Goyangan Eksternal Demokrat Maluku Utara Berhasil Dipatahkan

Wakil Ketua I DPD Partai Demokrat Maluku Utara (Malut) Hendra Karianga mengamini adanya dugaan intervensi pihak eksternal untuk menggoyang kepemimpinan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di Malut, goyangan itu dipastikan gagal.

“Di Malut, ada 4 DPC, dan Sekertaris DPD di undang ke sana, tapi apa isi pembicaraan saya tidak tahu,” ujar Hendra melalui keterangannya kepada RM.id, Jumat (19/2).

Para pengurus, katanya, diajak bertemu orang yang disebutnya eksternal ke Jakarta. Tidak hanya dari Malut, ada juga dari Kalimantan dan Sumatera. Meski begitu, Hendra meyakini jika pertemuan itu bertujuan menggulingkan kepemimpinan AHY. Pasti gagal.

Ukurannya, Partai Demokrat memiliki konstitusi ihwal pergantian kepemimpinan yang hanya diperbolehkan setiap lima tahun. AHY terpilih secara demokratis di Kongres V Partai Demokrat, Maret 2020.

“Apakah semudah itu bisa diganti? Menurut saya tidak. Karena, harus ada keadaan terjadi yang sifatnya luar biasa,” sebutnya.

Pendiri Partai Demokrat Malut ini menganalisa, pihak eksternal tidak memahami konstitusi di Partai Demokrat. Pasalnya, tidak ada permasalahan partai yang besar khususnya di tingkat pusat. Selain itu, Demokrat juga sedang fokus dan solid menatap Pemilu 2024.

“Terus terang, setelah SBY tidak lagi ketua umum, kita kehilangan sebenarnya. Figur kepemimpinan. Nah, AHY ini generasi muda yang punya potensi untuk memimpin bangsa ini. Kenapa tidak diberikan kesempatan. Kita kembalikan lagi kejayaan Demokrat seperti 2004,” ujarnya.

Nah, bagaimana nasib mereka yang bertemu pihak eksternal

“Saya yakin akan diberi sanksi tegas. Karena itu merusak alam demokrasi kita. Dan bisa merusak demokrasi internal. Bayangkan saja kapal yang berjalan baik mau distop di tengah jalan,” tegasnya.

Meski begitu, Hendra tidak menampik kondisi Demokrat Malut tidak dalam kondisi baik-baik saja. Bukan soal loyalitas terhadap AHY-SBY. Tetapi kinerja partai yang menurutnya kurang maksimal menyentuh rakyat Malut. Hendra menyebutnya Demokrat Malut, mati suri.

“Saya fikir masih mati suri, konsolidasi internal tidak bekerja, infrastruktur partai tidak dibentuk, sehingga seperti orang kehilangan arah. Sudah terpecah belah. Ketua DPD sendiri tidak pernah melakukan konsolidasi internal,” keluhnya.

Sekalipun menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Kaderisasi, baginya tidak bisa maksimal jika tidak ada hentakan dari Ketua DPD. Dia tidak menampik, ada usulan yang berangkat dari kerinduan Demokrat Malut atas kepemimpinan Hendra menempati lagi posisi Ketua DPD Malut.

“Karena ada penyampaian permohonan tertulis juga. Dari DPC agar saya bersedia untuk menakhodahi kembali Partai Demokrat ini. Untuk sukses 2024. Karena saya punya pengalaman,” katanya. [BSH]

]]> Wakil Ketua I DPD Partai Demokrat Maluku Utara (Malut) Hendra Karianga mengamini adanya dugaan intervensi pihak eksternal untuk menggoyang kepemimpinan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di Malut, goyangan itu dipastikan gagal.

“Di Malut, ada 4 DPC, dan Sekertaris DPD di undang ke sana, tapi apa isi pembicaraan saya tidak tahu,” ujar Hendra melalui keterangannya kepada RM.id, Jumat (19/2).

Para pengurus, katanya, diajak bertemu orang yang disebutnya eksternal ke Jakarta. Tidak hanya dari Malut, ada juga dari Kalimantan dan Sumatera. Meski begitu, Hendra meyakini jika pertemuan itu bertujuan menggulingkan kepemimpinan AHY. Pasti gagal.

Ukurannya, Partai Demokrat memiliki konstitusi ihwal pergantian kepemimpinan yang hanya diperbolehkan setiap lima tahun. AHY terpilih secara demokratis di Kongres V Partai Demokrat, Maret 2020.

“Apakah semudah itu bisa diganti? Menurut saya tidak. Karena, harus ada keadaan terjadi yang sifatnya luar biasa,” sebutnya.

Pendiri Partai Demokrat Malut ini menganalisa, pihak eksternal tidak memahami konstitusi di Partai Demokrat. Pasalnya, tidak ada permasalahan partai yang besar khususnya di tingkat pusat. Selain itu, Demokrat juga sedang fokus dan solid menatap Pemilu 2024.

“Terus terang, setelah SBY tidak lagi ketua umum, kita kehilangan sebenarnya. Figur kepemimpinan. Nah, AHY ini generasi muda yang punya potensi untuk memimpin bangsa ini. Kenapa tidak diberikan kesempatan. Kita kembalikan lagi kejayaan Demokrat seperti 2004,” ujarnya.

Nah, bagaimana nasib mereka yang bertemu pihak eksternal

“Saya yakin akan diberi sanksi tegas. Karena itu merusak alam demokrasi kita. Dan bisa merusak demokrasi internal. Bayangkan saja kapal yang berjalan baik mau distop di tengah jalan,” tegasnya.

Meski begitu, Hendra tidak menampik kondisi Demokrat Malut tidak dalam kondisi baik-baik saja. Bukan soal loyalitas terhadap AHY-SBY. Tetapi kinerja partai yang menurutnya kurang maksimal menyentuh rakyat Malut. Hendra menyebutnya Demokrat Malut, mati suri.

“Saya fikir masih mati suri, konsolidasi internal tidak bekerja, infrastruktur partai tidak dibentuk, sehingga seperti orang kehilangan arah. Sudah terpecah belah. Ketua DPD sendiri tidak pernah melakukan konsolidasi internal,” keluhnya.

Sekalipun menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Kaderisasi, baginya tidak bisa maksimal jika tidak ada hentakan dari Ketua DPD. Dia tidak menampik, ada usulan yang berangkat dari kerinduan Demokrat Malut atas kepemimpinan Hendra menempati lagi posisi Ketua DPD Malut.

“Karena ada penyampaian permohonan tertulis juga. Dari DPC agar saya bersedia untuk menakhodahi kembali Partai Demokrat ini. Untuk sukses 2024. Karena saya punya pengalaman,” katanya. [BSH]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories