Ghosting Menerpa Banowati

Istilah ghosting sedang ngetren beberapa hari terakhir ini. Ghosting berarti menghilang tanpa bekas mirip hantu atau demit. Seperti orang sedang pacaran diputus pasangannya tanpa alasan jelas. Ghosting tidak selamanya tentang percintaan. Tidak memberikan respons WA kepada teman atau kolega termasuk ghosting. Ada beberapa faktor seseorang menghilang tanpa pesan. Pertama, perasaan malas untuk berempati terhadap masalah yang sedang dihadapi kolega. Kedua, sebagian orang menganggap konflik adalah hal tabu dan harus dihindari (avoid conflict). Maka dengan menghilang dianggap jalan tengah yang mudah dilakukan tanpa risiko.

Putus cinta merupakan hal yang lumrah bagi orang dewasa. Karena keduanya belum terikat oleh status pernikahan. Biasanya ada beberapa tahapan sebelum mereka naik ke pelaminan. Tahapan jatuh cinta atau penjajagan. Pada fase jatuh cinta semua terasa indah dan menyenangkan karena pengaruh “hormon cinta”. Ada rasa rindu sedih semua berbaur menjadi satu. Fase berikutnya adalah kedua pasangan membangun kepercayaan dan komitmen bersama. Pada fase ini sangat krusial karena potensi munculnya beragam konflik. Kalau pasangan mampu menghadapi konflik maka hubungan akan berlanjut sampai ke jenjang pelaminan.

“Romo Semar pakar juga untuk urusan asmara,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar kurang semangat untuk menanggapi komentar anaknya Petruk. Romo Semar sedang prihatin dan sedih dengan semakin sengitnya perebutan ketua umum partai. Kegaduhan ini bukan saja menguras energi kita yang sedang menghadapi pandemi. Kalau tidak cepat diselesaikan, konflik ini berpotensi memecah-belah sesama anak bangsa. Diperlukan keteladanan dan kearifan dalam berpolitik.

Kopi pahit dan jadah bakar ikut menemani sarapan Romo Semar. Tidak ketinggalan rokok klobot dan klembak menyan mengharumkan pagi yang dingin. Romo Semar flash back ke zaman kandasnya kisah cinta Arjuna dan Banowati.

Kocap kacarito, Arjuna atau Harjuna mutung dan sedih mendengar kabar kalau Banowati akan melangsungkan pernikahannya dengan Prabu Duryudana, raja Hastina. Padahal, sebelumnya antara Arjuna dan Banowati sudah saling berjanji untuk hidup semati. Keduanya telah merajut asmara sejak lama. Maka begitu Prabu Salya memutuskan untuk menikahkan dengan Prabu Duryudana, Banowati merasa hidupnya tidak ada artinya lagi. Jalinan kasih yang selama ini dibina dengan penuh harapan hilang tanpa bekas.

Perkawinan antara Prabu Duryudana dan Banowati merupakan strategi politik Hastina dalam rangka memperkuat sekutu dalam menghadapi perang Baratayuda kelak. Duryudana akan memberikan jabatan strategis kepada Prabu Salya jika merestui perkawinannya dengan Banowati. Padahal sebelumnya Banowati sudah dihadiahkan kepada Arjuna atas jasa dan pengorbanannya melawan musuh Mandaraka dari serangan raja Tirta Kadasan. Sebagai orang tua Banowati, Prabu Salya mengingkari janjinya kepada Arjuna.

Banowati bersedia menikah dengan Prabu Duryudana tetapi dengan syarat sebelum naik ke pelaminan didampingi Arjuna. Bukan itu saja, Arjuna harus didapuk sebagai perias pengantin putri dan bersedia melakukan ritual mandi kembang bersama. Kedua syarat ini ditolak mentah-mentah oleh Prabu Duryudana. Api cemburu Duryudana tidak bisa dibendung mendengar ritual Arjuna dan Banowati harus mandi bersama sebelum ke pelaminan.

“Banowati memang bukan jodohnya Arjuna, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Ada tiga hal manusia tidak berwenang untuk mengetahuinya. Yaitu urusan jodoh, mati, dan rezeki,” jawab Romo Semar, pendek. Termasuk suratan menjadi ratu, semua orang boleh berencana. Tetapi keputusan akhir tetap di tangan Yang Maha Kuasa. Oye

]]> Istilah ghosting sedang ngetren beberapa hari terakhir ini. Ghosting berarti menghilang tanpa bekas mirip hantu atau demit. Seperti orang sedang pacaran diputus pasangannya tanpa alasan jelas. Ghosting tidak selamanya tentang percintaan. Tidak memberikan respons WA kepada teman atau kolega termasuk ghosting. Ada beberapa faktor seseorang menghilang tanpa pesan. Pertama, perasaan malas untuk berempati terhadap masalah yang sedang dihadapi kolega. Kedua, sebagian orang menganggap konflik adalah hal tabu dan harus dihindari (avoid conflict). Maka dengan menghilang dianggap jalan tengah yang mudah dilakukan tanpa risiko.

Putus cinta merupakan hal yang lumrah bagi orang dewasa. Karena keduanya belum terikat oleh status pernikahan. Biasanya ada beberapa tahapan sebelum mereka naik ke pelaminan. Tahapan jatuh cinta atau penjajagan. Pada fase jatuh cinta semua terasa indah dan menyenangkan karena pengaruh “hormon cinta”. Ada rasa rindu sedih semua berbaur menjadi satu. Fase berikutnya adalah kedua pasangan membangun kepercayaan dan komitmen bersama. Pada fase ini sangat krusial karena potensi munculnya beragam konflik. Kalau pasangan mampu menghadapi konflik maka hubungan akan berlanjut sampai ke jenjang pelaminan.

“Romo Semar pakar juga untuk urusan asmara,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar kurang semangat untuk menanggapi komentar anaknya Petruk. Romo Semar sedang prihatin dan sedih dengan semakin sengitnya perebutan ketua umum partai. Kegaduhan ini bukan saja menguras energi kita yang sedang menghadapi pandemi. Kalau tidak cepat diselesaikan, konflik ini berpotensi memecah-belah sesama anak bangsa. Diperlukan keteladanan dan kearifan dalam berpolitik.

Kopi pahit dan jadah bakar ikut menemani sarapan Romo Semar. Tidak ketinggalan rokok klobot dan klembak menyan mengharumkan pagi yang dingin. Romo Semar flash back ke zaman kandasnya kisah cinta Arjuna dan Banowati.

Kocap kacarito, Arjuna atau Harjuna mutung dan sedih mendengar kabar kalau Banowati akan melangsungkan pernikahannya dengan Prabu Duryudana, raja Hastina. Padahal, sebelumnya antara Arjuna dan Banowati sudah saling berjanji untuk hidup semati. Keduanya telah merajut asmara sejak lama. Maka begitu Prabu Salya memutuskan untuk menikahkan dengan Prabu Duryudana, Banowati merasa hidupnya tidak ada artinya lagi. Jalinan kasih yang selama ini dibina dengan penuh harapan hilang tanpa bekas.

Perkawinan antara Prabu Duryudana dan Banowati merupakan strategi politik Hastina dalam rangka memperkuat sekutu dalam menghadapi perang Baratayuda kelak. Duryudana akan memberikan jabatan strategis kepada Prabu Salya jika merestui perkawinannya dengan Banowati. Padahal sebelumnya Banowati sudah dihadiahkan kepada Arjuna atas jasa dan pengorbanannya melawan musuh Mandaraka dari serangan raja Tirta Kadasan. Sebagai orang tua Banowati, Prabu Salya mengingkari janjinya kepada Arjuna.

Banowati bersedia menikah dengan Prabu Duryudana tetapi dengan syarat sebelum naik ke pelaminan didampingi Arjuna. Bukan itu saja, Arjuna harus didapuk sebagai perias pengantin putri dan bersedia melakukan ritual mandi kembang bersama. Kedua syarat ini ditolak mentah-mentah oleh Prabu Duryudana. Api cemburu Duryudana tidak bisa dibendung mendengar ritual Arjuna dan Banowati harus mandi bersama sebelum ke pelaminan.

“Banowati memang bukan jodohnya Arjuna, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Ada tiga hal manusia tidak berwenang untuk mengetahuinya. Yaitu urusan jodoh, mati, dan rezeki,” jawab Romo Semar, pendek. Termasuk suratan menjadi ratu, semua orang boleh berencana. Tetapi keputusan akhir tetap di tangan Yang Maha Kuasa. Oye
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories