Gandeng BPPT, PAL Indonesia Bangun Sistem Peringatan Dini Tsunami .

PT PAL Indonesia (Persero) bersinergi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS), yakni sistem peringatan dini tsunami, guna meminimalisir dampak bencana yang akan muncul.

Sekretaris PAL Indonesia, Rariya Budi Harta mengatakan, melalui Divisi produksi di bidang Rekayasa Umum membangun TEWS dalam bentuk Buoy, yakni salah satu alat deteksi tsunami yang diapungkan di laut.

“Keberhasilan pembangunan Buoy tak terlepas dari pengalaman dalam pengembangan bangunan apung dan bertekanan,” ujarnya, Kamis (11/2).

Rencananya, Ina-TEWS akan ditempatkan di titik-titik rawan bencana seperti perairan selatan Jawa dan Sumatera, perairan utara Sulawesi dan Papua, Laut Flores dan Laut Banda.

Selama ini, Indonesia sudah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dikenal dengan istilah Ina-TEWS yang telah diluncurkan sejak November 2008. Di mana, Ina-TEWS memiliki dua sistem pemantauan, yakni sistem pemantauan darat terdiri dari jaringan seismometer broadband dan Global Positioning System (GPS).

Selain itu ada sistem pemantauan laut (sea monitoring system) terdiri atas buoy, tide gauge (alat pengukur perubahan permukaan laut secara mekanis dan otomatis), dan CCTV (Closed Circuit Television). “Ina-TEWS dapat mengolah informasi yang didapat dari sistem pemantauan darat dan laut tersebut dengan menggunakan perangkat Decision Support System (DSS) untuk menentukan apakah ada risiko tsunami setelah gempa,” terangnya.

Setelah data tersebut diverifikasi, maka peringatan dini tsunami pun bisa dikeluarkan. Karenanya, dengan Ina-TEWS, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mampu menerbitkan berita peringatan dini tsunami dalam kurun waktu lima menit setelah gempa bumi terjadi.

Kemudian diikuti beberapa kali berita pemutakhiran dan diakhiri berita ancaman tsunami telah berakhir. Adapun, berita peringatan dini berisi tingkat ancaman tsunami untuk wilayah dengan status “Awas”, “Siaga”, hingga “Waspada”.

 

Kepala BPPT, Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc mengatakan PT PAL telah lama menjadi mitra BPPT untuk merespon berbagai tantangan transformasi industri dalam membangun ekosistem inovasi. “Kami harap, PAL Indonesia bisa menjadi leader hilirisasi industri InaTEWS, sekaligus untuk mencapai kemandirian riset inovasi maupun industri,” harapnya.

Ia mengatakan hal ini akan sejalan dengan Peraturan Presiden (PerPres) No 93 Tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.

Seperti diketahui, Indonesia terletak di simpang pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu Indo-Australia di selatan, Eurasia di utara dan Pasifik di timur menghasilkan lebih dari 70 sesar aktif dan belasan zona subduksi.

Hal ini pula yang memunculkan jalur gempa dan rangkaian gunung aktif di seluruh Indonesia. Setidaknya ada empat sesar (patahan) yang aktif dan sangat berbahaya bagi Indonesia. Dengan kondisi geologi seperti itu, Indonesia menjadi salah satu negara rawan bencana di dunia.

Tercatat pada awal abad 21, Indonesia dilanda tsunami Aceh 2004 yang memakan korban hingga ratusan ribu jiwa. Lalu pada 2006, tsunami kembali terjadi di selatan pulau Jawa, 2007 di Bengkulu, 2010 di Kepulauan Mentawai, terakhir 2018 tsunami baru saja menerjang kota Palu, Sulawesi Tengah. [IMA]

]]> .
PT PAL Indonesia (Persero) bersinergi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengembangkan Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS), yakni sistem peringatan dini tsunami, guna meminimalisir dampak bencana yang akan muncul.

Sekretaris PAL Indonesia, Rariya Budi Harta mengatakan, melalui Divisi produksi di bidang Rekayasa Umum membangun TEWS dalam bentuk Buoy, yakni salah satu alat deteksi tsunami yang diapungkan di laut.

“Keberhasilan pembangunan Buoy tak terlepas dari pengalaman dalam pengembangan bangunan apung dan bertekanan,” ujarnya, Kamis (11/2).

Rencananya, Ina-TEWS akan ditempatkan di titik-titik rawan bencana seperti perairan selatan Jawa dan Sumatera, perairan utara Sulawesi dan Papua, Laut Flores dan Laut Banda.

Selama ini, Indonesia sudah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dikenal dengan istilah Ina-TEWS yang telah diluncurkan sejak November 2008. Di mana, Ina-TEWS memiliki dua sistem pemantauan, yakni sistem pemantauan darat terdiri dari jaringan seismometer broadband dan Global Positioning System (GPS).

Selain itu ada sistem pemantauan laut (sea monitoring system) terdiri atas buoy, tide gauge (alat pengukur perubahan permukaan laut secara mekanis dan otomatis), dan CCTV (Closed Circuit Television). “Ina-TEWS dapat mengolah informasi yang didapat dari sistem pemantauan darat dan laut tersebut dengan menggunakan perangkat Decision Support System (DSS) untuk menentukan apakah ada risiko tsunami setelah gempa,” terangnya.

Setelah data tersebut diverifikasi, maka peringatan dini tsunami pun bisa dikeluarkan. Karenanya, dengan Ina-TEWS, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mampu menerbitkan berita peringatan dini tsunami dalam kurun waktu lima menit setelah gempa bumi terjadi.

Kemudian diikuti beberapa kali berita pemutakhiran dan diakhiri berita ancaman tsunami telah berakhir. Adapun, berita peringatan dini berisi tingkat ancaman tsunami untuk wilayah dengan status “Awas”, “Siaga”, hingga “Waspada”.

 

Kepala BPPT, Dr. Ir. Hammam Riza, M.Sc mengatakan PT PAL telah lama menjadi mitra BPPT untuk merespon berbagai tantangan transformasi industri dalam membangun ekosistem inovasi. “Kami harap, PAL Indonesia bisa menjadi leader hilirisasi industri InaTEWS, sekaligus untuk mencapai kemandirian riset inovasi maupun industri,” harapnya.

Ia mengatakan hal ini akan sejalan dengan Peraturan Presiden (PerPres) No 93 Tahun 2019 tentang Penguatan dan Pengembangan Sistem Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami.

Seperti diketahui, Indonesia terletak di simpang pertemuan tiga lempeng aktif, yaitu Indo-Australia di selatan, Eurasia di utara dan Pasifik di timur menghasilkan lebih dari 70 sesar aktif dan belasan zona subduksi.

Hal ini pula yang memunculkan jalur gempa dan rangkaian gunung aktif di seluruh Indonesia. Setidaknya ada empat sesar (patahan) yang aktif dan sangat berbahaya bagi Indonesia. Dengan kondisi geologi seperti itu, Indonesia menjadi salah satu negara rawan bencana di dunia.

Tercatat pada awal abad 21, Indonesia dilanda tsunami Aceh 2004 yang memakan korban hingga ratusan ribu jiwa. Lalu pada 2006, tsunami kembali terjadi di selatan pulau Jawa, 2007 di Bengkulu, 2010 di Kepulauan Mentawai, terakhir 2018 tsunami baru saja menerjang kota Palu, Sulawesi Tengah. [IMA]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories