Gobel: Kurangi Impor, RI Harus Mandiri Di Bidang Kesehatan

Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel mengatakan, Indonesia harus mandiri di bidang kesehatan. Mulai dari pengadaan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan.

Hal tersebut dikatakan Gobel menanggapi pidato kenegaraan Presiden Jokowi di DPR, Senin (16/8). Pada kesempatan itu, Jokowi mengatakan, kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus dipecahkan. Jokowi juga mendorong perluasan akses pasar bagi produk-produk dalam negeri.

Gobel sangat mendukung kebijakan dan pernyataan Presiden tersebut. Menurutnya, kasus pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.

“Ketergantungan kita terhadap impor obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan telah menjadikan kita kesulitan untuk mendapatkannya, harganya menjadi mahal, dan yang utama mengancam nyawa rakyat kita,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/8).

Politisi NasDem itu menilai, isu kesehatan telah menyangkut ketahanan nasional serta kedaulatan bangsa dan negara. Pandemi ini, katanya, juga telah memperlihatkan bahwa infrastruktur dan ekosistem kesehatan Indonesia ternyata tak kuat.

Karena itu, Gobel mengatakan, merdeka dan mandiri di bidang kesehatan tersebut harus dijabarkan lebih lanjut dengan menyiapkan infrastruktur dan ekosistemnya seperti regulasi, riset, investasi, industri kesehatan, layanan kesehatan, dan sumberdaya manusia. “Indonesia juga kaya bahan baku. Belanda dulu menjajah Indonesia karena mencari rempah-rempah dan herbal. Itu kan bagian dari dunia kesehatan juga,” katanya.

Gobel meminta, pemerintah untuk bertindak nyata agar pidato Presiden menjadi terwujud. Caranya dengan mendorong investor untuk berinvestasi di bidang-bidang tersebut dengan memberikan kemudahan.

Jika sudah ada industri dalam negeri yang memproduksi obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan maka pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri. “Harus ada pemihakan dan pengawalan khusus. Sehingga jangan sampai tong kosong nyaring bunyinya. Kadang-kadang ini masalah di tingkat pelaksana yang tidak memahami visi Presiden,” katanya.

Selanjutnya Gobel menyampaikan empat poin yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, Indonesia harus mandiri dan merdeka di bidang kesehatan. Dari kasus pandemi Covid-19 ini, kata dia, diperlihatkan jika Indonesia sangat tergantung pada impor untuk pengadaan obat, vaksin, dan alat kesehatan.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah membangun industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan secara mandiri. “Berikan insentif, lakukan perlindungan, dan berikan kemudahan terhadap industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan dalam negeri,” katanya.

Kedua, ketergantungan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan selain berdampak pada harga yang mahal dan menghabiskan devisa, juga menghadapi risiko kelangkaan di saat membutuhkannya. Inilah salah satu faktor yang membuat nyawa melayang. Lanskap dunia ke depan, setelah pandemi Covid-19, masih didominasi oleh masalah kesehatan.

“Indonesia telah berkali-kali menjadi korban dari penyakit akibat virus ini seperti flu burung, flu babi, dan sebagainya. Ini bukan hanya merongrong kesehatan rakyat tapi juga menggerus kualitas SDM, mengganggu ketahanan nasional, dan menggoyahkan ekonomi nasional,” bebernya.

Ketiga, kata Gobel, program “Bangga Buatan Indonesia” jangan hanya menjadi slogan kosong dan menjadi tong kosong nyaring bunyinya jika tak dikawal dengan baik. Presiden telah membuat regulasi dan membuat kebijakan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), namun semua itu butuh pengawalan di lapangan, khususnya dalam belanja pemerintah, belanja BUMN, dan dalam proyek-proyek pemerintah.

“Harus ada pemihakan dan pengawalan agar produk dalam negeri berdaulat di negerinya sendiri,” katanya.

Keempat, penguatan industri dalam negeri ini selain bisa mengubah Indonesia dari negara konsumen menjadi negara produsen. Dari bangsa pedagang ke negara pencipta. kata Gobel, hal ini akan memberikan kebanggaan, harga diri, dan juga menyerap tenaga kerja serta meningkatkan kualitas SDM Indonesia. “Membangun industru itu bukan hanya soal tenaga kerja tapi kemampuan mencipta suatu produk,” tukasnya. [DIT]

]]> Wakil Ketua DPR, Rachmat Gobel mengatakan, Indonesia harus mandiri di bidang kesehatan. Mulai dari pengadaan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan.

Hal tersebut dikatakan Gobel menanggapi pidato kenegaraan Presiden Jokowi di DPR, Senin (16/8). Pada kesempatan itu, Jokowi mengatakan, kemandirian industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan masih menjadi kelemahan serius yang harus dipecahkan. Jokowi juga mendorong perluasan akses pasar bagi produk-produk dalam negeri.

Gobel sangat mendukung kebijakan dan pernyataan Presiden tersebut. Menurutnya, kasus pandemi Covid-19 harus menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia.

“Ketergantungan kita terhadap impor obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan telah menjadikan kita kesulitan untuk mendapatkannya, harganya menjadi mahal, dan yang utama mengancam nyawa rakyat kita,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (17/8).

Politisi NasDem itu menilai, isu kesehatan telah menyangkut ketahanan nasional serta kedaulatan bangsa dan negara. Pandemi ini, katanya, juga telah memperlihatkan bahwa infrastruktur dan ekosistem kesehatan Indonesia ternyata tak kuat.

Karena itu, Gobel mengatakan, merdeka dan mandiri di bidang kesehatan tersebut harus dijabarkan lebih lanjut dengan menyiapkan infrastruktur dan ekosistemnya seperti regulasi, riset, investasi, industri kesehatan, layanan kesehatan, dan sumberdaya manusia. “Indonesia juga kaya bahan baku. Belanda dulu menjajah Indonesia karena mencari rempah-rempah dan herbal. Itu kan bagian dari dunia kesehatan juga,” katanya.

Gobel meminta, pemerintah untuk bertindak nyata agar pidato Presiden menjadi terwujud. Caranya dengan mendorong investor untuk berinvestasi di bidang-bidang tersebut dengan memberikan kemudahan.

Jika sudah ada industri dalam negeri yang memproduksi obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan maka pemerintah harus mengutamakan produk dalam negeri. “Harus ada pemihakan dan pengawalan khusus. Sehingga jangan sampai tong kosong nyaring bunyinya. Kadang-kadang ini masalah di tingkat pelaksana yang tidak memahami visi Presiden,” katanya.

Selanjutnya Gobel menyampaikan empat poin yang harus menjadi perhatian pemerintah. Pertama, Indonesia harus mandiri dan merdeka di bidang kesehatan. Dari kasus pandemi Covid-19 ini, kata dia, diperlihatkan jika Indonesia sangat tergantung pada impor untuk pengadaan obat, vaksin, dan alat kesehatan.

Menurut dia, sudah saatnya pemerintah membangun industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan secara mandiri. “Berikan insentif, lakukan perlindungan, dan berikan kemudahan terhadap industri obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan dalam negeri,” katanya.

Kedua, ketergantungan obat, vaksin, dan alat-alat kesehatan selain berdampak pada harga yang mahal dan menghabiskan devisa, juga menghadapi risiko kelangkaan di saat membutuhkannya. Inilah salah satu faktor yang membuat nyawa melayang. Lanskap dunia ke depan, setelah pandemi Covid-19, masih didominasi oleh masalah kesehatan.

“Indonesia telah berkali-kali menjadi korban dari penyakit akibat virus ini seperti flu burung, flu babi, dan sebagainya. Ini bukan hanya merongrong kesehatan rakyat tapi juga menggerus kualitas SDM, mengganggu ketahanan nasional, dan menggoyahkan ekonomi nasional,” bebernya.

Ketiga, kata Gobel, program “Bangga Buatan Indonesia” jangan hanya menjadi slogan kosong dan menjadi tong kosong nyaring bunyinya jika tak dikawal dengan baik. Presiden telah membuat regulasi dan membuat kebijakan tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), namun semua itu butuh pengawalan di lapangan, khususnya dalam belanja pemerintah, belanja BUMN, dan dalam proyek-proyek pemerintah.

“Harus ada pemihakan dan pengawalan agar produk dalam negeri berdaulat di negerinya sendiri,” katanya.

Keempat, penguatan industri dalam negeri ini selain bisa mengubah Indonesia dari negara konsumen menjadi negara produsen. Dari bangsa pedagang ke negara pencipta. kata Gobel, hal ini akan memberikan kebanggaan, harga diri, dan juga menyerap tenaga kerja serta meningkatkan kualitas SDM Indonesia. “Membangun industru itu bukan hanya soal tenaga kerja tapi kemampuan mencipta suatu produk,” tukasnya. [DIT]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories