Firli Bahuri Masih Disorot Publik Nih…

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri terus menjadi sorotan publik. Hal ini terkait kasus Formula E, yang menyenggol Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Jauh sebelumnya, pada tahun 2020, Firli sudah nyenggol-nyenggol Anies Baswedan. Kala itu, Firli mengomentari foto viral Anies yang sedang membaca buku “How Democracies Die.”

Yamin Muhammad dalam akun Twitternya @yaminlamhaba mengunggah kembali dua potongan foto yang digabung dalam satu frame. Yaitu, Firli Bahuri dan Anies Baswedan yang sedang membaca buku berjudul “How Democracies Die.”

“Masalah bacaan saja bapak itu tugas­nya sudah selevel Abu Janda cs,” sindir @yaminlamhaba dalam caption-nya.

Bahkan, regime oppressor of the people dengan akun Twitter @1Agamano menggunggah potongan video Firli yang sedang ceramah di atas podium. Dalam video dengan lebel MajelisKopi itu, bos KPK tersebut mengomentari buku bacaan Anies Baswedan yang diselingi tawa.

Respons Firli tentang buku yang dibaca Anies itu sudah banyak di dunia maya. Detik.com mencatat respons Firli tersebut terselip dalam pidatonya di acara ‘Serah Terima Barang Rampasan KPK’, yang disiarkan di akun YouTube KPK, Selasa (24/11/2020).

Dari video yang diunggah @1Agamano, awalnya Firli membahas upaya pemberantasan korupsi. Namun, tiba-tiba mantan Kapolda Sumatera Selatan itu mengomentari foto viral Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang membaca buku berjudul “How Democracies Die.”

Dengan percaya diri, Firli mengaku sudah membaca buku tersebut dan buku berjudul “Why Nations Fail” pada 2002.

“Jadi kalau saya lihat ada di media, Pak Anies membaca How Democracies Die. Sebelum itu, bukunya ada Why Nations Fail, itu sudah lama saya baca. Tahun 2002 sudah baca buku itu. Jadi kalau ada yang baru baca sekarang, kayaknya baru ba…(tertawa). Sudah lama buku itu Pak,” kata Firli, kala itu.

 

Tak pelak, pengakuan Firli yang su­dah membaca buku How Democracies Die dan Why Nations Fail pada 2002 menuai sorotan. Pasalnya, kedua buku itu masing-masing baru terbit pada 2018 dan 2012.

Dalam video berlabel MajelisKopi yang diunggah @yaminlamhaba dijelas­kan, buku berjudul How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, baru diterbitkan pada 2018.

Sedangkan buku berjudul Why Nations Fail yang ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson terbit pada 2012.

“Masalah buku menjadi awal dari konfrontasi antara Ketua KPK Firli Bahuri dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sentimen sudah lama,” kata @jakpoes.

Akun @kakak_pembina masih teringat ucapan Firli yang nyinyirin Anies soal buku yang dibacanya. Kata dia, dalam momen pidato itu, tak ada kaitannya den­gan buku bacaan Anies Baswedan.

“Apa urusannya coba,” tanya @kakak_pembina. “Ada gerakan politik kotor yang sengaja ingin menjatuhkan Anies Baswedan sebagai calon presiden,” kata @Ive.

Akun @DjudjuP mengingatkan KPK. Kata dia, menjadikan hukum sebagai alat rekayasa merupakan pelanggaran etika dan hukum. [TIF]

]]> Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri terus menjadi sorotan publik. Hal ini terkait kasus Formula E, yang menyenggol Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Jauh sebelumnya, pada tahun 2020, Firli sudah nyenggol-nyenggol Anies Baswedan. Kala itu, Firli mengomentari foto viral Anies yang sedang membaca buku “How Democracies Die.”

Yamin Muhammad dalam akun Twitternya @yaminlamhaba mengunggah kembali dua potongan foto yang digabung dalam satu frame. Yaitu, Firli Bahuri dan Anies Baswedan yang sedang membaca buku berjudul “How Democracies Die.”

“Masalah bacaan saja bapak itu tugas­nya sudah selevel Abu Janda cs,” sindir @yaminlamhaba dalam caption-nya.

Bahkan, regime oppressor of the people dengan akun Twitter @1Agamano menggunggah potongan video Firli yang sedang ceramah di atas podium. Dalam video dengan lebel MajelisKopi itu, bos KPK tersebut mengomentari buku bacaan Anies Baswedan yang diselingi tawa.

Respons Firli tentang buku yang dibaca Anies itu sudah banyak di dunia maya. Detik.com mencatat respons Firli tersebut terselip dalam pidatonya di acara ‘Serah Terima Barang Rampasan KPK’, yang disiarkan di akun YouTube KPK, Selasa (24/11/2020).

Dari video yang diunggah @1Agamano, awalnya Firli membahas upaya pemberantasan korupsi. Namun, tiba-tiba mantan Kapolda Sumatera Selatan itu mengomentari foto viral Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang sedang membaca buku berjudul “How Democracies Die.”

Dengan percaya diri, Firli mengaku sudah membaca buku tersebut dan buku berjudul “Why Nations Fail” pada 2002.

“Jadi kalau saya lihat ada di media, Pak Anies membaca How Democracies Die. Sebelum itu, bukunya ada Why Nations Fail, itu sudah lama saya baca. Tahun 2002 sudah baca buku itu. Jadi kalau ada yang baru baca sekarang, kayaknya baru ba…(tertawa). Sudah lama buku itu Pak,” kata Firli, kala itu.

 

Tak pelak, pengakuan Firli yang su­dah membaca buku How Democracies Die dan Why Nations Fail pada 2002 menuai sorotan. Pasalnya, kedua buku itu masing-masing baru terbit pada 2018 dan 2012.

Dalam video berlabel MajelisKopi yang diunggah @yaminlamhaba dijelas­kan, buku berjudul How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, baru diterbitkan pada 2018.

Sedangkan buku berjudul Why Nations Fail yang ditulis oleh Daron Acemoglu dan James A. Robinson terbit pada 2012.

“Masalah buku menjadi awal dari konfrontasi antara Ketua KPK Firli Bahuri dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Sentimen sudah lama,” kata @jakpoes.

Akun @kakak_pembina masih teringat ucapan Firli yang nyinyirin Anies soal buku yang dibacanya. Kata dia, dalam momen pidato itu, tak ada kaitannya den­gan buku bacaan Anies Baswedan.

“Apa urusannya coba,” tanya @kakak_pembina. “Ada gerakan politik kotor yang sengaja ingin menjatuhkan Anies Baswedan sebagai calon presiden,” kata @Ive.

Akun @DjudjuP mengingatkan KPK. Kata dia, menjadikan hukum sebagai alat rekayasa merupakan pelanggaran etika dan hukum. [TIF]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka – RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories