Genjot Desa Agrowisata, BOPLBF Tingkatkan Kapasitas Sumber Daya Manusia .

Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina mengatakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor agrowisata kopi menjadi kebutuhan sangat mendesak untuk meningkatkan produktivitas olahan kopi, atraksi agrowisata dan pengembangan desa wisata. Hal ini akan berujung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami sedang mengembangkan desa agrowisata kopi di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. BOPLBF bersinergi dengan pemerintah daerah,  asosiasi petani kopi, dan para pemangku kepentingan di sektor agrowisata untuk menciptakan sumber daya andal,” kata Shana melalui keterangan tertulis, Kamis (25/3).

Menurutnya, sinergitas itu dilakukan BOPLBF dengan mengadakan benchmarking ke sejumlah kota di Pulau Jawa. Antara lain, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah dengan mengikutsertakan perwakilan pemerintah, yakni Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur,  Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai (APEKAM), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Ini bertujuan meningkatkan kapasitas SDM di sektor agrowisata kopi. 

Di  Kota Magelang, lanjut Shana, para peserta berkunjung ke MesaStila Resort yang berlokasi di dalam kawasan kebun kopi seluas 22 hektare. 

MesaStila yang kini dikenal sebagai Kebun Kopi Karangrejo, beroperasi sejak tahun 1920. Pemiliknya saat itu adalah Gustav van Der Swaan, orang Indonesia keturunan Belanda. 

Di kebun Kopi Karangrejo ditanami empat jenis kopi, yaitu  Robusta, Arabika, Liberica /Excelsa dan Jawa yang dipanen setahun sekali.   

Selain Magelang, para peserta juga akan mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Banyuwangi (Jawa Timur) dan Jember (Jawa Timur). 

“Kami melakukan benchmarking  ke Magelang, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Jember. Diharapkan kegiatan ini menjadi titik awal pengembangan desa wisata. Khususnya agrowisata kopi, sehingga akan tercipta pengembangan produk olahan kopi dan  atraksi dari agrowisatanya,” jelas Shana.

Dia mengaku, saat ini BOPLBF sedang mempersiapkan pengembangan desa wisata di segmentasi agrowisata kopi. SDM yang ada dapat menjalankan fungsi koordinasi,  pemasaran, promosi dan pengaturan harga serta penyediaan informasi. 

“Operasionalnya, kami serahkan kepada  masyarakat setempat,” kata Shana.

Dia berharap melalui program benchmarking, para peserta dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan menerapkannya di desa wisata masing-masing. 

“Kita sama-sama belajar, baik melalui pemaparan maupun diskusi. Kami berharap materi yang telah disajikan dapat menjadi ilmu pengetahuan yang berharga untuk diterapkan  dalam mengembangkan agrowisata kopi di Labuan Bajo – Flores,” harap Shana. [DWI]

]]> .
Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores (BOPLBF) Shana Fatina mengatakan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) di sektor agrowisata kopi menjadi kebutuhan sangat mendesak untuk meningkatkan produktivitas olahan kopi, atraksi agrowisata dan pengembangan desa wisata. Hal ini akan berujung pada pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Kami sedang mengembangkan desa agrowisata kopi di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur. BOPLBF bersinergi dengan pemerintah daerah,  asosiasi petani kopi, dan para pemangku kepentingan di sektor agrowisata untuk menciptakan sumber daya andal,” kata Shana melalui keterangan tertulis, Kamis (25/3).

Menurutnya, sinergitas itu dilakukan BOPLBF dengan mengadakan benchmarking ke sejumlah kota di Pulau Jawa. Antara lain, Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah dengan mengikutsertakan perwakilan pemerintah, yakni Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur,  Asosiasi Petani Kopi Jahe Manggarai (APEKAM), Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Ini bertujuan meningkatkan kapasitas SDM di sektor agrowisata kopi. 

Di  Kota Magelang, lanjut Shana, para peserta berkunjung ke MesaStila Resort yang berlokasi di dalam kawasan kebun kopi seluas 22 hektare. 

MesaStila yang kini dikenal sebagai Kebun Kopi Karangrejo, beroperasi sejak tahun 1920. Pemiliknya saat itu adalah Gustav van Der Swaan, orang Indonesia keturunan Belanda. 

Di kebun Kopi Karangrejo ditanami empat jenis kopi, yaitu  Robusta, Arabika, Liberica /Excelsa dan Jawa yang dipanen setahun sekali.   

Selain Magelang, para peserta juga akan mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Banyuwangi (Jawa Timur) dan Jember (Jawa Timur). 

“Kami melakukan benchmarking  ke Magelang, Yogyakarta, Banyuwangi, dan Jember. Diharapkan kegiatan ini menjadi titik awal pengembangan desa wisata. Khususnya agrowisata kopi, sehingga akan tercipta pengembangan produk olahan kopi dan  atraksi dari agrowisatanya,” jelas Shana.

Dia mengaku, saat ini BOPLBF sedang mempersiapkan pengembangan desa wisata di segmentasi agrowisata kopi. SDM yang ada dapat menjalankan fungsi koordinasi,  pemasaran, promosi dan pengaturan harga serta penyediaan informasi. 

“Operasionalnya, kami serahkan kepada  masyarakat setempat,” kata Shana.

Dia berharap melalui program benchmarking, para peserta dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya dan menerapkannya di desa wisata masing-masing. 

“Kita sama-sama belajar, baik melalui pemaparan maupun diskusi. Kami berharap materi yang telah disajikan dapat menjadi ilmu pengetahuan yang berharga untuk diterapkan  dalam mengembangkan agrowisata kopi di Labuan Bajo – Flores,” harap Shana. [DWI]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories