Gelar Pernikahan Di Tengah Pandemi

Sudah beberapa undangan pernikahan saya terima di awal tahun ini, baik berbentuk hardcopy maupun softcopy. Ada acara pernikahan secara langsung dan ada juga yang secara virtual. Ada yang berhasil diadakan, ada juga yang batal.

Menggelar acara pernikahan di zaman Covid-19 pastinya berbeda. Pasalnya, penyelenggara tidak hanya memikirkan jumlah undangan, hidangan, dan dekorasi. Mereka juga harus mengurus izin boleh atau tidaknya acara digelar.

Dari beberapa undangan yang saya terima, ada beberapa yang mendadak gagal diadakan. Rata-rata alasannya karena nggak dapat izin dari pemimpin setempat.

“Mohon maaf, acara resepsinya batal ya. Kami tidak boleh adakan resepsi, khawatir ada kerumunan. Jadi acaranya hanya akad nikah saja,” bunyi salah satu pesan singkat yang saya terima.

Namun ada juga salah satu teman yang resepsinya gagal, namun karena dia sudah keluar biaya sewa dekorasi, tenda dan catering, dia nggak malu disampaikan di grup. “Maaf ya batal ngundang nih. Tapi kotak amplopnya masih ada kok. Hehe” ucapnya diikuti emot senyum.

Salah satu teman meresponnya, “Kenapa nggak diam-diam aja acaranya. Tetap paksain aja, sayang udah keluar kan uangnya.” Langsung dijawab sama yang punya acara, “Wah, nggak berani. Zaman medsos soalnya. Takut ada orang yang di tempat acara diam-diam tapi di medsos koar-koar. Takut dibubarin gue sama Satpol PP, malunya itu loh,” keluhnya.

Pernikahan memang acara sakral yang sebaiknya diumumkan ke khalayak namun bukan berarti harus mewah, menghaburkan banyak uang dan dihadiri banyak undangan. Beberapa orang saja, asalkan memenuhi rukun nikah, maka sudah sah menjadi suami istri.

Soal resepsi bisa disesuaikan dengan kondisi dan memanfaatkan teknologi. Sekarang banyak pernikahan disiarkan di Facebook, Instagram atau dengan zoom.

Bagi saya, jika ada ketakutan atau kegelisahan untuk melaksanakan pernikahan, maka sebaiknya ya ikuti saja aturannya. Toh kalau kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, nikah di era pandemi justru lebih hemat. Hemat undangan, catering dan sewa tenda atau gedung tidak perlu yang besar. Sehingga akan keluar kalimat syukur tak terhingga. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]

]]> Sudah beberapa undangan pernikahan saya terima di awal tahun ini, baik berbentuk hardcopy maupun softcopy. Ada acara pernikahan secara langsung dan ada juga yang secara virtual. Ada yang berhasil diadakan, ada juga yang batal.

Menggelar acara pernikahan di zaman Covid-19 pastinya berbeda. Pasalnya, penyelenggara tidak hanya memikirkan jumlah undangan, hidangan, dan dekorasi. Mereka juga harus mengurus izin boleh atau tidaknya acara digelar.

Dari beberapa undangan yang saya terima, ada beberapa yang mendadak gagal diadakan. Rata-rata alasannya karena nggak dapat izin dari pemimpin setempat.

“Mohon maaf, acara resepsinya batal ya. Kami tidak boleh adakan resepsi, khawatir ada kerumunan. Jadi acaranya hanya akad nikah saja,” bunyi salah satu pesan singkat yang saya terima.

Namun ada juga salah satu teman yang resepsinya gagal, namun karena dia sudah keluar biaya sewa dekorasi, tenda dan catering, dia nggak malu disampaikan di grup. “Maaf ya batal ngundang nih. Tapi kotak amplopnya masih ada kok. Hehe” ucapnya diikuti emot senyum.

Salah satu teman meresponnya, “Kenapa nggak diam-diam aja acaranya. Tetap paksain aja, sayang udah keluar kan uangnya.” Langsung dijawab sama yang punya acara, “Wah, nggak berani. Zaman medsos soalnya. Takut ada orang yang di tempat acara diam-diam tapi di medsos koar-koar. Takut dibubarin gue sama Satpol PP, malunya itu loh,” keluhnya.

Pernikahan memang acara sakral yang sebaiknya diumumkan ke khalayak namun bukan berarti harus mewah, menghaburkan banyak uang dan dihadiri banyak undangan. Beberapa orang saja, asalkan memenuhi rukun nikah, maka sudah sah menjadi suami istri.

Soal resepsi bisa disesuaikan dengan kondisi dan memanfaatkan teknologi. Sekarang banyak pernikahan disiarkan di Facebook, Instagram atau dengan zoom.

Bagi saya, jika ada ketakutan atau kegelisahan untuk melaksanakan pernikahan, maka sebaiknya ya ikuti saja aturannya. Toh kalau kita lihat dari sudut pandang yang berbeda, nikah di era pandemi justru lebih hemat. Hemat undangan, catering dan sewa tenda atau gedung tidak perlu yang besar. Sehingga akan keluar kalimat syukur tak terhingga. [Nana Maulana/Wartawan Rakyat Merdeka]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories