Gelar Public Expose 2020, Indofarma Bukukan Kenaikan Penjualan 26 Persen .

PT Indofarma Tbk (Perseroan) menggelar Public Expose Tahunan,Tahun Buku 2020 diselenggarakan dalam rangka memenuhi Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi, butir V tentang Public Expose. Public Expose ini digelar di Hotel Fairmont Jakarta, Jl. Asia Afrika No.8, Jakarta, Kamis (20/5).

Pada Tahun 2020, Perseroan konsisten menerapkan kebijakan Turn Around Management sehingga diharapkan dapat memperkuat performa Perseroan.

Secara garis besar, terdapat 3 (tiga) fokus utama dalam Turn Around Management, yaitu mengutamakan pengembangan portofolio produk dan bisnis, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan optimalisasi kegiatan operasional.

Perseroan berhasil mencatatkan Penjualan Bersih sebesar Rp 1.715,59 miliar, meningkat sebesar Rp 356,41 miliar atau 26,22 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp 1.359,18 miliar.

Peningkatan Penjualan Bersih tersebut terutama ditopang dari penjualan segmen Alat Kesehatan dan Obat-obatan sesuai dengan strategi Turn Around Management.

Dari sisi pengendalian biaya, Perseroan berhasil menekan Beban Pokok Penjualan dari 81,58 persen di tahun 2019 menjadi 76,65 persen di tahun 2020 atau turun sebesar 4,93 persen.

Dengan dapat ditekannya Beban Pokok Penjualan, Perseroan mampu membukukan Gross Profit Margin Rp 400,59 miliar di tahun 2020 atau naik 60 persen dibandingkan dari tahun sebelumnya Rp 250,36 miliar.

Perseroan juga berhasil melakukan penghematan Beban Penjualan dan Beban Administrasi Umum terhadap Penjualan dari 16,79 persen di tahun 2019 menjadi 15,58 persen di tahun 2020.

Secara operasional, Perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja, baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi penghematan biaya sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp.164 miliar di tahun 2020 dibandingkan EBITDA tahun 2019 sebesar Rp 45 miliar atau tumbuh sebesar 364 persen.

Adanya penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 di tahun 2020, Perseroan membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp 38,50 miliar yang berdampak terhadap tergerusnya Laba Bersih Perseroan sehingga Perseroan hanya membukukan Laba Bersih sebesar Rp 30,00 juta.

Hal tersebut merupakan bagian dari aspek kepatuhan terhadap regulasi PSAK 71 dan tindakan prudent Perseroan. Pada Tahun 2021, Perseroan terus berupaya untuk menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. 

Strategi penguatan kinerja yang akan dilakukan Perseroan berfokus pada High-Performance Enterprises, Sales Portofolio Jakarta, 20 Mei 2021 Strategy, Product Portofolio Strategy, Supply Chain Management, Cash Flow Management, Human Capital Development, Business Process Alignment, dan Discipline of Execution. Dengan strategi tersebut, Perseroan berkeyakinan mampu mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan. [NOV]

]]> .
PT Indofarma Tbk (Perseroan) menggelar Public Expose Tahunan,Tahun Buku 2020 diselenggarakan dalam rangka memenuhi Peraturan Bursa Efek Indonesia Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Informasi, butir V tentang Public Expose. Public Expose ini digelar di Hotel Fairmont Jakarta, Jl. Asia Afrika No.8, Jakarta, Kamis (20/5).

Pada Tahun 2020, Perseroan konsisten menerapkan kebijakan Turn Around Management sehingga diharapkan dapat memperkuat performa Perseroan.

Secara garis besar, terdapat 3 (tiga) fokus utama dalam Turn Around Management, yaitu mengutamakan pengembangan portofolio produk dan bisnis, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan optimalisasi kegiatan operasional.

Perseroan berhasil mencatatkan Penjualan Bersih sebesar Rp 1.715,59 miliar, meningkat sebesar Rp 356,41 miliar atau 26,22 persen dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp 1.359,18 miliar.

Peningkatan Penjualan Bersih tersebut terutama ditopang dari penjualan segmen Alat Kesehatan dan Obat-obatan sesuai dengan strategi Turn Around Management.

Dari sisi pengendalian biaya, Perseroan berhasil menekan Beban Pokok Penjualan dari 81,58 persen di tahun 2019 menjadi 76,65 persen di tahun 2020 atau turun sebesar 4,93 persen.

Dengan dapat ditekannya Beban Pokok Penjualan, Perseroan mampu membukukan Gross Profit Margin Rp 400,59 miliar di tahun 2020 atau naik 60 persen dibandingkan dari tahun sebelumnya Rp 250,36 miliar.

Perseroan juga berhasil melakukan penghematan Beban Penjualan dan Beban Administrasi Umum terhadap Penjualan dari 16,79 persen di tahun 2019 menjadi 15,58 persen di tahun 2020.

Secara operasional, Perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja, baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi penghematan biaya sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp.164 miliar di tahun 2020 dibandingkan EBITDA tahun 2019 sebesar Rp 45 miliar atau tumbuh sebesar 364 persen.

Adanya penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 di tahun 2020, Perseroan membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp 38,50 miliar yang berdampak terhadap tergerusnya Laba Bersih Perseroan sehingga Perseroan hanya membukukan Laba Bersih sebesar Rp 30,00 juta.

Hal tersebut merupakan bagian dari aspek kepatuhan terhadap regulasi PSAK 71 dan tindakan prudent Perseroan. Pada Tahun 2021, Perseroan terus berupaya untuk menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. 

Strategi penguatan kinerja yang akan dilakukan Perseroan berfokus pada High-Performance Enterprises, Sales Portofolio Jakarta, 20 Mei 2021 Strategy, Product Portofolio Strategy, Supply Chain Management, Cash Flow Management, Human Capital Development, Business Process Alignment, dan Discipline of Execution. Dengan strategi tersebut, Perseroan berkeyakinan mampu mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan. [NOV]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories