EWINDO Dorong Milenial Terjun Ke Bisnis Pertanian

Sektor pertanian terbukti paling tahan terhadap krisis ekonomi, termasuk akibat pandemi Covid-19. Atas dasar itu, perusahaan benih sayuran PT East West Seed Indonesia (EWINDO) atau dikenal dengan “Cap Panah Merah” menggelar webinar bertajuk “Peluang Petani Millenial di Era Digital”, Selasa (23/3).

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian upaya EWINDO untuk mendorong generasi milenial terjun di bisnis pertanian. Webinar mengundang Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang diwakili Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jawa Barat Benny Bachtiar. Webinar dihadiri Managing Director EWINDO Glenn Pardede, sejumlah pengembang aplikasi pertanian, perbankan, akademisi, dan petani milenial dari seluruh Indonesia.

Glenn Pardede mengatakan, perusahaannya memiliki komitmen kuat untuk mendorong milenial masuk di bisnis pertanian. Sebagai perusahaan yang selama puluhan tahun mendampingi petani sayuran di Indonesia, EWINDO telah melakukan sejumlah strategi agar generasi muda tertarik menekuni bisnis pertanian. 

Langkah yang sudah dilakukan antara lain, pembinaan dan pendampingan petani muda di berbagai daerah, pemanfaatan teknologi informasi dan pengembangan aplikasi pertanian Sipindo, serta membangun jejaring antara petani dengan pasar modern. “Tahun ini kami menargetkan untuk membina sekitar 500 petani milenial yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.

Selain pendampingan, kata Glenn, ada transfer teknologi dan akses terhadap benih sayuran yang berkualitas tinggi melalui aplikasi SIPINDO. Dengan ini, mereka dapat mengelola bisnis pertanian dengan lebih baik dan semakin menguntungkan, dan diharapkan akan menular ke generasi muda lainnya. 

Selain itu, kata Glenn, perusahaannya juga mengembangkan Panah Merah Store untuk memudahkan petani, termasuk petani urban, mendapatkan benih asli secara online. “Karenanya, kami sangat mendukung program 5.000 petani milenial yang dicanangkan Pemprov Jabar sebagai salah satu upaya untuk mendorong minat anak muda untuk menjadi petani yang pada akhirnya untuk meningkatkan jumlah petani,” jelasnya.

Glenn menambahkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), petani muda Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya 2,7 juta orang, atau sekitar 8 persen dari total petani yang sebanyak 33,4 juta orang. “Sektor pertanian mengalami krisis regenerasi karena berkurangnya peminat anak-anak muda di bidang pertanian,” imbuhnya.

Padahal, berdasarkan hasil penelitian The Economist Intelligence Unit (EIU) mengenai sektor usaha yang terdampak krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, sektor pertanian terbukti terkena dampak paling kecil dibandingkan yang lain. Hal ini terjadi karena dampak dari pembatasan sosial relatif minimal pada sektor pertanian, walaupun masih ada risiko dari disrupsi rantai penawaran (supply chain) dan terpuruknya permintaan. 

Akibat pandemi, EIU merevisi pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 3,0 persen menjadi -1,5 persen (terkoreksi -4,5 persen), sektor jasa sebesar 7,2 persen menjadi 2,4 persen (terkoreksi -4,8 persen), dan pertumbuhan sektor pertanian hanya direvisi dari 4,1 persen menjadi 3,2 persen (-0,9 persen). Selain itu, kata Glenn, sejarah krisis di Indonesia, misalnya krisis moneter 1997-1998 juga menyisakan catatan relatif bertahannya sektor pertanian dan bahkan menampung kembali tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di perkotaan. 

Menurut data BPS, penjualan benih dan pot mengalami peningkatan masif sebesar 1.000 persen dari 100 ribu unit di masa sebelum pandemi menjadi 1,1 juta unit selama pandemi. “Nampaknya, peran sektor pertanian sebagai sektor penyangga (buffer sector) di masa krisis terulang kembali pada resesi dunia dan pandemi Covid-19 yang masih kita alami hingga saat ini,” pungkasnya. [TIF]

]]> Sektor pertanian terbukti paling tahan terhadap krisis ekonomi, termasuk akibat pandemi Covid-19. Atas dasar itu, perusahaan benih sayuran PT East West Seed Indonesia (EWINDO) atau dikenal dengan “Cap Panah Merah” menggelar webinar bertajuk “Peluang Petani Millenial di Era Digital”, Selasa (23/3).

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian upaya EWINDO untuk mendorong generasi milenial terjun di bisnis pertanian. Webinar mengundang Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang diwakili Kepala Biro Perekonomian Pemprov Jawa Barat Benny Bachtiar. Webinar dihadiri Managing Director EWINDO Glenn Pardede, sejumlah pengembang aplikasi pertanian, perbankan, akademisi, dan petani milenial dari seluruh Indonesia.

Glenn Pardede mengatakan, perusahaannya memiliki komitmen kuat untuk mendorong milenial masuk di bisnis pertanian. Sebagai perusahaan yang selama puluhan tahun mendampingi petani sayuran di Indonesia, EWINDO telah melakukan sejumlah strategi agar generasi muda tertarik menekuni bisnis pertanian. 

Langkah yang sudah dilakukan antara lain, pembinaan dan pendampingan petani muda di berbagai daerah, pemanfaatan teknologi informasi dan pengembangan aplikasi pertanian Sipindo, serta membangun jejaring antara petani dengan pasar modern. “Tahun ini kami menargetkan untuk membina sekitar 500 petani milenial yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.

Selain pendampingan, kata Glenn, ada transfer teknologi dan akses terhadap benih sayuran yang berkualitas tinggi melalui aplikasi SIPINDO. Dengan ini, mereka dapat mengelola bisnis pertanian dengan lebih baik dan semakin menguntungkan, dan diharapkan akan menular ke generasi muda lainnya. 

Selain itu, kata Glenn, perusahaannya juga mengembangkan Panah Merah Store untuk memudahkan petani, termasuk petani urban, mendapatkan benih asli secara online. “Karenanya, kami sangat mendukung program 5.000 petani milenial yang dicanangkan Pemprov Jabar sebagai salah satu upaya untuk mendorong minat anak muda untuk menjadi petani yang pada akhirnya untuk meningkatkan jumlah petani,” jelasnya.

Glenn menambahkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), petani muda Indonesia yang berusia 20-39 tahun hanya 2,7 juta orang, atau sekitar 8 persen dari total petani yang sebanyak 33,4 juta orang. “Sektor pertanian mengalami krisis regenerasi karena berkurangnya peminat anak-anak muda di bidang pertanian,” imbuhnya.

Padahal, berdasarkan hasil penelitian The Economist Intelligence Unit (EIU) mengenai sektor usaha yang terdampak krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19, sektor pertanian terbukti terkena dampak paling kecil dibandingkan yang lain. Hal ini terjadi karena dampak dari pembatasan sosial relatif minimal pada sektor pertanian, walaupun masih ada risiko dari disrupsi rantai penawaran (supply chain) dan terpuruknya permintaan. 

Akibat pandemi, EIU merevisi pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 3,0 persen menjadi -1,5 persen (terkoreksi -4,5 persen), sektor jasa sebesar 7,2 persen menjadi 2,4 persen (terkoreksi -4,8 persen), dan pertumbuhan sektor pertanian hanya direvisi dari 4,1 persen menjadi 3,2 persen (-0,9 persen). Selain itu, kata Glenn, sejarah krisis di Indonesia, misalnya krisis moneter 1997-1998 juga menyisakan catatan relatif bertahannya sektor pertanian dan bahkan menampung kembali tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di perkotaan. 

Menurut data BPS, penjualan benih dan pot mengalami peningkatan masif sebesar 1.000 persen dari 100 ribu unit di masa sebelum pandemi menjadi 1,1 juta unit selama pandemi. “Nampaknya, peran sektor pertanian sebagai sektor penyangga (buffer sector) di masa krisis terulang kembali pada resesi dunia dan pandemi Covid-19 yang masih kita alami hingga saat ini,” pungkasnya. [TIF]
]]>.
Sumber : Rakyat Merdeka RM.ID .

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Categories