Foto-fotonya Dipajang Dipo Alam SBY Selalu Hormati Mega .

Panasnya elite PDIP dan Demokrat setelah Marzuki Alie membuka luka lama antara SBY dan Megawati buru-buru “didinginkan” Dipo Alam. Sekretaris Kabinet di era SBY ini, memberikan serangkaian bukti, sebenarnya hubungan SBY dan Mega, juga SBY dan keluarga Mega sangat harmonis. Saat masih menjabat Presiden, SBY selalu memberikan hormat ke Mega dan keluarganya.

Bukti-bukti kehangatan SBY dan Mega itu ditunjukkan Dipo lewat beragam rangkaian foto-foto yang di-share ke netizen lewat akun twitternya, @dipoalam49, Sabtu (20/2).

Ada banyak foto yang disajikan Dipo. Salah satu foto yang paling menarik, yakni momen Mega bersalaman dengan eks Presiden Amerika Serikat Barack Obama sambil disaksikan SBY yang sedang tersenyum. Foto itu merupakan peristiwa kunjungan Obama ke Indonesia, November 2010. Saat itu, SBY mengundang Mega ke Istana Negara untuk ikut menyambut kedatangan Obama.

Dalam keterangan tertulisnya, ada 10 cuitan yang dibuat Dipo. Di awal cuitannya, pria kelahiran Jakarta, 71 tahun silam ini, memulai dengan kalimat penegasan soal hubungan SBY dan Mega. “Pak SBY selalu hormat pada Bu Mega. Saya adalah saksinya. Berikut adalah cuplikan dari buku biografi saya yang akan terbit, “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin” (2021),” cuitnya.

Dalam cuitan selanjutnya, Dipo mulai menjelaskan bukti-bukti bahwa hubungan SBY dan Mega sangat harmonis. Mulai dari kedatangan Barack Obama. Saat itu, SBY memberi perintah khusus kepadanya dan Sudi Silalahi selaku Menteri Sekretaris Negara untuk menyambut kedatangan Mega dan alhamarhum suaminya, Taufik Kiemas yang saat itu menjabat sebagai ketua MPR.

“Itu adalah pertemuan spesial yang dibuat khusus untuk membuat Bu Mega happy. Saat itu Pak SBY sengaja mengatur agar yang menyambut keduanya adalah Mensesneg dan Seskab. Kalau saya melihat kembali foto-foto acara itu, terlihat jika Bu Mega banyak tersenyum lebar,” cuit Dipo.

Dipo menegaskan, tugas khusus kepadanya dan Sudi menunjukkan betapa SBY bukan tanpa upaya untuk membangun hubungan baik dengan Mega. Ini hanya satu dari beberapa upaya SBY dari beberapa upaya lainnya yang telah dilakukan.

Dia mencontohkan upaya lain SBY untuk membangun hubungan baik dengan Mega selama 10 tahun menjadi Presiden RI. Misalnya, mengangkat duta besar dari PDIP dan juga memberi pengakuan atas peran Mega sat meresmikan Jembatan Suramadu.

“Ketika meresmikan selesainya Pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dan Surabaya, secara khusus SBY dalam pidatonya menghormati dan menyatakan bahwa beliau meneruskan pembangunannya yang diinisiatifkan oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri,” tulis Dipo.

Selain dengan Mega, Dipo menyebut, SBY juga memiliki kedekatan dengan keluarga dari Ketum PDIP itu. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kali SBY bertemu dengan Taufik Kiemas di Istana Negara dalam suasana persahabatan dan kekeluargaan yang baik. Begitu juga sebaliknya, perlakuan yang diterimanya dari keluarga Mega dan PDIP juga baik.

Sebaliknya, keluarga Mega juga selama ini menunjukkan sikap yang baik dengan keluarga SBY. Contohnya, saat acara tahlilan 40 hari meninggalnya almarhum Ani Yudhoyono di Puri Cikeas. Saat itu, Puan Maharani datang mewakili keluarga untuk ikut pengajian dari awal sampai akhir. ”Mengesankan hubungan persahabatan kekeluargaan yang baik antara Presiden RI V Megawati dan VI SBY; mereka saling menghormati,” tulis Dipo.

Apa tanggapan PDIP? Politisi PDIP, Hendrawan Supatikno mengakui bahwa SBY memiliki hubungan baik dan cukup akrab dengan Taufik Kiemas. Bahkan, dengan dukungan SBY, Taufik Kiemas secara aklamasi menjadi Ketua MPR (2009-2014).

“Bagaimanapun, karena Bu Mega istri Pak TK, ada imbas dari hubungan baik tersebut,” katanya, kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (20/2).

Anggota DPR ini juga menyinggung soal sikap PDIP terhadap isu SBY-Mega yang saat ini berkembang. Menurutnya, PDIP tidak akan menghujat ataupun menyinggung siapapun, apalagi terhadap Presiden RI atau Kepala Negara.

“Saling hormat-menghormati merupakan fatsun politik. Hal itu juga yang selalu diajarkan Bu Mega. Kita tidak boleh menghujat siapa pun, apalagi bila menyangkut figur Presiden/Kepala Negara,” tegasnya. [QAR]

]]> .
Panasnya elite PDIP dan Demokrat setelah Marzuki Alie membuka luka lama antara SBY dan Megawati buru-buru “didinginkan” Dipo Alam. Sekretaris Kabinet di era SBY ini, memberikan serangkaian bukti, sebenarnya hubungan SBY dan Mega, juga SBY dan keluarga Mega sangat harmonis. Saat masih menjabat Presiden, SBY selalu memberikan hormat ke Mega dan keluarganya.

Bukti-bukti kehangatan SBY dan Mega itu ditunjukkan Dipo lewat beragam rangkaian foto-foto yang di-share ke netizen lewat akun twitternya, @dipoalam49, Sabtu (20/2).

Ada banyak foto yang disajikan Dipo. Salah satu foto yang paling menarik, yakni momen Mega bersalaman dengan eks Presiden Amerika Serikat Barack Obama sambil disaksikan SBY yang sedang tersenyum. Foto itu merupakan peristiwa kunjungan Obama ke Indonesia, November 2010. Saat itu, SBY mengundang Mega ke Istana Negara untuk ikut menyambut kedatangan Obama.

Dalam keterangan tertulisnya, ada 10 cuitan yang dibuat Dipo. Di awal cuitannya, pria kelahiran Jakarta, 71 tahun silam ini, memulai dengan kalimat penegasan soal hubungan SBY dan Mega. “Pak SBY selalu hormat pada Bu Mega. Saya adalah saksinya. Berikut adalah cuplikan dari buku biografi saya yang akan terbit, “Dalam Pusaran Adab Dipimpin dan Memimpin” (2021),” cuitnya.

Dalam cuitan selanjutnya, Dipo mulai menjelaskan bukti-bukti bahwa hubungan SBY dan Mega sangat harmonis. Mulai dari kedatangan Barack Obama. Saat itu, SBY memberi perintah khusus kepadanya dan Sudi Silalahi selaku Menteri Sekretaris Negara untuk menyambut kedatangan Mega dan alhamarhum suaminya, Taufik Kiemas yang saat itu menjabat sebagai ketua MPR.

“Itu adalah pertemuan spesial yang dibuat khusus untuk membuat Bu Mega happy. Saat itu Pak SBY sengaja mengatur agar yang menyambut keduanya adalah Mensesneg dan Seskab. Kalau saya melihat kembali foto-foto acara itu, terlihat jika Bu Mega banyak tersenyum lebar,” cuit Dipo.

Dipo menegaskan, tugas khusus kepadanya dan Sudi menunjukkan betapa SBY bukan tanpa upaya untuk membangun hubungan baik dengan Mega. Ini hanya satu dari beberapa upaya SBY dari beberapa upaya lainnya yang telah dilakukan.

Dia mencontohkan upaya lain SBY untuk membangun hubungan baik dengan Mega selama 10 tahun menjadi Presiden RI. Misalnya, mengangkat duta besar dari PDIP dan juga memberi pengakuan atas peran Mega sat meresmikan Jembatan Suramadu.

“Ketika meresmikan selesainya Pembangunan Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dan Surabaya, secara khusus SBY dalam pidatonya menghormati dan menyatakan bahwa beliau meneruskan pembangunannya yang diinisiatifkan oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri,” tulis Dipo.

Selain dengan Mega, Dipo menyebut, SBY juga memiliki kedekatan dengan keluarga dari Ketum PDIP itu. Hal itu dibuktikan dengan beberapa kali SBY bertemu dengan Taufik Kiemas di Istana Negara dalam suasana persahabatan dan kekeluargaan yang baik. Begitu juga sebaliknya, perlakuan yang diterimanya dari keluarga Mega dan PDIP juga baik.

Sebaliknya, keluarga Mega juga selama ini menunjukkan sikap yang baik dengan keluarga SBY. Contohnya, saat acara tahlilan 40 hari meninggalnya almarhum Ani Yudhoyono di Puri Cikeas. Saat itu, Puan Maharani datang mewakili keluarga untuk ikut pengajian dari awal sampai akhir. ”Mengesankan hubungan persahabatan kekeluargaan yang baik antara Presiden RI V Megawati dan VI SBY; mereka saling menghormati,” tulis Dipo.

Apa tanggapan PDIP? Politisi PDIP, Hendrawan Supatikno mengakui bahwa SBY memiliki hubungan baik dan cukup akrab dengan Taufik Kiemas. Bahkan, dengan dukungan SBY, Taufik Kiemas secara aklamasi menjadi Ketua MPR (2009-2014).

“Bagaimanapun, karena Bu Mega istri Pak TK, ada imbas dari hubungan baik tersebut,” katanya, kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (20/2).

Anggota DPR ini juga menyinggung soal sikap PDIP terhadap isu SBY-Mega yang saat ini berkembang. Menurutnya, PDIP tidak akan menghujat ataupun menyinggung siapapun, apalagi terhadap Presiden RI atau Kepala Negara.

“Saling hormat-menghormati merupakan fatsun politik. Hal itu juga yang selalu diajarkan Bu Mega. Kita tidak boleh menghujat siapa pun, apalagi bila menyangkut figur Presiden/Kepala Negara,” tegasnya. [QAR]
]]> .
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories