Fadjroel Sarankan Publik Belajar Cara Mengkritik Dari Media

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, mengatakan, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari media. Salah satunya adalah cara menyampaikan kritik.

Fadjroel memastikan, Pemerintah selalu terbuka dengan semua kritik terhadap setiap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat. Hanya, kadang-kadang publik kurang tepat dalam hal menyampampaikannya. Sehingga, kritik itu sering menimbulkan polemik hingga berurusan dengan Polisi. Bisa karena ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan hal lain yang berpotensi pidana sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Publik mesti belajar pada media atau pers bagaimana cara menyampaikan informasi atau kritik,” kata Fadjroel, dalam perbincangan dengan RM.id, Rabu (10/2).

Menurut Fadjroel, media atau produk pers selalu kokoh pada kebenaran, akurasi, dan verifikasi. Sehingga bisa membedakan antara kritik dengan hoaks, fitnah, atau pencemaran nama baik.

Karena itu, lanjutnya, di era disrupsi informasi seperti sekarang, peran pers sangat strategis. Pers diharap bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga kewarasan digital. 

“Bahkan, dapat bertindak sebagai guru bangsa dalam literasi media digital di era revolusi digital. Selamat Hari Pers Nasional,” pungkasnya. [SAR]

]]> Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman, mengatakan, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari media. Salah satunya adalah cara menyampaikan kritik.

Fadjroel memastikan, Pemerintah selalu terbuka dengan semua kritik terhadap setiap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat. Hanya, kadang-kadang publik kurang tepat dalam hal menyampampaikannya. Sehingga, kritik itu sering menimbulkan polemik hingga berurusan dengan Polisi. Bisa karena ujaran kebencian, hoaks, fitnah, dan hal lain yang berpotensi pidana sesuai Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Publik mesti belajar pada media atau pers bagaimana cara menyampaikan informasi atau kritik,” kata Fadjroel, dalam perbincangan dengan RM.id, Rabu (10/2).

Menurut Fadjroel, media atau produk pers selalu kokoh pada kebenaran, akurasi, dan verifikasi. Sehingga bisa membedakan antara kritik dengan hoaks, fitnah, atau pencemaran nama baik.

Karena itu, lanjutnya, di era disrupsi informasi seperti sekarang, peran pers sangat strategis. Pers diharap bisa menjadi garda terdepan dalam menjaga kewarasan digital. 

“Bahkan, dapat bertindak sebagai guru bangsa dalam literasi media digital di era revolusi digital. Selamat Hari Pers Nasional,” pungkasnya. [SAR]
]]> . Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories