Gerakan Gotong Royong Anies Bersama Warga Tangani Banjir Diapresiasi .

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dinilai, mampu menggerakan gotong royong warga dan petugas Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi banjir Jakarta. 

Kolaburasi antara warga korban banjir dengan Pemprov DKI tercipta dengan elegan. 

Hal ini ditegaskan, Sekretaris Nasional Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Adjie Rimbawan dikutip dalam siaran persnya, Senin (22/2). 

Diketahui, hujan deras yang terjadi dan menggenangi Kota Jakarta sejak, Sabtu (20/2) menjadi perhatian publik. Banjir yang disebabkan oleh derasnya curah hujan yang mencapai 200 mm itu ternyata bukan hanya terjadi di Jakarta, tapi di Bekasi, Tangerang, bahkan Kota Bandung.

Padahal dari data yang disisir oleh Rekan Indonesia, luas area yang tergenang hanya 4 Km per segi atau tidak mencapai 1% dari total luas DKI Jakarta.

“Tapi yang menarik adalah, Anies dibully habis-habisan. Ada kesan banyak pihak sedang mencari panggung untuk mendompleng bencana,” tegas Adjie. 

Namun bully kata Adjie, tidak mendapat respon terutama warga DKI yang menjadi korban banjir. Warga DKI yang nota bene rata-rata memiliki pengetahuan tinggi dan lebih dewasa serta bijaksana menyikapi musibah banjir tersebut, dengan tidak mengeluarkan sumpah serapah. Seakan banjir tersebut kesalahan satu orang saja. 

“Bahkan banjir ini menggerakan warga DKI untuk bahu membahu atau gotong royong dengan Pemprov DKI menanggulangi musibah banjir. Kolaburasi yang konkrit, di mana warga DKI tidak hanya menunggu, tapi juga ikut berperan aktif bersama Pemprov menganggulangi musibah banjir ini,” beber Adjie.

Dari pantauan Rekan Indonesia, menurut Adjie, kolaburasi warga dengan Pemprov DKI di lokasi banjir sangat nyata. 

Bukan hanya saat banjir terjadi, saat surut pun warga tanpa diperintah ikut juga bergabung melakukan bersih-bersih dilingkungannya bersama petugas lintas dinas Pemprov DKI.

Rekan Indonesia yang berada di lokasi bencana lanjut Adjie kalau warga yang menjadi korban banjir menganggap sebagai musibah dan tidak ada yang menganggap ini sebagai kesalahan Pemprov DKI.

“Posko-posko pengungsian yang dirikan di lokasi banjir menangkap pesan kalau warga tidak terpengaruh terhadap musibah. Di periode 2016, kami pernah punya pengalaman di mana untuk membawa korban banjir yang sakit saja menunggu ambulan gawa darurat  (AGD) lama. Kalau sekarang cepat ditangani,” terangnya.

Adjie mengingatkan, kepada para politisi untuk tidak mengambil keuntungan politik di tengah musibah banjir. Bagi para politisi serangan yang dilancarkan bukan tanpa tujuan. 

“Mereka sudah membuat kalkulasi politik yang berpotensi melahirkan keuntungan. Keuntungan politik adalah meningkatkan pengaruh sang politisi di tengah publik,” tambah Adjie. [MFA]
 

]]> .
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dinilai, mampu menggerakan gotong royong warga dan petugas Pemprov DKI Jakarta dalam menghadapi banjir Jakarta. 

Kolaburasi antara warga korban banjir dengan Pemprov DKI tercipta dengan elegan. 

Hal ini ditegaskan, Sekretaris Nasional Relawan Kesehatan (Rekan) Indonesia, Adjie Rimbawan dikutip dalam siaran persnya, Senin (22/2). 

Diketahui, hujan deras yang terjadi dan menggenangi Kota Jakarta sejak, Sabtu (20/2) menjadi perhatian publik. Banjir yang disebabkan oleh derasnya curah hujan yang mencapai 200 mm itu ternyata bukan hanya terjadi di Jakarta, tapi di Bekasi, Tangerang, bahkan Kota Bandung.

Padahal dari data yang disisir oleh Rekan Indonesia, luas area yang tergenang hanya 4 Km per segi atau tidak mencapai 1% dari total luas DKI Jakarta.

“Tapi yang menarik adalah, Anies dibully habis-habisan. Ada kesan banyak pihak sedang mencari panggung untuk mendompleng bencana,” tegas Adjie. 

Namun bully kata Adjie, tidak mendapat respon terutama warga DKI yang menjadi korban banjir. Warga DKI yang nota bene rata-rata memiliki pengetahuan tinggi dan lebih dewasa serta bijaksana menyikapi musibah banjir tersebut, dengan tidak mengeluarkan sumpah serapah. Seakan banjir tersebut kesalahan satu orang saja. 

“Bahkan banjir ini menggerakan warga DKI untuk bahu membahu atau gotong royong dengan Pemprov DKI menanggulangi musibah banjir. Kolaburasi yang konkrit, di mana warga DKI tidak hanya menunggu, tapi juga ikut berperan aktif bersama Pemprov menganggulangi musibah banjir ini,” beber Adjie.

Dari pantauan Rekan Indonesia, menurut Adjie, kolaburasi warga dengan Pemprov DKI di lokasi banjir sangat nyata. 

Bukan hanya saat banjir terjadi, saat surut pun warga tanpa diperintah ikut juga bergabung melakukan bersih-bersih dilingkungannya bersama petugas lintas dinas Pemprov DKI.

Rekan Indonesia yang berada di lokasi bencana lanjut Adjie kalau warga yang menjadi korban banjir menganggap sebagai musibah dan tidak ada yang menganggap ini sebagai kesalahan Pemprov DKI.

“Posko-posko pengungsian yang dirikan di lokasi banjir menangkap pesan kalau warga tidak terpengaruh terhadap musibah. Di periode 2016, kami pernah punya pengalaman di mana untuk membawa korban banjir yang sakit saja menunggu ambulan gawa darurat  (AGD) lama. Kalau sekarang cepat ditangani,” terangnya.

Adjie mengingatkan, kepada para politisi untuk tidak mengambil keuntungan politik di tengah musibah banjir. Bagi para politisi serangan yang dilancarkan bukan tanpa tujuan. 

“Mereka sudah membuat kalkulasi politik yang berpotensi melahirkan keuntungan. Keuntungan politik adalah meningkatkan pengaruh sang politisi di tengah publik,” tambah Adjie. [MFA]
 
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories