah ke-87 Ansor tersebut dirangkai dengan peringatan Nuzulul Quran secara terbatas dengan mematuhi protokol kesehatan yang sangat ketat. Acara berlangsung dengan sederhana dihadiri oleh sebagian pengurus harian PP GP Ansor dan hadir pula tokoh habaib Betawi Habib Salim bin Shalahuddin bin Salim bin Jindan.

Sebagian pengurus harian PP GP Ansor dan seluruh pengurus serta kader Ansor se-Indonesia mengikuti peringatan puncak Harlah ke-87 itu secara virtual. Baik melalui aplikasi zoom maupun menyaksikan langsung lewat media sosial resmi Ansor (Banser). [FAQ]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories